Wakapolri Tinjau Seleksi Taruna Akpol, Teknologi Medis Modern Digunakan Perkuat Akurasi Rekrutmen

Nasional49 Views

RADARINDONESIANEWS. COM, SEMARANG -– Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Dedi Prasetyo, meninjau langsung pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan (Rikkes) Spesialistik seleksi tingkat pusat penerimaan Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026 di Gedung Serbaguna Akpol, Lemdiklat Polri, Semarang, Selasa, 7 Juli 2026.

Peninjauan dilakukan bersama R. Z. Panca Putra Simanjuntak, Daniel Tahi Monang Silitonga, I Gusti Gede Maha Andikajaya, serta Erthel Stephan.

Pengawasan dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan pemeriksaan kesehatan berlangsung secara profesional, transparan, akuntabel, dan memanfaatkan teknologi kedokteran terkini guna menghasilkan proses rekrutmen yang objektif serta berbasis bukti ilmiah.

Sebanyak 409 calon taruna dan taruni mengikuti Rikkes Spesialistik dari total 410 peserta yang berhak mengikuti seleksi tingkat pusat. Satu peserta dilaporkan mengundurkan diri sebelum pemeriksaan berlangsung.

Para peserta menjalani pemeriksaan di 12 stasiun spesialistik, meliputi pemeriksaan mata, telinga-hidung-tenggorokan (THT), gigi dan mulut, saraf, komposisi tubuh, bedah, penyakit dalam, jantung, obstetri dan ginekologi (Obgyn), radiologi dan paru, kulit, serta pemeriksaan kepadatan tulang atau Bone Mineral Density (BMD).

Dalam peninjauan tersebut, Dedi memberikan perhatian khusus terhadap pemanfaatan teknologi kedokteran modern yang digunakan Pusdokkes Polri. Salah satunya ialah pemeriksaan Heart Rate Variability (HRV) untuk menganalisis irama dan ketahanan jantung peserta.

Ia menginstruksikan agar pemeriksaan jantung tidak hanya dilakukan saat peserta beristirahat, tetapi juga setelah aktivitas fisik. Menurut dia, langkah itu diperlukan agar kemampuan jantung menghadapi beban fisik selama pendidikan dapat dinilai secara lebih akurat.

Selain itu, Dedi meninjau penggunaan alat Bone Mineral Density (BMD) berbasis digital untuk mengukur kepadatan tulang calon taruna dan taruni. Pemeriksaan tersebut ditujukan untuk mendeteksi secara dini potensi patah tulang maupun cedera muskuloskeletal.

Ia juga meninjau pemeriksaan kapasitas paru melalui VO₂ Max guna memastikan fungsi pernapasan dan daya tahan fisik peserta. Menurutnya, seluruh instrumen kesehatan berbasis digital tersebut menjadi dasar pengambilan keputusan yang objektif sehingga peserta yang dinyatakan lulus benar-benar memenuhi standar kesehatan sebagai calon perwira Polri.

Karokespol Pusdokkes Polri, Brigjen Pol. I Gusti Gede Maha Andikajaya, mengatakan pemeriksaan kesehatan seleksi Taruna Akpol kini mengintegrasikan teknologi kedokteran modern untuk meningkatkan akurasi diagnosis.

“Pemeriksaan kesehatan tidak lagi hanya bertumpu pada pemeriksaan klinis konvensional. Melalui pemeriksaan HRV, tim dokter dapat mengevaluasi respons fisiologis jantung dan kemampuan adaptasi tubuh terhadap beban fisik,” kata Maha Andikajaya.

Dia menambahkan, pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD) memberikan gambaran objektif mengenai kepadatan tulang untuk mengidentifikasi risiko cedera sejak dini. Sementara itu, pemeriksaan VO₂ Max digunakan untuk mengukur kapasitas aerobik dan daya tahan kardiopulmoner peserta.

“Seluruh parameter tersebut dipadukan dengan hasil pemeriksaan spesialistik lainnya sehingga menghasilkan penilaian kesehatan yang lebih komprehensif, objektif, dan berbasis bukti ilmiah,” ujarnya.

Dalam arahannya, Dedi juga menekankan pentingnya pemeriksaan ketat terhadap riwayat penyakit bawaan maupun gangguan saraf, seperti epilepsi, agar dapat terdeteksi sejak awal proses seleksi.

Khusus bagi calon taruni, ia meminta pemeriksaan ulang obstetri dan ginekologi dilakukan pada hari ke-16 hingga ke-20 setelah pengumuman kelulusan sebagai langkah preventif untuk memastikan seluruh peserta memenuhi standar kesehatan sebelum memasuki pendidikan.

Lebih lanjut, Dedi mendorong Pusdokkes Polri terus memperbarui spesifikasi peralatan medis dan mengadopsi perkembangan ilmu pengetahuan serta referensi dari literatur dan jurnal kedokteran terbaru.

Menurut dia, modernisasi instrumen kesehatan merupakan investasi penting untuk membangun sistem rekrutmen Polri yang semakin presisi, transparan, dan mampu menghasilkan sumber daya manusia unggul sejak tahap seleksi.

Melalui pengawasan tersebut, Wakapolri menegaskan proses rekrutmen Taruna dan Taruni Akpol harus mengedepankan objektivitas, transparansi, akuntabilitas, dan pendekatan ilmiah.

Pemanfaatan teknologi kedokteran modern, kata dia, menjadi bagian dari transformasi rekrutmen Polri yang mendukung terwujudnya sistem Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (BETAH) serta penguatan konsep scientific policing.[]

Comment