Penulis: Adla Monsheva
Mahasiswi Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Viralnya sebuah video TikTok yang membahas pernikahan muda kembali memantik perdebatan publik di ruang digital Indonesia. Kali ini, sorotan tertuju pada seorang konten kreator perempuan berusia 19 tahun yang menyampaikan pandangannya soal menikah di usia muda, sekaligus menilai generasi seusianya terlalu takut menghadapi kedewasaan.
Video berdurasi singkat itu dengan cepat menembus jutaan penayangan, masuk ke halaman For You Page (FYP), dan menyebar ke berbagai platform lain seperti Instagram dan X.
Di Jakarta dan sejumlah kota besar lain, diskusi soal menikah muda kembali ramai, terutama di kalangan mahasiswa dan generasi Z yang aktif di media sosial.
Dalam kontennya, sang kreator menyatakan bahwa menikah muda bukan sesuatu yang perlu ditakuti selama dijalani dengan kesiapan mental, emosional, dan tanggung jawab. Ia juga menyiratkan bahwa sebagian anak muda terlalu menunda komitmen hidup karena terfokus pada pendidikan dan karier.
Namun, respons publik tidak sepenuhnya sejalan. Kolom komentar TikTok dan lini masa media sosial lain dipenuhi perdebatan tajam. Sebagian kecil warganet mendukung pandangan tersebut dan menilai pernikahan muda sebagai pilihan hidup yang sah.
“Menikah muda itu pilihan, bukan kewajiban. Kalau siap, kenapa tidak?” tulis salah satu pengguna TikTok.
Di sisi lain, kritik justru mendominasi. Warganet menyoroti fakta bahwa sang kreator menikah di usia 19 tahun dengan pasangan berusia 29 tahun. Perbedaan usia tersebut memunculkan tudingan praktik child grooming, meski pernikahan itu secara hukum sah.
“Dia 19 tahun, suaminya 29 tahun. Gimana ya ngejelasinnya,” tulis seorang pengguna.“Yang nikah muda cuma kamu, suamimu enggak,” komentar lainnya.
Perdebatan semakin meluas ketika publik mulai menyoroti latar belakang ekonomi sang kreator. Sejumlah warganet menyebut pandangannya tidak lepas dari privilese keluarga berkecukupan, sehingga dinilai kurang relevan bagi mayoritas anak muda yang masih berjuang secara ekonomi.
“Anak pewaris seperti kamu tahu apa soal kerasnya hidup?” tulis salah satu komentar yang banyak disukai.
“Kamu bisa nikah muda karena enggak mikirin ekonomi,” timpal warganet lain.
Kontroversi kian memanas saat sang kreator dan suaminya menyinggung isu pendidikan. Dalam salah satu video lanjutan, suaminya bahkan menyebut kuliah sebagai sebuah scam. Pernyataan ini memicu reaksi keras, terutama dari mahasiswa dan konten kreator edukasi.
“Belajar bisa dari mana saja, tapi gelar dan ilmu dari kampus penting untuk masuk dunia kerja,” ujar seorang kreator dalam video tandingan.
“Bagi sebagian orang, kuliah adalah jalan keluar dari kemiskinan, bukan sekadar pilihan,” tulis warganet lainnya.
Tak sedikit pula pengguna media sosial yang membagikan pengalaman pribadi tentang pernikahan muda—ada yang berakhir bahagia, namun banyak pula yang penuh tantangan.
Diskusi pun bergeser dari sekadar soal usia menikah, menuju isu ketimpangan ekonomi, akses pendidikan, dan realitas sosial generasi muda Indonesia.
Fenomena ini sejatinya bukan hal baru. Topik menikah muda kerap viral di TikTok, platform yang mayoritas penggunanya adalah remaja dan dewasa muda. Isu ini mudah memantik emosi karena bersinggungan langsung dengan nilai budaya, agama, dan kondisi sosial yang sangat beragam di Indonesia.
Sejumlah pengamat komunikasi digital menilai, viralnya konten semacam ini menunjukkan betapa kuatnya peran media sosial dalam membentuk opini publik.
Namun, mereka juga mengingatkan pentingnya sikap kritis dalam mengonsumsi konten viral, terutama yang menyangkut keputusan hidup besar seperti pernikahan dan pendidikan.
Perdebatan tentang menikah muda, privilese ekonomi, dan makna pendidikan tampaknya akan terus bergulir di ruang digital. Bagi publik, terutama generasi muda, fenomena ini menjadi pengingat bahwa setiap pilihan hidup memiliki konteks, risiko, dan tantangan yang berbeda—dan tidak bisa diseragamkan hanya dari potongan video berdurasi singkat.
Di tengah derasnya arus media sosial, kebijaksanaan dan nalar kritis menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam narasi viral yang menyederhanakan persoalan kompleks kehidupan.










Comment