Saat Gen Z Bicara, Jalan Kebangkitan Umat Terbuka

Opini404 Views

 

Penulis: Kamiliya Husna Nafiah |  Mahasantriwati Cinta Quran Center

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Ramainya demonstrasi jalanan dan percakapan aspiratif di media sosial belakangan ini menampilkan cara khas generasi Z merespons tekanan. Psikolog Anak dan Remaja Anastasia Satriyo, M.Psi., menjelaskan, secara biologis otak manusia memiliki pola respons ketika menghadapi stres berat: fight, flight, fawn, atau face.

Menurut Anastasia, Gen Z menunjukkan mekanisme otak yang lebih berkembang dibanding generasi Boomer, Gen X, dan Milenial. Boomer cenderung bertahan dengan pola fight yang mengandalkan otoritas atau fawn yang identik dengan kepatuhan berlebihan. Gen X dan Milenial kerap terjebak dalam pilihan fight or flight dan lebih sering memilih flight demi rasa aman.

Dari keempat respons itu, face—menghadapi ancaman secara rasional dan asertif seperti ditulis kompas (5/9/25)—dianggap paling konstruktif. “Gen Z menyalurkan aspirasi lewat demonstrasi dan media sosial dengan cara kreatif, dari meme, poster, hingga estetika visual, bukan destruktif. Mereka berani bersuara tanpa harus merusak fasilitas. Inilah keterlibatan asertif,” ujar Anastasia.

Prof. Rose Mini Agoes Salim, Psikolog Universitas Indonesia, menilai meningkatnya jumlah remaja yang turun ke jalan sebagai fenomena penting. Demonstrasi, kata dia, dapat menjadi sarana belajar menyampaikan pendapat, tetapi remaja usia 12–17 tahun masih rentan terprovokasi karena kontrol diri mereka belum matang.

“Kemampuan mengendalikan diri masih terbatas sehingga mudah terbawa arus,” ujarnya (inforemaja.id, 1/9/2025).

Klasifikasi generasi kerap terlihat ilmiah dan netral. Gen Z, misalnya, digambarkan kreatif, kritis, dan melek digital, tetapi juga rapuh secara emosional. Namun, di baliknya ada kepentingan pasar: generasi ini dijadikan segmen konsumen paling menjanjikan.

Kapitalisme membungkus agenda itu dengan istilah menawan—self-expression, healing, authenticity—agar anak muda sibuk membangun identitas personal ketimbang menggugat sistem. Ketika Gen Z bersuara di ruang publik, ekspresinya kerap dipandang sekadar “tren” alih-alih gerakan politik serius.

Konflik sosial dianggap ancaman bagi stabilitas pasar, sehingga yang ditawarkan adalah “jalan aman”: kritik yang dibungkus estetika dan keterlibatan politik yang hanya simbolik.

Sejak penciptaannya, manusia dibekali naluri mempertahankan diri (gharizah al-baqa’). Naluri ini bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga menolak kezaliman. Artinya, perlawanan terhadap ketidakadilan bukan sekadar tren generasi, melainkan fitrah.

Kapitalisme berupaya menekan naluri ini dengan menonjolkan ekspresi diri dan gaya hidup. Akibatnya, suara muda sering dianggap konten kreatif semata. Padahal naluri itu akan selalu mendorong perlawanan, meski bentuknya khas: meme, poster, atau aksi jalanan.

Islam memandang manusia memiliki fitrah yang harus dipenuhi sesuai syariat. Pemenuhan kebutuhan hanya lewat metode ilmiah atau terapi psikologis tidak cukup. “Healing” dan self-love mungkin menenangkan, tetapi bisa menutup ruang bagi kesadaran politik dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Islam menegaskan bahwa naluri menolak kezaliman harus diarahkan secara syar’i. Allah Swt. berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl:125).

Rasulullah ﷺ bersabda: “Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu memerintahkannya (kepada kebaikan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (HR Al-Hakim)

Ayat dan hadis ini menegaskan pentingnya muhasabah lil hukkām—mengoreksi penguasa. Kritik dilakukan dengan hikmah dan adab, bukan sekadar oposisi. Hadis tersebut menunjukkan kemuliaan amal ini di sisi Allah, meski penuh risiko.

Pemuda sebagai Motor Perubahan

Sejarah Islam membuktikan pemuda selalu menjadi garda terdepan perubahan hakiki (taghyir). Sebagian besar sahabat pertama Rasulullah ﷺ adalah anak muda: Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Mush’ab bin Umair. Mereka ditempa di Dar al-Arqam, dibekali tsaqafah Islam, dan siap menghadapi tekanan.

Generasi muda Muslim kini pun dituntut menyadari peran serupa: menjadi agen perubahan hakiki yang menegakkan keadilan sesuai tuntunan syariat. Waallahu a’lam bishawab.[]

Comment