by

Ikon Literasi Sidra Tampil Membaca di Acara Anugerah Literasi Kemendikbud

Aisyah menawarkan buku untuk dibacakan
ceritanya pada Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad PhD
di Gedung Kemendikbud (20 Maret 2017)[Must/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Aisyah, siswa SD I Allakuang Sidrap
yang  tamat membaca 117 buku selama lima bulan, akhirnya tampil
memberikan testimoni di Kemendikbud, saat acara Anugerah  Literasi
PRIORITAS terhadap 19 Kabupaten/Mitra USAID PRIORITAS penggerak
literasi. Di hadapan bupati, sekda, wabup, kepala dinas dan pejabat
lain dari kabupaten/kota penerima anugerah itu, Aisyah bercerita tentang
bagaimana ia termotivasi membaca banyak buku. 


“Di sekolah, kami memiliki buku kontrol membaca.
Kami juga meringkas buku yang kami baca dan  terlibat permainan lomba
menceritakan hasil membaca. Program-program membaca semacam itu, telah
membuat siswa di SD kami menjadi rajin membaca,”
ujarnya, ( 20 Maret 2017).  


Untuk membuktikan bahwa ia sering membaca, Aisyah
juga meminta Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad, MSc
PhD yang hadir mewakili Mendikbud untuk memilih salah satu buku yang
dibawanya dan menceritakan kisah dalam buku tersebut
dengan lancar. 


Acara penganugerahan literasi ini merupakan acara
yang pertama kali dilakukan oleh Kemendikbud bekerjasama dengan USAID
PRIORITAS dalam rangka mendorong daerah-daerah untuk semakin bergairah
dalam gerakan literasi.  


Piagam Anugerah literasi yang langsung
ditandatangaani  Menteri Pendidikan Muhadjir Effendi ini diberikan
kepada kota/kabupaten mitra USAID PRIORITAS yang memprogramkan secara
khusus kegiatan-kegiatan literasi di sekolah sehingga diharapkan
dapat menjadi rujukan bagi kabupaten/kota lainnya.  Bersama kota
Lumajang, Tasikmalaya, Serdang Bedagai dan beberapa kota lain, Sidrap
Sulsel masuk dalam kategori literasi sangat baik (kategori A). Maros dan
Wajo, dua kabupaten dari  Sulsel juga mendapatkan
anugerah tersebut namun dalam kategori baik (kategori B). 


Sekretaris Daerah Sidrap, H. Ruslan, menyatakan
akan terus mendorong gerakan literasi, dengan kebijakan dan juga
pendanaan APBD. Sementara itu Nurkanaah, Kepala Dinas Pendidikan Sidrap
menyatakan akan segera mengadakan monitoring dan evaluasi
terhadap program budaya Sidrap yang telah dilakukan semenjak akhir
tahun 2014. “Kita akan mengevaluasi apa-apa yang menghambat budaya baca
di Sidrap,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan.  


Dalam testimoninya, Aisyah juga menceritakan bahwa 
program membaca di sekolahnya  memotivasinya untuk mengajar ibunya yang
masih buta huruf untuk membaca. “Karena ibu saya tidak tamat SD, maka
ia saya ajari untuk membaca setiap kali selesai
bekerja sebagai buruh ternak ayam,” ujarnya. 


Ia bersyukur bahwa berkat bimbingannya sendiri,
akhirnya ibunya tersebut bisa membaca dengan lancar, bahkan sudah
menamatkan tiga buku. “Kasus Aisyah ini menjadi bukti bahwa siswa-siswa
SD pun bisa menjadi agen-agen penggerak literasi,
terutama bagi keluarganya sendiri,” ujar Mustajib, Communication
Specialist  USAID PRIORITAS Sulsel.


Indonesia termasuk negara yang mengalami darurat
literasi. Berdasarkan  survey Most Literate Nations in the world pada
tahun 2016 Indonesia berada urutan ke 60 dari 61 negara. “Oleh karena
itu, kegiatan literasi yang masih embrio-embrio
ini harus terus menerus dikembangkan dan dipertahankan oleh daerah,”
ujar Hamid Muhammad saat membuka acara.[Mustajib]
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − 8 =

Rekomendasi Berita