Selamatkan Palestina dengan Persatuan Kaum Muslim

Opini922 Views

Penulis: Dinar Khair | Penulis Novel

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Agresi yang terus berlangsung di Jalur Gaza kian melampaui batas kemanusiaan. Israel dilaporkan menggunakan senjata termal dan termobarik yang berdampak sangat destruktif terhadap warga sipil. Suhu ekstrem yang dihasilkan senjata tersebut disebut mampu menghancurkan tubuh manusia dalam hitungan detik.

Sebagaimana dilansir CNNIndonesia.com (14/2/2026), setidaknya 2.842 warga Palestina dinyatakan hilang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari nyawa, keluarga, dan masa depan yang tercerabut secara paksa.

Kekejaman ini terasa begitu telanjang di hadapan dunia. Namun, keadilan seolah tak kunjung hadir, bahkan di forum-forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Rapat demi rapat, resolusi demi resolusi, hingga berbagai forum perdamaian yang dibentuk, belum mampu menghentikan derita rakyat Palestina.

Bagi sebagian umat Islam, kondisi ini menimbulkan kekecewaan mendalam terhadap mekanisme global yang dinilai tidak efektif menghentikan genosida.
Pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan secara terang-terangan justru kian brutal. Ironisnya, perhatian publik dunia perlahan meredup. Jika pada awal agresi isu ini begitu mengguncang jagat media, kini intensitasnya mulai menurun.

Keletihan emosional membuat sebagian orang berhenti bersuara. Padahal, menyuarakan kebenaran dan menyebarkan informasi kepada dunia merupakan langkah minimal yang masih bisa dilakukan sebagai bentuk kepedulian.

Jihad Bukan Sekadar Narasi

Sejarah Islam mencatat berbagai peperangan yang dilalui kaum Muslimin—lengkap dengan kemenangan maupun kekalahan—bukan sebagai glorifikasi kekerasan, melainkan sebagai bagian dari syariat yang memiliki aturan dan batasan yang tegas. Perang dalam Islam tidak berdiri di atas kebrutalan, tetapi pada prinsip menegakkan keadilan serta menjaga martabat manusia.

Sebagaimana ditulis Mubadalah.id (diakses 14/2/2026), dalam Sunan Al-Kubra lil-Baihaqi diriwayatkan pesan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA kepada Yazid bin Abi Sufyan saat diutus ke Syam.

Pesan itu menegaskan larangan membunuh orang tua, perempuan, dan anak-anak; larangan merusak bangunan; serta larangan menebang pohon dan membunuh hewan ternak tanpa alasan yang dibenarkan.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa bahkan dalam konteks perang, Islam tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kelestarian lingkungan. Tuduhan bahwa Islam identik dengan kekerasan menjadi tidak relevan ketika ditelaah melalui sumber ajarannya secara utuh.

Dalam perspektif ini, jihad bukanlah dongeng atau retorika kosong, melainkan konsep yang memiliki aturan, tujuan, dan batasan moral. Ketika penindasan terjadi secara nyata dan sistematis, umat Islam meyakini bahwa pembelaan terhadap nyawa dan kehormatan manusia adalah kewajiban yang tidak dapat diabaikan.

Perlindungan terhadap satu nyawa manusia dalam Islam memiliki nilai yang sangat tinggi. Karena itu, tragedi kemanusiaan di Palestina dipandang sebagai luka kolektif umat. Sebagian kalangan berpendapat bahwa negosiasi semata belum cukup menghentikan agresi yang terus berlangsung, sehingga dibutuhkan ketegasan dan persatuan nyata dari negara-negara Muslim.

Persatuan menjadi kunci. Selama umat tercerai-berai oleh kepentingan politik dan batas-batas geografis, kekuatan kolektif sulit terwujud.

Sudah saatnya negara-negara Muslim menghimpun potensi dan menyatukan langkah, agar mampu melindungi rakyat Palestina secara konkret dan bermartabat. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment