by

Ummu Zidny*: Menyelesaikan Persoalan Kekerasan Terhadap Anak

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — A day to Reimagine a Better Future for Every Child atau Menata Kembali Masa Depan Anak, itulah tema yang diangkat untuk memperingati Hari Anak Sedunia atau World Children’s Day pada tahun 2020 ini.

Hari anak sedunia yang diperingati setiap 20 November, merupakan hari untuk merayakan dan mempromosikan kesejahteraan anak-anak di seluruh dunia.

Tujuan diperingatinya Hari Anak Sedunia adalah untuk mengkampanyekan peningkatan kesejahteraan dan kesadaran di antara sesama anak di seluruh dunia.(suara.com,19/11/2020) .

Bagaimana dengan anak-anak Indonesia? Adakah mereka masih memiliki masa depan yang cerah? Mengingat banyaknya masalah yang dihadapi anak-anak, mulai dari pendidikan, kesejahteraan, tidak ketinggalan kasus kekerasan yang terus meningkat. Apalagi di tengah masa pandemi Covid -19 yang belum
ada tanda-tanda kapan berakhir, semakin membuat masa depan anak terancam.

Asisten Deputi Bidang Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi, Valentina Gintings menyoroti maraknya kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi selama pandemi.

“Berdasarkan data SIMFONI PPA, pada 1 Januari – 19 Juni 2020 telah terjadi 3.087 kasus kekerasan terhadap anak, di antaranya 852 kekerasan fisik, 768 psikis, dan 1.848 kasus kekerasan seksual, angka ini tergolong tinggi. Oleh karena itu dalam menghadapi New normal ini, kita harus pastikan angka ini tidak bertambah lagi dengan melakukan upaya pencegahan yang mengacu pada protokol penanganan anak korban kekerasan dalam situasi pandemi Covid-19,” jelas Valentina.(https://www.kemenpppa.go.id)

Padahal, Indonesia saat ini memiliki bonus demografi. Pemerintah pun telah mencanangkan Visi Indonesia Emas tahun 2045 dengan harapan terciptanya generasi produktif yang berkualitas pada 100 tahun kemerdekaan RI.

Penyebab Kekerasan Terhadap Anak

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmavati menyebutkan, kekerasan terhadap anak dan perempuan di Indonesia umumnya dipengaruhi masalah ekonomi.

Sebagaimana kita ketahui, saat ini kita masih berseteru dengan wabah Covid 19 yang tidak diketahui kapan akan berakhir.

Wabah ini juga menyebabkan sendi sendi ekonomi lumpuh dan berimbas juga kepada tatanan ekonomi keluarga. Banyak orang tua tertekan karena kondisi ini. Berupaya terus untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mulai dari kebutuhan pangan, sandang maupun papan.

Tapi, apalah daya, keadaan hari ini semakin sulit. Jangankan untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya sampingan, untuk memenuhi kebutuhan makan saja susah.

Sangat disayangkan, ketika orang tua atau pun orang terdekat yang harusnya menjadi pelindung bagi anak-anaknya, ketika mengalami tekanan, anakpun menjadi sasaran.

Pemerintah sebenarnya juga sudah berupaya menyikapi kasus kekerasan terhadap anak.

Menurut himbauan pemerintah ada tiga upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah meningkatnya angka kekerasan terhadap anak.

Pertama, memprioritaskan pencegahan kekerasan dengan melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Aksi pencegahan dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya, kampanye, sosialisasi, edukasi publik yang menarik dan memunculkan kepedulian sosial.

Kedua, membenahi sistem laporan dan layanan pengaduan kekerasan terhadap anak.

Ketiga, melakukan reformasi besar-besaran pada manajemen penanganan kasus kekerasan terhadap anak, agar dapat diproses cepat, terintegrasi dan komperehensif.

Namun, upaya yang dilakukan masih jauh dari harapan dan tindak kekerasan terhadap anak tetap terjadi bahkan meningkat dan beragam.

Tidak mengherankan, sistem kapitalisme sekuler memunculkan masalah yang saling berkaitan. Sektor ekonomi yang harusnya bisa digunakan untuk membantu kondisi ekonomi rakyat, justru dikuasai oleh segelintir orang.

Kesenjangan sosial menjadi sangat lebar, di satu sisi, rakyat bersusah payah untuk bertahan hidup, di sisi lain sangat berkecukupan bahkan berlimpah.

Selain itu, rendahnya pemahaman akan tanggung jawab terhadap anak sebagai amanah yang harus dijaga dan dilindungi juga tidak berjalan, yang terjadi anak kehilangan haknya untuk dilindungi dan diperhatikan.

Lalu, bagaimana mungkin mereka akan mendapatkan masa depan yang cerah, jika masalah ini terus terjadi?

Jika melihat akar permasalahan kekerasan terhadap anak, akan kita dapati bahwa persoalan ini tidaklah berdiri sendiri tetapi lebih disebabkan oleh aturan dan kebijakan yang diterapkan dan menganggap bahwa persoalan ini terjadi dan berdiri sendiri. Padahal, inilah buah dari sistem kapitalisme yang tidak lagi sesuai dengan nilai keadilan dan kemanusiaan.

Kapitalisme sekuler tidak mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh manusia bahkan membuat manusia terpimggirkan di jurang keterpurukan.

Solusi Tuntas Menurut Pandangan Islam

Untuk menyelesaikan masalah ini maka dibutuhkan semua pihak, mulai dari orangtua, masyarakat maupun negara.

Dari sisi orangtua, harus memahami bahwa anak adalah amanah yang dititipkan Allah yang harus dijaga dengan baik. Lalu, pentingnya juga kontrol dari masyarakat untuk saling membantu dan menjaga, sehingga sekecil apapun adanya tindak kekerasan terhadap anak bisa dicegah.

Tidak kalah pentingnya adalah peran negara yang harus totalitas memimpin rakyatnya, dalam hal ini bagaimana pemerintah bisa memenuhi kebutuhan rakyatnya dengan mengelola sumber daya ekonomi secara benar
sehingga kebutuhan rakyat pun bisa terpenuhi dengan baik.

Pemerintah dan atau instansi terkait memberikan edukasi dengan penanaman aqidah secara mendalam sehingga orang tua tidak abai terhadap anak dan mencegah mereka untuk melakukan kekerasan terhadap anak.

Oleh karena itu, jika kita ingin persoalan ini selesai maka kita harus kembali kepada aturan Allah yang Mahasempurna sehingga terwujudnya generasi produktif dan berkualitas bukan lagi mimpi.Wallahu a’lam bisshowab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten − 2 =

Rekomendasi Berita