by

Ruang Imagi E-KTP Bagi Transgender Alias Kaum Pelangi 

-Opini-35 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Kesulitan para trasnsgender dalam mengurus e-KTP dan administrasi lainnya beberapa waktu lalu sempat menjadi berita hangat dan heboh di masyarakat.

Bila dirujuk hal tersebut terjadi karena para transgender masih berada di luar ruang exclusive dan persimpangan sebuah tatanan sosial yang berlaku di masyarakat kita.

Pilihan sebagai transgender memiliki resiko tersendiri terkait adminitrasi kependudukan.

Sebagai negara mayoritas berpenduduk muslim, perilaku dan eksistensi transgender yang semakin besar tentu menjadi sebuah pertanyaan besar yang juga digarisbawahi karena melanggar norma agama dan sosial.

Kesulitan dalam mengakses layanan publik dan mengurus administrasi menjadi masalah yang dialami mereka, hal tersebut disampaikan oleh Hartoyo (ketua Perkumpulan Suara Kita) dalam rapat virtual Direktoran Jenderal Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kemendagri dengan Perkumpulan Suara Kita dan direspon pejabat negeri dengan memberi dukunagan untuk kemudahan para transgender dengan pembuatan e-KTP di masa yang akan datang. (pikiranrakyat.com, 25/4/2021).

Melihat maksud dari pejabat negeri ini memiliki niat baik untuk membantu seluruh watrga mempermudah administrasi, khususnya dalam kepengurusan e-KTP setiap warga negaranya. Sehingga, patut diapresiasi pelayanan masyarakat dalam menjalani tugasnya.

Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah akar masalahnya, perlu digarisbawahi mengapa kesulitan transgender terjadi? Bagaimana negara menyikapi mnasalah ini? Adakah solusi masalah transgender ini?

Hidup dalam lingkup sistem kapitalis menjadi sebuah tantangan besar di dalamnya. Sistem yang melahirkan sistem berikutnya seperti liberalisme dan sekulerisme. Dalam sistem ini pemikiran yang salah bisa diangap benar dan pemikiran yang benar bisa dianggap salah oleh mereka.

Sebuah sistem hasil pemikiran manusia banyak ditemukan kekurangan, kecacatan dan kerusakan di dalamnya. Aturan-aturan yang ada tentu akan dibuat senyaman dan sefleksible mungkin sesuai dengan yang diinginkannya.

Begitupun isu transgender ini, dalam sistem liberalisme telah menjadikan perilaku penyimpangan seksual ini sebuah permisivisme dari ketidaknormalan dan pengingkaran atas fitrah dan takdir yang telah Allah tetapkan. Karena jelas dalam QS. Al-Hujurat : 13 Allah swt berfirman: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui Maha teliti.” (QS. Al-Hujurat : 13).

Nyatanya, atas nama HAM dan kebebasan inilah transgender merasa memiliki hak dalam menentukan kehidupan atas tubuh mereka sendiri termasuk memilih gender dan orientasi seksualnya. Kebebasan yang kebablasan telah menjadikan salah kaprah menilai ketetapan Allah swt dengan perilaku menyimpang yang dilaknat oleh-Nya.

Sehingga perlunya solusi tuntas dan melihat akar masalah sebenarnya, yaitu menghapuskan transgender sebagai gender dan jenis kelamin yang berubah-ubah karena orientasi seksual yang menyimpang.

Jika saja negara tegas dan memiliki kekuatan untuk melindungi rakyatnya dari masalah krusial seperti ini, maka tidak akan ada lagi masalah sensitif terkait gender, baik dalam kepengurusan administrasi maupun posisi dalam masyarakat. Karena dalam agama manapun tidak akan ada pembenaran atas tindakan dari sebuah pemikiran rusak dan nafsu manusia semacam transgender.

Maka, alih-alih negara mendukung dengan mempermudah urusan administrasi transgender, alangkah tepatnya jika negara menghentikan gelombang kerusakan kaum LGBT dengan pembinaan dan mengedukasi mereka hingga kembali ke ‘rumah asal’ mereka.

Sejatinya, jika aturan dikembalikan kepada Islam, semua masalah umat manusia akan teratasi. Karena sistem Islam dengan syariatnya selalu membawa kemaslahatan bagi umat manusia.

Jangan sampai masalah pembuatan administasi e-KTP ini justeru menjadi ruang imagi para transgender dalam menuntut pengakuan eksistensi mereka di dalam tatanan sosial masyarakat. Padahal jelas, tidak akan pernah ada transgender dalam tatanan masyarakat Islam sampai kapanpun. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − 15 =

Rekomendasi Berita