by

Tunjangan Dewan Fantastis, Hati Rakyat Teriris

 

 

Oleh:  Sri Nurhayati, S.Pd.I, Pengisi Keputrian SMAT Krida Nusantara

_________

 

RADARI DONESIANEWS.COM, JAKARTA- Di tengah kondisi ekonomi rakyat yang masih membutuhkan keseriusan dalam mengatasinya, kita dikejutkan dengan wacana yang saat ini hangat diperbincangan oleh warga Kabupaten Bandung. Wacana yang sangat membuat hati rakyat teriris bagai ditusuk sembilu.

Bagaimana tidak? Di tengah rakyat sangat mengharapkan perhatian dan kepedulian dari para penguasa, justru mereka harus mendapatkan sebuah kekecewaan.

Pasalnya, dalam pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2021 Kabupaten Bandung beberapa waktu yang lalu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bandung mengusulkan kenaikan tunjangan perumahan dan trasportasi bagi mereka. Tak tanggung-tanggung kenaikannya ditaksir mencapai 100% dari sebelumnya. (https://www.pikiran-rakyatcom/bandung-raya/pr-012687524/anggota-dprd-kabupaten-bandung-yang-terhormat-minta-tinjangan-naik-100-persen-hati-rakyat-tersayat)

Sungguh ini suatu hal yang fantastis. Disaat rakyat terus berjuang hanya untuk mendapatkan sesuap nasi dan memenuhi kebutuhan mereka, agar bisa tetap bertahan hidup. Tetapi para wakil mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri dengan usulan kenaikan tunjangan mereka.

Usulan akan kenaikan tunjangan para pejabat, tidak hanya kali ini saja terjadi. Sebelumnya pun sempat ramai terkait usulan tunjangan bagi Wakil Menteri. Sungguh ini adalah sebuah kezaliman yang nyata.

Hilangnya kepekaan telah menutup hati nurani mereka terhadap kondisi rakyat. Seolah tak peduli lagi dengan apa yang rakyat alami, yang penting mereka dapat sebuah kemewahaan dari jabatan mereka.

Hilangnya hati nurani dari para penguasa atau pemimpin adalah hal yang miris. Namun kondisi ini adalah hal yang pasti terjadi dalam sistem saat ini. Karena sistem demokrasi-kapitaslisme yang diterapkan negeri ini, hanya akan melahirkan penguasa-penguasa yang hanya ingin mengambil keuntungan saja dari rakyat dan tidak memiliki kesadaran sebagai penguasa yang memiliki tanggung jawab untuk mengurusi umatnya. Serta rasa takut akan ketidakmampuannya melaksanakan tanggung jawab ini. Rasa takut yang disandarkan hanya kepada Allah.

Rasa takut kepada Allah yang akan menjadi benteng bagi dirinya agar tidak terjerumus pada kemaksiatan dan akan terus mendorong pada ketundukan kepada Allah Swt. dalam setiap perilakunya. Karena dengannya akan menjadikan mereka yang mengemban amanah kepemimpinan agar melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Dia akan selalu memperhatikan setiap kebutuhan rakyatnya karena ia takut akan pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah Swt.

Berbicara tentang pemimpin takut yang takut kepada Allah, sosok dirinya pasti salah satu yang akan disebut. Profil atau sosok pemimpin yang terbaik, jujur, tanpa pamrih dan tak segan mengakui kesalahannya.

Salah satu contoh pribadi-pribadi yang taat dalam beragama, gesit, cerdas, kreatif dan penuh keteladanan. Itulah sifat yang harus dimiliki dalam diri seorang pemimpin, ada dalam dirinya.

Al Faruq adalah gelar yang disebatkan oleh Rasulullah saw. kepadanya. Pembeda antara kebenaran dan kebathilan. Keislamannya telah membawa kekuatan bagi kaum muslimin untuk menghadapi perlawanan yang semakin keras dari kaum Quraisy. Dialah Umar bin Khattab ra, sahabat dari kekasih Allah, Muhammad Rasulullah saw.

Umar, pemimpin yang tiada tempat baginya sebuah kelezatan dan kenikmatan makanan dan kesegaran minuman. Baginya tidak ada arti kemewahan dan kesenangan hidup di atas bumi ini dibandingkan dengan kenikmatan dan kepuasan hati. Inilah orang besar yang bersedia hidup sederhana, walaupun kekuasaan ada dalam genggaman tangannya.

Inilah sosok satria penegak keadilan yang memiliki kelembutan hati dan tak pernah mengenyam istirahat. Karena sebagian siang dan malamnya digunakan untuk mengurusi urusan rakyat.

Bahkan dia yang langsung turun tangan mengurusi setiap kebutuhan rakyatnya. Ketegasan dan kelembutan dalam memimpin, beliau tunjukkan saat menetapkan suatu kebijakan. Serta tak malu untuk mengakui kekeliruannya saat ada yang meluruskannya dalam menetapkan kebijakan.

Bahkan pada saat kemarau yang panjang melanda, saat itu hujan sama sekali tidak turun di Semanjung Arab selama sembilan bulan. Sehingga mengakibatkan segala usaha pertanian dan pertenakan hancur semuanya. Hewan ternak kurus kering, unta dan kambing pun tak mampu menghasilkan susu. kondisi ini membawa rakyat pada kelaparan yang berkepanjangan.

Melihat kondisi yang begitu memprihatikan ini, Umar bin Al-khattab bersumpah tidak akan memakan daging dan samib sampai semuanya kembali seperti sedia kala. Umar memegang teguh sumpahnya sampai kondisi ini berakhir.

Demokrasi Liberal Tidak akan Mampu Melahirkan Pemimpin yang Takut Kepada Allah

Demokrasi liberal adalah sistem yang saat ini diagung-agungkan dan dibanggakan oleh sebagian orang. Sistem demokrasi yang selalu digembar-gemborkan sebagai pemerintahan yang kedaulatannya ada di tangan rakyat. Artinya aturan yang ada dibuat oleh manusia. Karena ia lahir dari ide memisahkan agama dari kehidupan (sekulerisme). Agama dalam ide ini tidak ada hak untuk turut serta dalam mengatur urusan kehidupan. Karena itu, demokrasi beranggapan bahwa manusia berhak bertindak sesuai kehendak dan keinginannya.

Demokrasi liberal sejatinya tidak akan pernah melahirkan pemimpin yang takut kepada Allah. Karena demokrasi menuntut dia untuk meniadakan Allah dalam kehidupan. Tidak diterapkannya aturan Allah salah satu bukti nyata akan hal ini.

Bahkan demokrasi semu ini berani mengkriminalisasi orang-orang yang mengajak untuk kita menerapkan aturan Allah. Serta membubarkan kelompok yang ingin memperbaiki negeri ini dengan mengembalikan aturan Allah agar keberkahan dan kesejahteraan bisa terwujud. Bukannya didukung tapi mereka yang menyeru kepada yang hak dituduh sebagai makar dan pemecah belah.

Demokrasi semacam ini telah melahirkan para pemimpin yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Usulan kenaikan tunjangan, tindak korupsi yang terus merajalela menjadi bukti akan ketidak pedulian mereka.

Selain itu sikap mereka yang tidak memberikan contoh bagi masyarakat, seperti kasus narkoba yang banyak melibatkan para pejabat baik pusat atau daerah.

Jika mereka memiliki rasa takut kepada Allah, mereka tidak akan melakukan kemaksiatan di atas. Dan kemaksiatan terbesar adalah tidak menerapkan aturan Allah.

Bahkan mereka berani membuat aturan sendiri dan mengenyampingkan hukum Allah. Karena demokrasi dari lahirnya sudah tidak mengakui peranan aturan Allah, dengan memisahkannya dalam kehidupan.

Karena pemimpin yang memiliki rasa takut kepada Allah tidak akan lahir di alam demokrasi. Karena rasa takut kepada Allah akan mendorong kita untuk selalu terikat pada aturan Allah. Termasuk dalam menerapkan aturan Allah secara menyeluruh di tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena Allah telah memberikan semua aturan untuk kita semua. Muslim ataupun nonmuslim. Sedangkan demokrasi tidak menjadikan aturan Allah sebagai aturan yang kehidupan bernegara.

Hanya Islam yang Mampu Melahirkan Pemimpin yang Takut Kepada Allah

Islam adalah ad-din yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, mengatur hubungan manusia dengan dirinya, dan mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia. Islam sebagai aturan yang sempurna mengatur seluruh kehidupan dan urusan manusia.

Sosok Umar bin Khattab sesungguhnya, ia lahir dari aturan Islam yang diterapkan di tengah–tengah masyarakat. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, itulah awal beliau menerapkan aturan Islam secara menyeluruh (kafah) di tengah masyarakat.

Sosok Umar adalah salah satu yang lahir darinya. Karena aturan Islam lahir dari ide (akidah) mentauhidkan Allah. Ide ini menjadi dasar bahwa aturan yang diterapkan berdasarkan apa yang sudah Allah tetapkan. Yakni berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.

Aturan Islam yang diterapkan dalam bingkai negara akan melahirkan sosok–sosok pribadi yang taat dan takut kepada Allah. Karena aturan Islam tegak atas tiga pilar, ketakwaan individu, adanya kontrol masyarakat dan penerapan aturan Islam oleh negara. Hal ini akan menjaga setiap individunya untuk tetap terjaga pada ketaatan dan ketakwaan kepada Allah. Termasuk untuk pemimpin mereka.

Islam menetapkan seorang pemimpin dengan syarat yang harus dipenuhi oleh mereka yang ingin menjadi pemimpin. Karena dia yang akan memimpin masyarakat untuk menerapkan aturan dari Allah. Syarat–syarat itu diantaranya:
Pertama, seorang muslim, tidak sah kepemimpinan diserahkan kepada orang yang tidak mengimani Allah dan tidak ada kewajiban untuk menaatinya.

Hal ini berdasarkan firman Allah Swt. dalam surat An-Nisa ayat 141, yang artinya, “Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang Mukmin.”

Kedua, seorang laki-laki, kepemimpinan dalam urusan pemerintahan tidak boleh seorang perempuan. Hal ini berdasarkan pada hadis yang diriwayatkan Imam al Bukhari dari Abu Bakrah, Rasulullah telah bersabda: “Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan.” (HR. Al-Bukhari)

Ketiga, harus balig, seorang pemimpin tidak boleh orang yang belum balig. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dari Ali bin Abi Tholib, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Telah diangkat pena (beban hokum) dari tiga golongan: dari anak-anak hingga ia balig; dari orang tidur hingga ia bangun; dan dari orang yang rusak akalnya hingga ia sembuh.” (HR. Abu Dawud)

Keempat, orang yang berakal, orang gila tidak sah untuk menjadi pemimpin. Karena akal adalah tempat pembebanan hukum. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dari Ali bin Abi Tholib, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Telah diangkat pena (beban hokum) dari tiga golongan: dari anak-anak hingga ia balig; dari orang tidur hingga ia bangun; dan adari orang yang rusak akalnya hingga ia sembuh.” (HR. Abu Dawud)

Kelima, orang yang adil, tidak sah seorang yang pasik menjadi pemimpin. Karena seorang pemimpin akan menjalankan kekuasaan dan keberlangsungannya.

Keenam, seorang yang merdeka atau tidak ada dalam kekuasaan orang atau pihak lain. Karena jika ia ada dalam kekuasaan orang atau pihak lain, ia tidak memiliki wewenang untuk mengatur urusannya dan urusan masyarakat.

Ketujuh, seorang yang memiliki kemampuan dalam memimpin. Karena dia akan menjalankan amanah untuk mengurusi urusan rakyatnya. Jadi kemampuan menjadi salah satu syarat yang harus dimiliki seorang pemimpin.
Itulah syarat–syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam Islam. Hal ini tidak lain agar tetap terjaganya aturan Islam secara secara menyeluruh di tengah–tengah masyarakat.

Haruslah kita fahami, bahwa penerapan Islam ini hanya akan tegak dengan sebuah negara yang diwariskan Rasulullah saw. dan para Khulafah ar Rasyidin kepada kita semua. Negara itu tak lain adalah khilafah. Karena dialah bingkai Islam yang akan menjaga aturannya diterapkan secara menyeluruh.

Hanya dengan penerapan Islam dalam bingkai khilafahlah sosok pemimpin yang takut kepada Allah akan lahir. Pemimpin yang akan senantiasa mengurusi urusan rakyatnya dengan adil, tanpa ada dusta dalam menjalankan setiap amanahnya. Dia akan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan dirinya. Karena ia takut dan tahu bahwa kelak ia akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang ia lakukan dalam kepemimpinannya. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita