by

Wulansari Rahayu, S.Pd: Ekonomi Di Ambang Resesi, Indonesia Butuh Solusi

-Opini-50 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Saat ini pemberitaan tentang resesi ekonomi sedang hangat di perbincangkan di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Beberapa waktu lalu Korea Selatan memasuki resesi ekonomi kemudian menyusul Singapura.

Diperkirakan Indonesia juga rentan memasuki jurang yang sama. Hal ini dicatat pada penyusutan pertumbuhan ekonomi akhir kuartal ketiga, atau bulan September kemarin.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi penurunan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia terkait pandemi Covid-19 berada di kisaran 4 persen sampai terburuk di angka -0,4 persen (detikFinance.com).

Ini menandakan Indonesia sedang di ambang resesi ekonomi.
Resesi ekonomi adalah kondisi perekonomian sebuah negara dan rakyatnya yang sedang memburuk. Ditandai oleh berkurangnya produksi, melemahnya pendapatan, meroket atau merosotnya harga barang, dan bertambahnya pengangguran.

Ini tampaknya sedang terjadi di Indonesia. Menurut dari data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), sampai dengan Selasa 2 Juni 2020 ada 3,05 juta pekerja yang terdampak virus corona di PHK atau dirumahkan. UMKM juga tak luput terkena imbas dari kontraksi virus Corona ini.

Dihimpun dari detikNews.com sekitar 119 UMKM (9%) mengalami kesulitan distribusi barang produksi. Sekitar 179 UMKM (13%) mengalami kesulitan dalam akses terhadap modal usaha. Bahkan terdapat sekitar 50 UMKM (4%) yang mengalami penurunan produksinya secara drastis hingga tidak melanjutkan produksi untuk sementara waktu.

Bukan hanya di Indonesia, gangguan ekonomi akut juga dirasakan di seluruh dunia. Diantaranya adalah Inggris, satu maskapai penerbangan terbesar di Inggris, Flybe, jatuh bangkrut.

Semua penerbangannya macet karena virus corona. Dalam pernyataan di situs web, Flybe yang memiliki 2.000 karyawan, menyatakan telah memasuki proses administratif dan gagal mengatur penerbangan alternatif untuk para penumpang.

Di sisi lain bangkrutnya industri maskapai juga dirasakan oleh Malaysia. Beberapa waktu lalu viral di media sosial seorang pilot asal Malaysia harus berhenti dari profesi nya sebagai pilot dan menjadi seorang kurir, dengan penghasilan yang jauh berbeda dari profesi sebelumnya. Hal ini disebabkan karena maskapai penerbangan tempat nya Bekerja mengalami kebangkrutan akibat pendemi Covid-19.

Resesi ekonomi telah tampak di depan mata. Meskipun Indonesia belum benar-benar dinyatakan mengalami resesi, namun indikasi kuat mengarah kesana. Banyak para pakar memberikan solusi terkait hal ini. Di antaranya Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah.

Menurutnya, di saat seperti ini masyarakat jangan boros dan harus mempersiapkan kondisi terburuk untuk mencukupi keuangan. Pemerintah juga menghimbau agar rakyat tidak boros dalam berbelanja.

Himbauan ini justru bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah yang akan mengambil langkah extraordinary untuk mendorong pemulihan ekonomi kuartal tiga dan empat 2020 dengan belanja besar-besaran agar ekonomi Indonesia tetap di neraca keseimbangan.

Dalam kondisi saat ini dibutuhkan pengambilan kebijakan yang tepat dari pemerintah. Karena penggunaan belanja yang tidak tepat akan berdampak besar bagi ekonomi bangsa. Rakyat pun akan menjadi objek pertama kali yang merasakan imbasnya. Jika pemerintah menghimbau rakyat untuk tidak boros, hal ini akan sulit di realisasikan.

Mengingat budaya hidup konsumtif telah merebak di seluruh penjuru negeri ini. Selain itu himbauan ini dinilai tidak efektif. Karena bertolak belakang dengan kebijakan New Normal Life yang diambil pemerintah dengan membuka lebar mall-mall, pasar dan sebagainya. Justru keingatan belanja akan semakin kuat.

Sampai disini kita paham bahwa sistem ekonomi kapitalistik ternyata tidak mampu menopang ketahanan pangan dunia. Terkhusus Indonesia yang juga menerapkan sistem tersebut. Sistem ekonomi yang menitikberatkan pada pemilik modal sebagai pemenang roda ekonomi ini lumpuh total saat kontraksi pandemi Covid-19 tidak segera berakhir.

Akibatnya pemerintah atau penguasa menghalalkan segala cara untuk mengembalikan roda perekonomian.

Di Indonesia misalnya kebijakan New Normal Life yang diambil pemerintah ini terlihat dipaksakan, hanya untuk menyelamatkan ekonomi kapitalis saja, agar para pemodal tidak bangkrut total akibat pendemi Corona. Tanpa memperhatikan kesiapan dari masyarakat Indonesia sendiri, di sisi lain kebijakan pemerintah dengan menaikan iuran BPJS kesehatan di tengah pendemi adalah kebijakan yang sangat zalim. Belum lagi banyaknya kasus kenaikan tagihan listrik tanpa diketahui sebab pastinya.

Inilah sistem ekonomi kapitalis, yang menjadikan negara hanya sebagai fasilitator rakyat bukan pengayom rakyat.

Sangat relevan dengan pernyataan bapak ekonomi kapitalis, Adam Smith yang mengatakan ” biarkan masyarakat yang menentukan kebutuhannya sendiri dan apa yang akan diproduksi tanpa ada campur tangan pemerintah didalamnya.

Pada saat itulah terjadi kebebasan individu dalam kegiatan ekonomi”. Ekonomi kapitalis membiarkan rakyatnya memikirkan sendiri kebutuhan hidupnya. Ini berbeda sekali dengan sistem ekonomi Islam yang menjadikan negara sebagai pelayan untuk rakyat.

Ingatkah kita dengan kisah Khalifah Umar, beliau mamanggul gandum sendiri untuk rakyat nya yang sedang kelaparan. Juga kisah Khalifah Umar bin Abdul Azis, yang mampu memakmurkan seluruh rakyatnya namun hidupnya sangat jauh dari kemewahan, bahkan kekurangan.

Ekonomi kapitalis menunjukkan kegagalan nya sebagai sebuah sistem ekonomi. Negara sekelas Amerika Serikat, Inggris dan Singapura juga harus menelan pil pahit resesi ekonomi saat wabah Corona tak kunjung berakhir. Padahal mereka adalah negara model dalam penerapan sistem ekonomi kapitalis. Sistem ekonomi Islam adalah satu-satunya sistem buatan Tuhan yaitu Allah Subhana wa taala yang mampu menjawab kegentingan ekonomi di seluruh dunia saat ini.

Dalam Islam, negara wajib mengerahkan seluruh perhatian untuk memastikan stok pangan tersedia dan bisa dijangkau seluruh individu rakyat. Dalam pengaturannya, Islam memakai metode mekanisme pasar maupun subsidi, bukan justru mencabut subsidi. Sistem ekonomi yang paripurna.

Karena kita muslim, maka atas panggilan keimanan selayaknya kita mengambilnya sebagai solusi. Dengan pengelolaan sistem ekonomi Islam, dukungan pemerintahan Islam, dan aturan yang hanya bersandar pada Islam, insya Allah kesejahteraan akan dirasakan oleh seluruh rakyat, khususnya di Indonesia. Wallahu a’lam bishowab.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 − 6 =

Rekomendasi Berita