Shamsi Ali Kritik Keterlibatan Indonesia di Board of Peace: Dinilai Menguatkan Penjajahan Palestina

Internasional277 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, NEW YORK — Direktur Jamaica Muslim Center sekaligus Presiden Nusantara Foundation New York, Dr. Shamsi Ali, Lc., MA., PhD, menyampaikan kritik keras terhadap keterlibatan Indonesia dan sejumlah negara mayoritas Muslim dalam Board of Peace (BOP), sebuah forum internasional yang dinilainya justru berpotensi menguatkan penjajahan Israel atas Palestina.

Dalam pernyataan tertulisnya dari Manhattan, New York, Selasa (4/2/2026), Shamsi Ali menilai keanggotaan negara-negara Muslim dalam BOP lebih bersifat simbolik dan berfungsi sebagai legitimasi politik atas agenda yang sejak awal dikendalikan Amerika Serikat.

“Secara umum, keanggotaan negara-negara mayoritas Muslim di badan ini tidak lebih dari pelengkap dan pembenaran atas tujuan pembentukannya,” ujar Shamsi Ali.

Ia menambahkan, banyak pihak di tingkat nasional maupun global menilai keikutsertaan negara-negara Muslim seharusnya dibatalkan karena berisiko memperkuat cengkeraman penjajah melalui kebijakan dan tindakan yang menindas rakyat Palestina.

Diplomasi Terlalu Percaya Diri

Shamsi Ali juga menyoroti sikap sebagian pihak yang mendukung keterlibatan negara-negara Muslim dengan dalih husnuzan atau prasangka baik terhadap niat Amerika dan sekutunya.

Menurutnya, pendekatan tersebut mencerminkan diplomasi yang terlalu percaya diri dan mengabaikan realitas politik global.

Ia mengingatkan kegagalan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) selama puluhan tahun dalam menyelesaikan konflik Palestina bukanlah semata persoalan kelembagaan, melainkan akibat dominasi Amerika Serikat melalui hak veto di Dewan Keamanan.

“Jika di PBB saja Palestina terus diveto, lalu bagaimana mungkin forum yang dikontrol sepenuhnya oleh Amerika justru akan mengedepankan kepentingan Palestina?” katanya.

Kritik terhadap Sikap Pemerintah Indonesia

Shamsi Ali menyinggung pernyataan Menteri Luar Negeri RI Sugiono yang menyebut keterlibatan Indonesia dalam BOP sebagai bagian dari upaya diplomasi untuk membantu kemerdekaan Palestina. Ia menilai pernyataan tersebut tidak memiliki dasar argumentasi yang kuat.

“Pernyataan itu terkesan labil dan lebih menyerupai upaya mencari perlindungan dari sebuah kecerobohan diplomasi,” ujarnya.

Ia juga mencatat adanya kekhawatiran dan resistensi dari sejumlah diplomat senior Indonesia, termasuk mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal serta Indonesian Council on World Affairs (ICWA), organisasi yang beranggotakan para pakar dan praktisi hubungan internasional.
Pengaruh Zionisme Global

Dalam pernyataannya, Shamsi Ali turut mengulas pengaruh kelompok Zionis global yang menurutnya memiliki kendali besar di bidang ekonomi, keuangan, dan media, meski jumlah mereka secara demografis relatif kecil.

Ia membedakan antara komunitas Yahudi secara umum dengan kelompok Zionis yang menjadikan agama sebagai alat politik. Beberapa organisasi Zionis internasional seperti American Jewish Committee (AJC), AIPAC, dan ADL disebutnya aktif melakukan penetrasi global dengan pendekatan hubungan antaragama.

Shamsi Ali mengungkapkan pengalaman pribadinya pernah terlibat dalam Dewan Hubungan Muslim-Yahudi AJC sebelum akhirnya menarik diri karena sikap kritisnya terhadap agresi Israel ke Gaza dianggap tidak moderat.

“Saya menyadari bahwa keberadaan saya justru dianggap sebagai gangguan karena terus mendesak penghentian serangan Israel,” tuturnya.

Peringatan bagi Tokoh Agama

Ia juga menyampaikan keprihatinan atas dukungan sebagian tokoh Muslim terhadap keterlibatan Indonesia di BOP. Menurutnya, persoalan ini jauh lebih dalam dari sekadar dukungan politik, melainkan menyangkut upaya normalisasi penjajahan Israel melalui pendekatan lunak dan persuasif.

“Tujuan akhirnya adalah normalisasi resistensi umat Islam terhadap Israel,” tegasnya.

Shamsi Ali menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace berpotensi bertentangan dengan amanat Konstitusi RI yang menolak segala bentuk penjajahan.

“Benang kusutnya terlalu banyak. Husnuzhan mungkin bisa, tetapi realitas di lapangan menunjukkan keanggotaan ini justru menguatkan tujuan penjajahan,” imbuhnya.[]

Comment