Penulis: Alfira Khairunnisa | Aktivis IDARI (Ikatan Daiyah Riau
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Setiap Rabiul Awal tiba, masjid-masjid bergema dengan lantunan shalawat. Pawai bernuansa putih memenuhi sejumlah ruas jalan, sementara tabligh akbar digelar di berbagai daerah. Umat Islam pun kembali memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan penuh suka cita.
Namun, ada pertanyaan penting yang patut direnungkan: sejauh mana kecintaan kepada Rasulullah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari? Apakah peringatan Maulid berhenti pada suasana haru ketika mendengarkan kisah perjalanan hidup beliau, atau menjadi momentum untuk memperkuat komitmen meneladani Rasulullah secara lebih menyeluruh, termasuk dalam perjuangan dakwahnya?
Jika direnungkan lebih jauh, peringatan Maulid terkadang lebih banyak menghadirkan sisi emosional. Kita tersentuh mendengar kisah kesabaran Rasulullah SAW ketika menghadapi berbagai tantangan, termasuk peristiwa di Thaif.
Kita bershalawat dan mengenang kemuliaan akhlaknya. Namun, setelah peringatan berakhir, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Karena itu, Maulid semestinya tidak hanya menjadi momentum mengenang sosok Rasulullah, tetapi juga menjadi ruang untuk melakukan muhasabah dan memperkuat tekad menerapkan nilai-nilai yang beliau ajarkan dalam kehidupan.
Allah SWT berfirman: “Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran: 3).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah memiliki konsekuensi berupa sikap ittiba’, yakni berusaha mengikuti petunjuk dan keteladanan beliau.
Ketika Ittiba’ Tidak Hanya Berhenti pada Akhlak
Tidak ada yang salah dengan meneladani akhlak Rasulullah SAW. Kejujuran, amanah, kasih sayang, kesabaran, dan sikap pemaaf merupakan teladan mulia yang relevan sepanjang zaman.
Namun, keteladanan kepada Rasulullah tidak hanya berkaitan dengan perilaku personal. Ada pula pertanyaan yang layak direnungkan: bagaimana Rasulullah SAW membangun masyarakat dan mengubah kehidupan bangsa Arab yang ketika itu berada dalam berbagai persoalan sosial dan keyakinan?
Bagaimana beliau mengajak manusia meninggalkan berbagai bentuk penghambaan selain kepada Allah SWT menuju ketundukan kepada-Nya?
Dalam konteks kekinian, tantangan kehidupan tentu memiliki bentuk yang berbeda. Ketergantungan manusia terhadap materi, kepentingan pribadi, kekuasaan, dan berbagai kepentingan duniawi dapat menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga nilai-nilai keislaman.
Karena itu, pembentukan akhlak individu perlu berjalan seiring dengan upaya membangun kehidupan sosial yang menjunjung nilai keadilan, amanah, kemaslahatan, dan prinsip-prinsip syariat.
Umat Menginginkan Perubahan, tetapi Arah Perlu Diperjelas
Keinginan masyarakat terhadap kehidupan yang lebih baik merupakan kenyataan yang tidak dapat diabaikan. Berbagai persoalan seperti kemiskinan, korupsi, kerusakan lingkungan, karhutla, ketimpangan sosial, hingga persoalan keadilan menjadi perhatian publik.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjawab persoalan tersebut. Ada yang bergerak melalui kegiatan sosial, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, maupun jalur politik dan kebijakan publik.
Dalam perspektif penulis, perjuangan Rasulullah SAW di Makkah memberikan pelajaran penting mengenai pentingnya membangun kesadaran masyarakat melalui dakwah dan pendidikan. Selama sekitar 13 tahun di Makkah, Rasulullah SAW membina para sahabat dan menyampaikan risalah Islam secara konsisten.
Dakwah tersebut kemudian berkembang hingga memperoleh dukungan masyarakat Madinah, yang menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW.
Dari sini, penulis melihat pentingnya menjadikan Maulid sebagai momentum untuk kembali memahami perjalanan dakwah Rasulullah, bukan sekadar mengenang sejarahnya.
Mengembalikan Maulid pada Makna Perjuangan
Lalu, bagaimana seharusnya Maulid dimaknai? Bagi penulis, Maulid dapat menjadi momentum muhasabah sekaligus memperbarui komitmen untuk menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu direnungkan.
Pertama, memperluas makna ittiba’.
Ittiba’ bukan hanya berkaitan dengan meneladani cara makan, berpakaian, maupun perilaku personal Rasulullah SAW. Lebih dari itu, ittiba’ juga berarti berusaha mengikuti petunjuk beliau dalam menjalankan kehidupan sesuai dengan syariat Islam.
Islam diharapkan tidak hanya menjadi nilai yang diyakini secara pribadi, tetapi juga menjadi pedoman dalam membangun kehidupan yang berkeadilan dan membawa kemaslahatan.
Kedua, memahami pentingnya penerapan syariat secara menyeluruh.
Dalam pandangan Islam, syariat memiliki cakupan yang luas, mencakup persoalan ibadah, akhlak, keluarga, ekonomi, pendidikan, hukum, hingga kehidupan sosial.
Karena itu, penulis berpandangan bahwa penerapan nilai-nilai Islam tidak semestinya hanya dipahami dalam ruang personal. Ada cita-cita untuk menghadirkan nilai keadilan, kemaslahatan, dan perlindungan terhadap masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan.
Sebagaimana dakwah Rasulullah SAW membangun kesadaran umat secara bertahap, umat Islam hari ini juga perlu terus mengembangkan pemahaman terhadap ajaran Islam secara utuh dan bijaksana.
Ketiga, mengambil pelajaran dari tahapan dakwah Rasulullah SAW.
Dalam sejumlah kajian pemikiran Islam, perjalanan dakwah Rasulullah SAW di Makkah hingga Madinah sering dirangkum dalam beberapa tahapan.
Salah satunya adalah tiga marhalah dakwah yang dikenal sebagai Tatsqif, Tafa’ul ma’al Ummah, dan Istilamul Hukmi.
1. Marhalah Tatsqif: Membangun Pemahaman Umat
Tatsqif merupakan tahap pembinaan dan penguatan pemahaman Islam.
Pada fase awal dakwah di Makkah, Rasulullah SAW membina para sahabat, antara lain melalui pertemuan di Darul Arqam. Fokusnya adalah membangun keimanan, pemahaman terhadap ajaran Islam, serta membentuk kepribadian yang kokoh.
Dalam konteks kekinian, tahap pembinaan dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan pendidikan, kajian, halaqah, dan pembelajaran keislaman yang mendorong masyarakat memahami ajaran Islam secara lebih mendalam.
Pemahaman yang kuat menjadi salah satu fondasi penting agar gerakan dakwah tidak mudah kehilangan arah.
2. Marhalah Tafa’ul Ma’al Ummah: Berinteraksi dan Bersama Umat
Setelah pembinaan dilakukan, dakwah tidak berhenti di ruang-ruang pembelajaran. Rasulullah SAW juga berinteraksi dengan masyarakat dan menyampaikan risalah Islam kepada berbagai kelompok.
Beliau menyampaikan ajaran Islam, menjelaskan persoalan masyarakat, serta mengajak mereka memahami perubahan yang dibawa oleh Islam.
Dalam konteks kehidupan sekarang, dakwah juga perlu hadir di tengah masyarakat dan merespons persoalan yang mereka hadapi, seperti persoalan pekerjaan, pendidikan, harga kebutuhan pokok, kemiskinan, lingkungan, dan keadilan sosial.
Dalam perspektif penulis, dakwah juga memiliki dimensi sosial dan politik dalam arti luas, yakni memberikan pandangan Islam terhadap berbagai persoalan kehidupan publik, tanpa harus dimaknai sebagai keterlibatan dalam politik praktis.
3. Marhalah Istilamul Hukmi: Penerimaan Kekuasaan untuk Menerapkan Islam
Tahap berikutnya dalam konsep tersebut adalah Istilamul Hukmi, yakni fase ketika kepemimpinan dan kekuasaan menjadi sarana untuk menerapkan ajaran Islam secara menyeluruh.
Dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW, Baiat Aqabah II menjadi salah satu peristiwa penting yang kemudian membuka jalan bagi terbentuknya masyarakat Islam di Madinah.
Bagi penulis, fase ini menunjukkan bahwa persoalan kepemimpinan dan tata kehidupan masyarakat juga mendapat perhatian dalam ajaran Islam.
Dengan adanya otoritas pemerintahan, berbagai aturan dan kebijakan dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat secara lebih terstruktur.
Dalam perspektif tersebut, penerapan syariat tidak hanya menyentuh persoalan ibadah, tetapi juga mencakup berbagai bidang kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, hukum, sosial, dan hubungan antarmasyarakat.
Tujuan akhirnya adalah menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).
Rahmat tersebut diharapkan tidak hanya dirasakan dalam kehidupan spiritual, tetapi juga tercermin dalam hubungan sosial, perlindungan terhadap lingkungan, keadilan ekonomi, pendidikan, serta berbagai aspek kehidupan lainnya.
Maulid sebagai Momentum Muhasabah
Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Peringatan ini dapat menjadi kesempatan untuk kembali bertanya kepada diri sendiri – sejauh mana kita telah meneladani Rasulullah SAW?
Keteladanan itu bukan hanya dalam tutur kata dan akhlak, tetapi juga dalam kesungguhan menjalankan ajaran Islam, membangun kepedulian terhadap masyarakat, serta memperjuangkan kehidupan yang lebih adil dan bermaslahat.
Kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya diungkapkan melalui lisan. Kecintaan itu perlu diwujudkan melalui sikap, perilaku, dakwah, pendidikan, dan ikhtiar menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.
Karena itu, mari menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum memperkuat kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus memperdalam pemahaman terhadap perjuangan dan keteladanan beliau.
Dengan demikian, Maulid bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat kepedulian sosial, dan menumbuhkan komitmen menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bishawab.[]









Comment