Seniman Gayo Tolak Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda, Dinilai Mereduksi Martabat Pahlawan Aceh

Aceh, Daerah22 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, BANDA ACEH – Sejumlah seniman dan budayawan Gayo menolak penggunaan judul film Malahayati: Pasukan 1000 Janda. Mereka menilai judul tersebut mengandung konotasi yang kurang tepat dan berpotensi mereduksi kebesaran sosok Malahayati sebagai pahlawan nasional.

Penolakan itu disampaikan dalam sebuah diskusi di Banda Aceh, Sabtu, 27 Juni 2026. Di antara tokoh yang menyuarakan sikap tersebut ialah Putra Gara, Fauzan Azima, Salman Yoga, Jasa Purnama, serta sejumlah seniman dan pegiat budaya Gayo lainnya.

Mereka menilai frasa “Pasukan 1000 Janda” lebih menonjolkan status para prajurit dibandingkan kepemimpinan, kecerdasan strategi, serta jasa besar Malahayati dalam mempertahankan kedaulatan Kesultanan Aceh.

Putra Gara mengatakan pengangkatan kisah Malahayati ke layar lebar merupakan langkah positif untuk memperkenalkan sejarah Aceh kepada generasi muda. Namun, menurut penulis novel sejarah itu, judul film semestinya tetap menjaga marwah tokoh sejarah dan tidak menimbulkan persepsi yang keliru.

“Menurut tradisi silsilah Aceh dan Gayo, Sultan Ali Mughayat Syah dan Malahayati masih berada dalam satu garis keturunan Dinasti Linge yang menjadi cikal bakal Kesultanan Aceh Darussalam,” kata Putra Gara.

Ia menambahkan, hubungan genealogis tersebut menunjukkan bahwa Malahayati tidak hanya dikenal sebagai panglima perang, tetapi juga berasal dari garis keturunan bangsawan Kesultanan Aceh yang memiliki akar sejarah panjang.

Pandangan itu diamini Fauzan Azima. Menurut dia, hubungan genealogis tersebut menunjukkan bahwa Malahayati bukan hanya seorang panglima perang, melainkan juga bagian dari mata rantai sejarah panjang Kesultanan Aceh.

“Karena itu, penyematan judul yang dianggap sensasional dikhawatirkan mengaburkan kebesaran sejarah dan martabat tokoh yang selama ini dihormati masyarakat Aceh,” kata Fauzan.

Sementara itu, Salman Yoga menjelaskan bahwa secara historis Malahayati memang dikenal memimpin pasukan Inong Balee, yakni kesatuan perempuan yang sebagian besar beranggotakan para janda syuhada yang gugur di medan perang.

“Pasukan ini dipimpin oleh Malahayati dan menjadi salah satu kekuatan militer penting Kesultanan Aceh. Namun, pengambilan judul film Pasukan 1000 Janda memiliki konotasi negatif. Selain itu, kami menilai tidak ada bukti sejarah yang menyebut nama resmi pasukan tersebut sebagai ‘Pasukan 1000 Janda’, sehingga penggunaan istilah itu sebagai judul film berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat,” ujar Salman Yoga yang juga Direktur Gayo Institut.

Para budayawan berharap rumah produksi membuka ruang dialog dengan sejarawan, budayawan, dan tokoh masyarakat Aceh agar karya yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga menghormati fakta sejarah serta menjaga kehormatan Malahayati sebagai salah satu pahlawan terbesar Aceh. []

Comment