Penulis: Indri Retno Putranti | Anggota PJMI
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Perselingkuhan dan pengkhianatan mungkin terjadi dalam ruang yang berbeda. Namun, keduanya memiliki pola yang hampir serupa: sama-sama berangkat dari runtuhnya penghargaan terhadap kepercayaan dan komitmen.
Seorang yang berselingkuh meninggalkan komitmen dengan pasangannya demi perhatian, kenyamanan, atau keuntungan yang diperoleh dari orang lain. Sementara pengkhianat dapat meninggalkan lembaga, organisasi, atau komunitas yang sebelumnya memberikan ruang untuk tumbuh dan berjuang, ketika datang tawaran yang dinilai lebih menguntungkan.
Dalam kedua situasi tersebut, persoalannya bukan semata-mata tentang seseorang memilih jalan baru. Setiap orang tentu memiliki hak untuk menentukan masa depan dan mencari kehidupan yang lebih baik.
Yang menjadi persoalan adalah cara seseorang meninggalkan sesuatu yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Apakah ia pergi dengan tetap menjaga penghormatan terhadap orang-orang yang pernah membersamainya? Apakah ia menyelesaikan tanggung jawabnya? Apakah ia menjaga kepercayaan yang pernah diberikan? Atau justru meninggalkan semuanya setelah memperoleh tawaran yang dianggap lebih menguntungkan?
Di sinilah persoalan bergeser dari sekadar pilihan menjadi persoalan integritas.
Dalam perspektif psikologi Islam, amanah bukan hanya berkaitan dengan hubungan antarmanusia, tetapi juga memiliki dimensi tanggung jawab kepada Allah.
Kajian psikologi Islam mengenai konsep amanah menyebutkan bahwa amanah merupakan konstruk kepribadian yang bersifat multidimensi: menyangkut hubungan seseorang dengan sesama manusia sekaligus hubungannya dengan Allah.
Karena itu, kepercayaan tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang dapat digunakan selama menguntungkan, lalu ditinggalkan ketika muncul kesempatan yang lebih besar.
Pengkhianatan terhadap kepercayaan juga meninggalkan konsekuensi psikologis. Dalam hubungan personal, perselingkuhan dapat merusak rasa aman, menurunkan kepercayaan, serta memengaruhi komunikasi dan kualitas hubungan.
Penelitian mengenai pasangan Muslim yang menghadapi perselingkuhan menunjukkan bahwa hadirnya pihak ketiga dapat membuat dinamika hubungan menjadi lebih kompleks, termasuk munculnya rasa bersalah, perubahan pola relasi, dan upaya mempertahankan hubungan.
Penelitian lain mengenai pemulihan hubungan setelah perselingkuhan menunjukkan bahwa kepercayaan tidak kembali hanya karena permintaan maaf. Pemulihan membutuhkan komitmen, keterbukaan, kejujuran, kepedulian, dan konsistensi perilaku dari pihak yang melakukan pengkhianatan.
Artinya, kepercayaan adalah sesuatu yang dibangun dalam waktu panjang, tetapi dapat runtuh oleh satu keputusan yang mengabaikan integritas.
Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan organisasi. Seseorang boleh memilih pindah lembaga, mencari tempat kerja baru, atau menerima peluang yang lebih baik. Itu bukan kesalahan. Bahkan, perubahan dapat menjadi bagian dari proses pengembangan diri.
Namun, berpindah tidak harus berarti menghapus seluruh jasa dan kebersamaan masa lalu.
Ada cara terhormat untuk pergi: menyelesaikan tanggung jawab, menyampaikan keputusan secara terbuka, menghargai orang-orang yang pernah memberi kesempatan, serta tidak menggunakan kepercayaan masa lalu sebagai sesuatu yang bisa dibuang begitu saja ketika kepentingan berubah.
Sebab loyalitas tidak selalu berarti harus bertahan selamanya pada satu tempat. Loyalitas juga berarti mampu menghargai sejarah, menjaga etika, dan tidak mengkhianati orang-orang yang pernah memberikan kepercayaan.
Pada akhirnya, seseorang boleh berganti pasangan, berpindah lembaga, berganti lingkungan, bahkan mengubah arah perjuangan. Tetapi jangan sampai perubahan itu dilakukan dengan mengorbankan harga diri dan prinsip.
Sebab orang yang memiliki prinsip boleh berpindah jalan, tetapi tidak perlu menjual kesetiaannya kepada pihak yang menawarkan keuntungan lebih tinggi.
Jangan sampai harga diri memiliki tarif.[]











Comment