by

Stop Bullying, Stop Generasi Miskin Nurani

-Opini-90 Views

 

 

Oleh: Eno Fadli, Pemerhati Kebijakan Publik

_________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Aksi bullying yang dilakukan pelajar semakin marak terjadi, contohnya kasus bullying pelajar yang dilakukan oleh teman sekelas di Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Korban yang merupakan siswa SD dipaksa oleh teman-temannya untuk bersetubuh dengan kucing dan kejadian tersebut direkam menggunakan ponsel, sehingga karena kejadian ini menyebabkan korban depresi tidak mau makan dan minum dan sampai pada akhirnya meninggal dalam perawatan di Rumah Sakit (CNNindonesia.com, 21/07/2022).

Kembali lagi terjadi kasus bullying yang menimpa seorang siswa SMP Baiturrahman, Kota Bandung, Jawa Barat. Korban dipakaikan helm oleh teman-temannya lalu salah satu dari mereka memukul dan menendang kepala korban berulang kali hingga jatuh tersungkur. Setelah diadakan mediasi oleh Polres setempat dengan dihadiri kedua pihak dari pelaku dari orang tua pelaku dan korban, kasus ini berakhir damai.

Belum selesai kehebohan kasus bullying yang terjadi di mana pelaku dan korban sama-sama seorang pelajar, kini viral bullying yang dilakukan pelajar SMP terhadap seorang nenek di Tapanuli Selatan, di mana seorang pelajar yang sedang bersama dengan rombongan teman-temannya menendang seorang nenek hingga tersungkur. Aksi ini kembali berujung damai setelah diadakan mediasi oleh Polres setempat (Kumparan.com, 20/11/2022).

Banyaknya fakta mengungkap bullying oleh para pelajar, baik itu korbannya teman sendiri maupun pihak lain di luar lingkungan sekolah dengan kasus beragam, baik itu kasus ringan sampai berat yang berujung pada kematian.

Menurut hasil riset Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 menunjukkan 41,1 persen murid di Indonesi mengaku pernah mengalami kasus perundungan (bullying). Dengan ini indonesia berada di posisi ke 5 tertinggi dari 78 negara dengan kasus bullying atau perundungan di sekolah.

Pada skala Nasional, KPAI mendata bahwa tahun 2018 terdapat 84 persen pelajar mengalami kekerasan di lingkungan sekolah.  Dari 445 kasus sepanjang 2018 merupakan kasus kekerasan fisik, seksual maupun verbal baik itu pelaku dari kalangan pelajar maupun tenaga pendidik.

Sederetan kasus di atas sungguh telah mencoreng nama baik dunia pendidikan. Kasus demi kasus dan perilaku pelajar sungguh mengerikan. Mereka menjadi pelajar yang miskin nurani, krisis adab dan moral.

Sehingga sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan mereka? Kenapa mereka melakukan aktivitas di luar nurani mereka, aktivitas yang sama sekali tidak menunjukkan identitas mereka sebagai seorang pelajar yang berbudi luhur, berakhlak mulia dan bertakwa sebagaimana tujuan pendidikan Nasional berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003.

Krisis adab yang terjadi di tengah pelajar negeri ini tentunya tidak terlepas dari penerapan sistem pendidikan sekuler yang diadopsi negeri ini. Di mana dunia pendidikan hanya berorientasi pada prestasi akademik yang diarahkan pada dunia kerja dan bukan menjadi pelajar yang berkepribadian luhur, berakhlak mulia dan bertakwa sebagaimana kepribadian pelajar dalam sistem pendidikan Islam.

Dari bangku sekolah dasar sampai perguruan tinggi mereka hanya diarahkan bagaimana agar bisa menjadi pengisi lapangan kerja. Target pendidikannya pun hanya untuk mengejar target kurikulum yang berlaku sedangkan pembelajaran yang menanamkan ketakwaan, adab dan akhlak yang mulia sangat minim diberikan.

Nilai-nilai agama semakin dijauhkan, tercermin dari peta pendidikan Nasional tahun 2020 sampai 2035 yang kini tengah digodok oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Sudah sangat jelas, sistem sekuler yang diterapkan di dunia pendidikan yang menjadikan maraknya kasus di dalam dunia pendidikan, baik itu kasus bullying, pergaulan bebas, tawuran, narkoba, kekerasan seksual bahkan kasus kekurangajaran siswa terhadap guru.

Islam mempunyai solusi yang jelas, untuk mengubah perilaku pelajar yang rusak, minim adab, dan jauh dari akhlak yang mulia, dengan penerapan sistem pendidikan Islam.

Dalam sistem pendidikan Islam, akidah Islam dijadikan sebagai asas pendidikan. Para pelajar ditanamkan keimanan kepada Allah SWT dan ketaatan pada hukum syara’ dari setiap ilmu yang dipelajarinya.

Sistem pendidikan dalam Islam juga mempunyai tujuan yang sangat jelas untuk mencetak kepribadian Islam pada diri para pelajar. Mereka dibentuk pola pikir dan pola sikap agar selalu selaras dengan Islam.

Pengajaran yang diberikan bukan sekedar hafalan semata atau teori, tetapi ilmu yang didapatkan mereka untuk menjadi petunjuk bagi mereka sebagai amalan praktis/amaliah. Mereka juga disiapkan menjadi pribadi yang mempunyai kecerdasan yang beragam agar bisa berkontribusi bagi umat.

Ketika terjadi pelanggaran atau tindakan kriminalitas, negara menerapkan hukum secara tegas kepada pelakunya. Jika para pelajar yang melakukan tindakan kriminal atau pelanggaran terhadap hak-hak masyarakat mereka.

Jika terbukti baligh akan diberikan sanksi layaknya orang dewasa. Jika terbukti belum baligh maka orang tua atau wali diperintahkan untuk mendidik dan menasehati mereka.

Karena membentuk kepribadian para pelajar juga tidak terlepas dari peran asuh keluarga. Orang tua membekali diri mereka dengan ilmu agama, sehingga mereka dapat mendidik dan mengasuh anak-anak mereka dengan penanaman akidah, adab, dan akhlak yang menjadikan mereka menjadi pribadi yang taat, dan berakhlak mulia.

Masyarakat dan lingkungan pun mempunyai peran penting dalam upaya membentuk kepribadian mereka. Masyarakat menjadi kontrol sosial dengan upaya-upaya pencegahan dalam tindakan pelanggaran dengan aktivitas amar makruf nahi munkar, sehingga tercipta lingkungan kondusif yang penuh dengan ketakwaan.

Media dan tontonan yang mengajarkan budaya hedonis, liberal dan bentuk pelanggaran terhadap hukum syara’ ditindak tegas oleh negara, karena akan menjadi sulit untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak jika informasi ini tetap ditayangkan.

Seperangkat aturan dalam Islam inilah yang dapat menghilangkan carut-marut permasalahan dalam dunia pendidikan khususnya kasus bullying yang marak terjadi.

Untuk melahirkan generasi cerdas, berkualitas, bertanggung jawab dan berakhlak mulia diperlukan perbaikan secara menyeluruh, yaitu dengan mengubah sistem pendidikan yang mengadopsi paradigma sekuler menjadi sistem pendidikan berbasis Islam.

Hal ini sudah terbukti pada masa kegemilangan Islam selama 14 abad dengan melahirkan generasi-generasi unggul di bidangnya. Wallahu a’lam bishshwab.[]

Comment