Urgensi Persatuan Kaum Muslim

Opini738 Views

 

Oleh : Raihun Anhar, S.Pd | Mahasiswi Pascasarjana UIKA Bogor

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Palestina sejak Taufan Al Aqsa 7 Oktober 2023 sampai sekarang masih belum usai. Makin memanas lagi dikarenakan penjajah terus mengepung mereka di Gaza, sampai-sampai bantuan tidak mereka dapati.

Hal ini membuat Gretha aktivis iklim Swedia dan kawan-kawannya dengan kapal Madleen yang berusaha ke Palestina agar bantuan bisa sampai. Mengingat sudah dua bulan bantuan tidak masuk ke Gaza. Namun, mereka ditahan dan dideportasi ke negara mereka masing-masing.

Setelah aksi Gretha dan kawan-kawannya, muncullah aksi global march to Gaza yang dimulai sejak 12-15 Juni 2025. Warga negara Tunisia memulai aksi hingga Raffah pada 9 Juni, namun mereka juga dideportasi oleh rezim Mesir. Perwakilan Indonesia juga tidak dibebaskan sampai di Rafah. Ini adalah aksi protes menuntut agar bantuan bisa masuk ke Gaza.

Mereka yang bukan muslim bersatu membela Palestina dengan dasar kemanusian. Sedangkan negeri-negeri muslim tak berdaya melawan Israel. Mesir mendeportasi dan memblokir Rafah agar para peserta global marc tidak dapat masuk ke Gaza. Mesir melakukan itu karena ancaman militer yang datang dari Israel.

Di saat non muslim bersatu membela Palestina dan mengambil tindakan berani. Berbeda dengan negeri-negeri muslim yang masih lemah, tidak bersatu bahkan takut pada penjajah. Mengapa demikian?

Hal itu karena tidak adalah satu institusi yang menyatukan negeri-negeri muslim seperti dulu. Mereka disekat oleh nasionalisme yang memisahkan Palestina dengan Mesir, Arab Saudi, Libanon, Suriyah, dan lainnya. Padahal mereka dulunya bersatu dalam sebuah negara Islam.

Palestina sebelum Israel ada tahun 1948, mereka pernah dijajah Romawi dan dibebaskan oleh Khilafah melalui pasukan perang yang dipimpin oleh Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah bin Jarah.

Palestina juga pernah di jajah Pasukan Salib, kemudian berhasil dibebaskan oleh Salahuddin Al Ayyubi. Umar dan Salahuddin membebaskan negeri ini dengan kekuatan militer dalam satu komando. Kini Palestina dijajah Israel, namun bedanya negeri-negeri muslim tidak bersatu seperti di masa Khalifah Umar dan Salahuddin.

Oleh karena itu, tugas muslim sekarang adalah menyatukan negeri-negeri muslim dibawah satu komando di bawah pemerintahan Islam global. Dengan begitu, pasukan perang terbaik akan menyelamatkan Palestina (Baitul Maqdis).

Tidak ada cara lain melawan penjajah kecuali dengan jihad. Sudah terbukti berbagai cara yang dilakukan gagal. Diplomasi, gencatan senjata, aksi menembus laut dan darat, two state solution tidak bisa juga. Maka pilihan terakhir adalah jihad sebagimana Khalid bin Walid, Abu Ubaidah bin Jarah, dan Salahuddin Al Ayyubi.

Bagaimana cara menyatukan negeri-negeri muslim? Cara terbaik sudah dicontohkan oleh manusia terbaik yakni Rasulullah SAW. Rasul berdakwah selama 10 tahun di Mekkah mengajak pemimpin Qurais menerapkan Islam. Di saat Qurais menolak, Rasulullah SAW mencoba dakwah ke Thaif dan Yastrib. Kemudian Yastrib di tahun ke 11 kenabian, mereka menerima dakwah Rasulullah melalui Musab bin Umair dan memberikan kekuasaan kepada Rasul yang diawali dengan peristiwa hijrah.

Rasul setelah mendirikan negara Islam di Madinah. Beberapa tahun kemudian melakukan jihad untuk membebaskan Syam (Palestina, Suriyah, dan Libanon) dari Romawi.

Mengingat Baitul Maqdis adalah kiblat pertama kaum muslim. Rasul terlibat langsung dalam perang Tabuk guna membebaskan Syam, kemudian diutus Usamah bin Zaid dan Khalid bin Walid untuk membebaskannya. Setelah Rasulullah SAW wafat perjuangan itu dilanjutkan Abu Bakar hingga berhasil dibebaskan setelah Umar bin Khattab menjadi Khalifah.

Maka dari itu, jangan saling bermusuhan sesama muslim karena beda pendapat. Islam tidak melarang berbeda pendapat tetapi dilarang bermusuhan karena beda pendapat.

Wujudkan persatuan Islam global dengan dakwah kepada para penguasa muslim untuk menerapkan Islam sebagaimana yang dilakukan Musab bin Umair dalam mendakwahkan Saad bin Muadz dan penguasa Yastrib hingga Yastrib menjadi negara Islam yang menyatukan Anshor dan Muhajirin hingga berhasil bebaskan Baitul Maqdis/Palestina.[]

Comment