by

Rusia Tegas Tolak Propaganda LGBT, Bagaimana dengan Kita?

-Opini-80 Views

 

Oleh: Dinar Khair, Novelis

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Negeri yang dahulu tersohor dengan komunismenya, kini melakukan gebrakan yang cukup menghentak dunia. Yaitu penolakan terhadap kampanye atau propaganda L9B7 di negaranya. Dengan tegas, Putin menurunkan aturan tegas bagi siapa saja yang berani melanggar peraturan itu di negaranya.

Berdasarkan laman liputan6.com, Rezim Vladimir Putin memberikan hukuman denda maksimal mencapai sekitar Rp 25 juta bagi pribadi hingga Rp 258 juta bagi perusahaan. Larangan propaganda ini berlaku bagi orang dewasa hingga anak-anak.

Laporan media pemerintah TASS, Jumat (25/11/2022), mengatakan, denda bagi pribadi mencapai 50 ribu – 100 ribu rubles (sekitar Rp 12 juta – Rp 25 juta), bagi pejabat antara 100 ribu – 200 ribu rubles (sekitar Rp 25 juta – Rp 50 juta).

Bahkan propaganda terhadap anak-anak bisa membuat denda naik dua kali lipat. Untuk perusahaan denda maksimalnya bisa penyetopan operasional hingga 90 hari.

Bila Rusia saja bisa begitu nalar dalam melihat isu L987 ini, mengapa negara mayoritas muslim masih menjadikan ini sebagai kontroversi?

Banyak sekali aktivis-aktivis yang mengatasnamakan kemanusiaan untuk terus mengampanyekan gerakan berbahaya ini. Padahal, telah nyata dampak kerusakan yang mereka timbulkan: merusak generasi, menyebarkan penyakit, dan merusak tatanan moral budaya ketimuran.

Republika.co.id menulis sebuah laporan bahwa pada tahun 2016 Kementerian Kesehatan yang dikutip dari Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, mengungkap jumlah lelaki berhubungan seks dengan Lelaki (LSL) alias gay sudah mencapai angka jutaan.

Berdasarkan estimasi Kemenkes pada 2012, terdapat 1.095.970 LSL baik yang tampak maupun tidak. Lebih dari lima persennya (66.180) mengidap HIV. Sementara, badan PBB memprediksi jumlah LGBT jauh lebih banyak, yakni tiga juta jiwa pada 2011.

Bayangkan, ada berapa banyak pertambahan jumlah populasinya di tahun 2022, bila di tahun 2011 saja jumlahnya sudah menyentuh angka jutaan?

Tentu saja ini menjadi persoalan mengerikan bagi para orang tua yang mengharapkan keturunan yang baik, terjaga, serta shalih-shalihah.

Dampak LGBT

Resiko yang ditimbulkan dari interaksi terlarang tersebut, lebih jauh lagi, dapat menimbulkan penyakit kanker kelamin, AIDS, dan sebagainya. Tentu saja ini menular. Bahkan bisa terkena pada mereka yang tidak berdosa semisal istri dan anak-anaknya yang tidak tahu apa-apa di rumah.

Tak perlu berbicara soal dalil agama, bila secara logika saja, penerimaan terhadap gerakan ini tidak bisa diterima akal manusia. Padahal pengerusakan terhadap generasi merupakan tindak kejahatan yang sangat keji.

Rusia telah berani mengambil tindakan yang berani. Tentu saja karena Vladimir Putin, yang notabene seorang non-muslim, memikirkan kesehatan dan keselamatan generasi penerus. Bila generasi mudanya hancur, maka hancur juga negaranya.

Maka sudah sepatutnya sebagai seorang muslim, berada pada barisan yang memerangi gerakan ini, bukan malah ikut mendukung dan ikut serta mengampanyekannya. Bukankah ini miris, bila penerimaan terhadap LBGT justru ada pada negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia?

Sudah sepatutnya kita semua serempak menyuarakan hal yang sama, melanjutkan misi menyelamatkan generasi. Pun menaati perintah Allah dan Rasul-Nya, salah satunya dengan menuntaskan penyebaran LGBT di tengah-tengah umat.

Namun yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Islam menentang keras perbuatan maksiatnya, bukan manusianya. Maka sudah jadi bagian dari tugas kita untuk mengajak mereka yang menyimpang ini untuk kembali pada jalan yang benar.

“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar [39] : 53-54).Wallahualam bishawab.[]

Comment