by

Rita Handayani: Kesetaraan Gender, Kemuliaan Bagi Perempuan?

-Opini-60 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Diciptakan alam pria dan wanita. Dua makhluk jaya asuhan dewata. Ditakdirkan bahwa pria berkuasa. Adapun wanita lemah lembut manja

Lirik lagu yang berjudul sabda alam di atas yang populer tahun 1959 dinyatakan oleh sebagian pihak sebagai jalan untuk melanggengkan pandangan patriarki yakni sistem sosial yang memaknai bahwa laki-laki lebih kuat daripada perempuan, sehingga ia layak mendominasi peran kepemimpinan atas wanita.

Selain itu lirik lagu di atas seolah mengungkapkan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah, lembut juga manja menjadikannya selalu kalah dalam persaingan di ranah sosial termasuk di tempat kerja.

Sebagaimana kasus pahit yang dialami Elitha Tri Novianty, karyawati di salah satu perusahaan ini terpaksa harus melakukan operasi kuret yakni pengangkatan jaringan dari dalam rahimnya pada bulan Februari lalu. Akibat dari pendarahan hebat karena bobot pekerjaannya yang ekstrim, yang merupakan tuntutan perusahaan di tengah kepemilikan riwayat penyakit endometriosisnya. (theconversation.com, 13/12/2020)

Wanita berusia 25 tahun ini mengaku, sebenarnya sudah menjelaskan ke HRD terkait penyakit endometriosis yang diidapnya menyebabkan tidak bisa bekerja dengan beban yang berat.  Lalu meminta pindah devisi, namun perusahaan mengancam akan memberhentikannya. (theconversation.com, 13/12/2020)

Selain itu menurut juru bicara F-SEDAR (Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan), Sarinah – mengatakan bahwa dari tahun 2019 sampai saat ini terdapat banyak kasus terkait buruh perempuan di antaranya, keguguran 15 kasus dan 6 kasus bayi yang dilahirkan tidak bernyawa, cuti haid yang sudah diatur undang-undang pun dipersulit oleh perusahaan, juga lalainya jaminan perusahaan akan keselamatan kerja para buruh perempuan, mengakibatkan para buruh rentan mengalami pelecehan dan kekerasan seksual. (theconversation.com, 13/12/2020)

Ketidakadilan yang dialami buruh perempuan berimbas pada tindakan semena-mena dan kezaliman terhadap hak-hak mereka. Menyulut perjuangan kaum buruh dan pegiat gender perempuan untuk mengubah kondisi. Merekapun menyalahkan budaya patriarki yang masih kental di sektor perusahaan dan penuntutan kesetaraan gender menjadi senjata andalan untuk mengatasi kasus para buruh perempuan.

Upaya mensejajarkan peran perempuan dengan laki-laki di ranah sosial hanya akan menjatuhkan marwah perempuan, apatah lagi jika ia sudah bergelar sebagai Ibu.

Peran utama yang dititahkan Tuhan penciptanya sebagai warobatul bait (manager rumah tangga) juga sebagai madrasatul ula (sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya) dan yang tak kalah pentingnya adalah peran Ibu sebagai pencetak generasi unggul peradaban – tergerus dan hancur.

Perempuan dibuat sibuk oleh sistem kapitalisme dengan gaya hidup glamour dan konsumtif mengakibatkan perempuan harus keluar rumah untuk bekerja. Adapula perempuan bekerja karena memang kebutuhan pokoknya tak terpenuhi dengan layak, juga ada yang bertukar peran dengan suaminya, suami menjaga anak-anak dan mengurus rumah sedangkan istri bekerja di luar rumah. Amazing!

Padahal dengan menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja di luar rumah hingga larut malam, selain peran sebagai Ibu, pengurus rumah tangga, pendidik pertama dan utama juga pencetak generasi unggul menjadi luntur. Perempuanpun kerap ternodai marwahnya, dengan tindakan asusila dan pelecahan seksual.

Kemuliaan Perempuan Hanya Bersama Islam.

Ide kesetaraan gender mendorong kaum perempuan berkiprah di ranah sosial untuk bekerja. Setelah sebelumnya pintu dibuka lebar-lebar oleh para kapitalis untuk mengeksploitasi dan memeras keringat perempuan dengan balasan finansial yang tidak sebanding.

Islam sangat menjaga dan menghargai martabat, kehormatan, Kemuliaan seorang perempuan sehingga tidak dibebani mencari nafkah untuk diri dan anak-anaknya. Nafkah diri perempuan ditanggung oleh para walinya.

Jika ia memilik suami maka suaminya yang bertanggung jawab untuk menafkahi. Maka dalam Islam negara punya peran besar untuk memantaskan kemampuan para lelaki dalam ilmu, pendidikan dan keahlian serta membuka kran lapangan kerja untuk para lelaki bukan untuk perempuan.

Jika perempuan tidak memiliki suami maka yang berkewajiban memberinya nafkah adalah keluarganya, ayah, adik laki-laki yang sudah baligh dan bekerja, kakak laki-laki, juga pamannya. Jika mereka tidak mampu untuk menafkahi maka peran itu diambil alih oleh negara.

Dalam Islam, negara menanggung semua kebutuhan perempuan. Sehingga kewajiban perempuan tetap bisa ditunaikan dengan baik tanpa harus terkendala materi dan bekerja.

Namun bukan berarti perempuan tidak boleh bekerja secara total. Perempuan tetap bisa menyalurkan minat dan kemampuannya untuk bekerja dengan tujuan bukan karena mencari penghidupan karena negara sudah mencukupi keberadaan para perempuan. Jadi tujuan perempuan bekerja adalah untuk mengabdi dan mencerdaskan umat.

Hanya dengan Islam wanita bisa mulia, dan terjaga marwahnya, terpenuhi kebutuhannya, kembali kepada fitrahnya seperti yang ditentukan ole syara.

Perempuan butuh Islam dan syariatnya untuk ditetapkan sebagai aturan bernegara. Sehingga perempuan akan merasakan kebaikan-kebaikan hidup bersama aturan Islam. Wallahu a’lam bishshawab.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + 10 =

Rekomendasi Berita