by

Yan Setiawati, S.Pd.I., M.Pd*: Kapitalisme Dan Fitrah Seorang Ibu 

-Opini-80 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Miris,  miris dan miris. Sepertinya memang harus banyak beristighfar hidup di zaman sekarang ini. Zaman yang penuh kedzaliman, kejahatan, kemiskinan, kelaparan, kebodohan, krisis moral, ketidakadilan, dan kejahatan lainnya.

Ada apa dengan dunia ini, sehingga hidup di negara sendiri pun terasa semakin sulit dan mengkhawatirkan?

Seperti berita satu ini yang begitu viral. Ada seorang ibu yang tega membunuh ketiga anak kandungnya. Kenapa seorang ibu yang seharusnya berhati lembut, penuh kasih sayang, mengasuh, mendidik, membesarkan dan menjaga anak-anaknya justru tega menghabisi nyawa semua anak kandungnya?

Menurut berita yang beredar, ibu ini tega menghabisi nyawa anaknya karena stress. Pasalnya, ia dan anak-anaknya tidak bisa makan selama berhari-hari. Lagi-lagi faktor kemiskinan penyebabnya.

Dikutip dari www.viva.co.id (13/12/2020), Ibu pembunuh ketiga anak kandungnya di Nias Utara, berinsial MT, meninggal dunia di RSUD Gunungsitoli, Sumatera Utara pada Minggu pagi 13 Desember 2020, sekitar Pukul 06.10 WIB. Usai membunuh, wanita berusia 30 tahun itu sempat beberapa kali coba bunuh diri, namun berhasil digagalkan.

“Tersangka MT dinyatakan oleh dokter umum piket RSUD Gunungsitoli telah meninggal dunia di RSUD Gunungsitoli,” ungkap Perwira Urusan Hubungan Masyarakat (Paur Humas) Polres Nias, Aiptu Yadsen Hulu, kepada wartawan, Minggu siang 13 Desember 2020.

Selain berita di atas, kasus serupa terjadi di Tangerang. Diberitakan seorang ibu yang tega membunuh anak kandungnya sendiri karena anaknya tidak mengerti saat diajarkan daring oleh ibunya. Ibu tersebut tega menganiaya anak perempuannya hingga tewas, gara-gara si anak tak mengerti saat belajar melalui daring.

Polres Lebak, Banten, mengungkap motif pembunuhan anak perempuan berusia 8 tahun oleh orang tua kandungnya, warga Jakarta Pusat.

Kasat Reskrim Polres Lebak, AKP David Adhi Kusuma mengatakan, ibu korban melakukan penganiayaan karena putrinya sulit memahami pelajaran saat belajar daring.

Pelaku IS, yang juga ibu korban, mengaku menganiaya korban pada 26 Agustus lalu, hingga tewas. (www.kompas.tv,15/09/2020)

Dari fakta berita di atas, bahwa seorang ibu dengan fitrahnya sebagai warabbatul bait, mempunyai hati yang lembut, keibuan, bisa menjaga anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, namun bisa saja berubah sesaat menjadi seorang ibu yang beringas dan tega menghabisi nyawa anaknya, dengan sekejap hilanglah fitrah keibuan.

Hal itu bisa saja menimpa seorang ibu yang merasa stress dengan keadaan yang menimpa keluarganya. Kemiskinan salah satu penyebabnya.

Ketika suami sulit mencari nafkah karena tidak adanya peluang usaha, sehingga tugas suami mencari nafkah pun telah gugur. Risikonya keluarga kelaparan, sedangkan mereka harus terus bertahan untuk hidup.

Ditambah saat pandemi yang berimbas pada pendidikan yang dilakukan daring, plus biaya untuk membeli kuota dengan segala macam fasilitasnya. Lengkap sudah penderitaan yang dialami rakyat miskin saat ini.

Inilah kegagalan sistem demokrasi kapitalisme yang dianut negara di dunia. Sistem demokrasi yang diagung-agungkan itu terbukti dan tak mampu mengembalikan nyawa anak yang tak berdosa. Mereka adalah korban kegagalan sistem yang telah rapuh.

Demokrasi yang setiap periodenya mengalami pergantian pemimpin dengan harapan mendapat pemimpin baru yang lebih baik dan menyejahterakan rakyat namun sangat bertolak belakang dengan kisah para ibu yang tega menghabisi nyawa anaknya. Mereka begitu kehilangan harapan untuk hidup.

Begitulah, sistem ini memang akan terus menghasilkan kerusakan dan kegagalan para ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Dalam sistem ini penguasa tidak sanggup lagi memikirkan bagaimana meningkatkan kesejahteraan rakyat karena mereka hanya menjadi regulator belaka.

Hampir seluruh sumber daya alam negara ini dikuasai dan dinikmati asing. Tak heran rakyat pun menjadi sengsara, miskin, dan kejahatan pun merajalela.

Begitulah jika aturan Islam tidak diterapkan. Padahal Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Islam akan menjamin pemenuhan kebutuhan dasar setiap rakyat. Islam akan menyediakan berbagai lapangan kerja untuk para suami dalam mencari nafkah.

Karena dalam Islam yang wajib mencari nafkah adalah suami, sebagaimana Allah berfirman dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 233 :

…. وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ….

“… Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf”….

Karena mencari nafkah adalah tugas suami, maka syari’at Islam akan menyediakan berbagai macam lapangan pekerjaan bagi para laki-laki dewasa dalam mencari nafkah. Islam akan mengelola Sumber Daya Alam (SDA) tanpa campur tangan pihak asing.

Pengelolaan Sumber Daya Alam ini akan membuka lapangan pekerjaan yang luas karena membutuhkan tenaga kerja ahli dan terampil yang banyak, sehingga para suami tidak akan kesulitan mencari lapangan pekerjaan.

Dengan begitu kebutuhan pokok keluarga dapat terpenuhi, dan peran ibu sebagai ummu warabbatul bait pun akan terjaga dengan baik.

Begitupun dengan pemenuhan dasar pendidikan bagi rakyat. Islam akan memfasilitasinya untuk setiap warga. Rakyat akan dengan mudah mendapatkan fasilitas pendidikan dengan gratis dan berkualitas.

Begitu indahnya hidup ketika syariat Allah Swt dijadikan aturan hidup manusia sehingga tak akan ada lagi kemiskinan, kelaparan, kejahatan, bahkan pembunuhan.

Saatnya kita kembali dan implementasikan Islam dalam semua dimensi kehidupan. Wallaahu ‘Alam bi Shawab.[]

*Ibu Rumah Tangga

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 3 =

Rekomendasi Berita