by

Sindikat Narkoba Miliki Rekening Gendut, Hati-Hati Terpincut

 

Oleh: Ammylia Ummu Rabani, Praktisi Pendidikan Qurani

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Sindikat narkoba masih saja merajalela di Nusantara. Meski pernah diberlakukan hukuman mati terhadap pelakunya, ternyata tak menutup peluang transaksi jual belinya. Tak ada jeranya.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas (Karopenmas Divhumas) Polri, Brigjen Rusdi Hartono mengatakan, Bareskrim Polri sedang menindaklanjuti temuan PPAT terkait adanya aliran dana Rp 120 triliun diduga berasal dari transaksi sindikat narkoba dengan melakukan investigasi bersama lembaga intelijen keuangan tersebut.

Bareskrim Polri melalui Direktorat Tindak Pidana Narkoba telah melakukan koordinasi dengan Pusat Pelaporan Aset dan Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menindaklanjuti temuan rekening jumbo sindikat narkoba tersebut. Dia mengatakan, Polri dan PPATK pada dasarnya selalu berkoordinasi dan komunikasi dengan baik dalam mengungkap beberapa kasus.

Dari pihak PPATK menyatakan bahwa kasus aliran dana Rp 120 triliun itu melibatkan pihak yang terlapor melibatkan sejumlah orang dan sejumlah korporasi. Totalnya ada 1.339 individu dan korporasi yang PPATK periksa dan catat sebagai aliran transaksi keuangan yang mencurigakan yang datang dari tindak pidana narkoba (Republika.com/7/10/2021).

Jumlah rupiah yang begitu fantastis. Rekening gendut yang membuat berbagai pihak bisa saja terpincut untuk memanfaatkan dana haram tersebut.

Namun, sebagai masyarakat yang semakin resah dengan kasus narkoba yang kian menggurita. Kami berharap agar aparat dan PPATK bukan hanya fokus pada rekening gendut milik sindikat narkoba tersebut. Apalagi jika diniatkan untuk dipajaki guna meraih pundi-pundi.

Kami sebagai masyarakat mengharapkan dengan ditemukannya rekening gendut ini, aparat dan penguasa untuk lebih serius dan tegas menindaklanjuti kasus narkoba yang telah memapari berbagai lapisan di masyarakat.

Peluang terjadinya transaksi narkoba mesti ditutup rapat. Selain itu, pembinaan terhadap masyarakat akan bahaya narkoba pun mesti semakin gencar direalisasikan. Selain itu, butuh pula pemberian sanksi yang menimbulkan jera.

Narkoba yang jelas sangat berbahaya karena dapat merusak akal dan jiwa pemakainya. Oleh karena itu, hukum mengonsumsi atau mengedarkan narkoba jelas haram dan telah dijelaskan oleh para ulama ahli fikih. Semuanya terangkum dengan rapi di dalam sistem sanksi Islam.

Islam itu hadir sebagai agama juga pandangan hidup yang paripurna. Adanya memuat segala urusan yang dihadapi umat manusia. Mulai dari bangun tidur sampai kepada membangun peradaban ada dalam cakupannya.

Sistem Islam juga mengatur tentang sanksi dalam masalah penyalahgunaan narkoba. Dalam tulisan K.H. M. Shiddiq al-Jawi yang berjudul “Hukum Seputar Narkoba Dalam Fiqih Islam” disebutkan bahwa sanksi bagi mereka yang menggunakan narkoba adalah ta’zir. Hukuman ta’zir yaitu sanksi yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh kadi (hakim) dalam sistem pemerintahan Islam, misalnya dipenjara, dicambuk, dan lain-lain.

Sanksi ta’zir dapat berbeda-beda sesuai tingkat kesalahannya. Pengguna narkoba yang baru berbeda hukumannya dengan pengguna narkoba yang sudah lama.

Hukuman itu juga berbeda bagi pengedar narkoba, atau bahkan bagi pemilik pabrik narkoba. Ta’zir dapat sampai pada tingkatan hukuman mati. (Saud Al Utaibi, Al Mausu’ah Al Jina`iyah Al Islamiyah, 1/708-709; Abdurrahman Maliki, Nizhamul Uqubat, 1990, hlm. 81 & 98).

Sistem sanksi yang tegas dalam Islam berfungsi sebagai zawajir (mencegah orang lain berbuat pelanggaran serupa) dan jawabir (penebus dosa manusia di kehidupan akhirat kelak). Fungsi ini tidak akan dapat kita temui jika sistem kehidupan dan hukum yang dijalankan adalah sistem sekuler kapitalisme seperti saat ini.

Justru sistem kapitalisme-sekularisme yang menumbuhsuburkan kasus penyalahgunaan narkoba di dunia. Sampai-sampai mendulang isi rekening gendut sindikat narkoba yang menjadikan negeri kian karut marut.

Oleh sebab itu, sudah saatnya kita campakkan sistem kapitalisme sekuler yang tabiatnya merusak generasi generasi Muslim dengan melanggengkan keberadaan narkoba tersebut dan sengaja tidak memberantasnya hingga ke akar-akarnya.

Sudah saatnya kita kembali kepada pengaturan Islam yang sesempurna. Demi masa depan generasi yang bersih akal dan jiwanya. Generasi yang kuat tak mudah depresi dan jatuh pada penyalahgunaan narkoba. Generasi yang salih salihah pemimpin peradaban Islam yang gemilang di bawah sistem Islam kafah yaitu Daulah Islamiyah ar-Rasyidah. Wallahu a’lam bish-shawwab.[]

Comment

Rekomendasi Berita