by

Siti Ningrum, M.Pd: Di Balik Diksi Yang Mengundang Reaksi Dan Persepsi

-Opini-36 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan di tengah situasi penanganan penyebaran virus corona (Covid-19) yang belum lama ini baru genap dua bulan di Indonesia.

Melalui akun resmi media sosialnya pada Kamis (7/5), Jokowi meminta agar masyarakat untuk bisa berdamai dengan Covid-19 hingga vaksin virus tersebut ditemukan. (CNN.Indonesi 09/05/2020)

Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Cabang Bekasi mengaku khawatir dengan pernyataan Presiden Jokowi yang meminta masyarakat untuk hidup berdamai dengan Covid-19 sampai vaksin untuk penyakit ini ditemukan. (kedaipena.com 11/05/2020)

Pernyatan tersebut mengundang reaksi dari berbagai pihak. Terutama dari Tim medis. Betapa tidak, mereka yang berjuang digarda terdepan untuk melawan virus corona agar penyebarannya tidak masif, dengan segala tantangan dan resikonya. Tim medis mendengungkan slogan- slogan stay at home kini seakan-akan sia-sia pengorbanan mereka selama dua bulan dengan kebijakan bolehnya mudik asalkan darurat, atau ada surat ijin lainnya.

Dengan kebijakan tersebut,
Media sosial sempat heboh karena ada foto yang menunjukkan antrean panjang di Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kamis (14/5/2020). (Kompas.com 14/5/2020).

Hal Ini membuat kesal tim medis sehingga mengeluarkan kalimat Indonesia Terserah, sebuah ungkapan kekecewaan. Padahal Tim Medis telah berkorban waktu, tenaga, pikiran demi memberikan pelayanan terbaik buat para pasien yang terinfeksi covid-19. Bahkan puluhan nyawa pun melayang. Itu artinya manusia tetap harus berperang dengan virus corona.

Tagar Indonesia Terserah menjadi trending topic di twitter pada hari sabtu tanggal 16 Mei 2020. Pernyataan ini, dimulai oleh tenaga kesehatan yang kecewa dikarenakan kebijakan pemerintah yang berubah-ubah dalam menangani kasus Covid-19. Padahal kebijakan PSBB baru saja dimulai, namun belum genap satu bulan kebijakan lainnya pun diberlakukan. Dibolehkannya mudik dengan bersyarat serta dibukanya kembali angkutan umum untuk beroperasi, bahkan dari luar negeri pun diperbolehkan masuk ke Inonesia.

Berbagai diksi dari pemerintah pusat pun selalu mengundang reaksi dan persepsi berbeda di masyarakat. Pro dan kontra pun tidak terelakan lagi. Bahkan dari diksi tersebut mengundang kegaduhan yang tidak berujung. Bukannya memberikan rasa kenyamanan ke berbagai pihak, namun mengundang kekecewaan bagi pihak lainnya.

Politikus PDIP Gus Nabil menjelaskan, saat ini Indonesia memang melalui periode yang tidak mudah. Pemerintah harus mengkoreksi banyak hal, strategi, kebijakan maupun eksekusi program dari kementrian masing-masing. Diperlukan juga adanya perbaikan, misalnya lebih banyak tes PCR untuk mengetahui kasus positif Corona (kedaipena.com 11/05/2020

Indonesia memang sekarang memasuki tahapan yang sulit yaitu tim medis dibiarkan dengan peralatan yang sederhana, ibaratnya tim medis memerangi dengan tidak memakai peralatan perang yang memadai.Dan korban dari tim medis bertambah lagi yaitu seorang perawat dari surabaya, yang sedang hamil meninggal diakibatkan terpapar virus corona. (Tribun news.com 19/05/20)

Sementara masyarakat tidak mengi dahkan lagi PSBB gegara memenuhi kebutuhannya. Apalagi menjelang lebaran, masyarakat tetap saja berbondong-bondong mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan seperti pasar, mal dan toko baju. Mereka sudah tidak peduli dengan bahaya yang sedang mengancam diri yang diakibatkan oleh virus corona. Seolah-olah kebutuhan lebih utama dari kesehatan.

Dan tahapan yang paling ditakutkan dalam penanganan virua corona adalah tahapan herd immunity (kekuatan imun) siapa yang kuat maka dia akan selamat dan sebaliknya siapa yang lemah maka akan binasa.

Padahal tahapan ini seharusnya tidak boleh terjadi di negara manapun termasuk di Indonesia. Sebab akan menghilangkan banyak nyawa.

Mengapa sampai terjadi hal yang demikian, itu dikarenakan penanganan virus corona yang tidak maksimal, terkesan setengah-setengah. Terlihat ada tarik ulur dengan kebijakan-kebijakan yang telah dipilih. Dan masih mempertimbangkan kepentingan ekonomi dibanding dengan penyelamatan nyawa manusia.
Itulah ciri dari sitem kapitalisme, yang hanya memikirkan materi semata.

Islam adalah solusi

Berbeda sekali dengan konsep Islam. Dalam Islam jangankan ribuan nyawa melayang satu saja sudah menjadi bencana. Di sisi Allah, hilangnya nyawa seorang muslim lebih lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia.

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Juga dalam mengambil sebuah kebijakan, seperti halnya Amirul mukminin Khalifah Umar bin Khatab r.a. tidak sembarangan, meminta pertimbangan para sahabat lainnya. Sehingga menghasilkan sebuah keputusan yang sesuai dengan syariat dan menjadi solusi yang tepat bagi setiap permasalahan tak terkecuali penanganan dalam hal wabah.

Sebab pertanggungjawabannya bukan hanya di dunia tetapi juga di akherat. Para khalifah terdahulu paham benar
Dengan kebijakan yang akan diambil tidak boleh mendzalimi rakyat sebab akan mengundang murka dari Allah swt.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw,

وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

“Sungguh jabatan ini adalah amanah. Pada Hari Kiamat nanti, jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil jabatan itu dengan hak dan menunaikan amanah yang menjadi kewajibannya.” (HR Muslim).

أَيُّمَا رَاعٍ اسْتُرْعِيَ رَعِيَّةً فَغَشَّهَا فَهُوَ فِي النَّارِ

“Siapa pun yang diangkat memegang tampuk kepemimpinan atas rakyat, lalu dia menipu mereka, maka dia masuk neraka.” (HR Ahmad).

Rosulullah saw. telah menjadi tauladan bagi umat muslim seperti halnya para sahabat menjadi khalifah . Mereka akan terus memegang amanah menjadi seorang pemimpin dan akan berpegang teguh sesuai dengan syariat Islam meskipun seperti memegang bara api.

Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ القَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْر

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”
(HR.Tirmidzi. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.8002).

Sudah saatnya umat muslim meninggalkan sistem kapitalisme yang hanya menyengsarakan rakyat. Dan saatnya kembali kepada syariat Islam, sesuai dengan firman Allah swt. dalam Q.S Al Maidah ayat 50:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”Wallohualam Bishowab.[]

*Praktisi pendidikan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 3 =

Rekomendasi Berita