Year of Sorrow: Kegalauan Terbesar Umat Manusia

Opini24 Views

Nurfitrianti Vivi, M.Pd | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Berandaku dipenuhi Jembatan Cangar yang berkisah tentang seorang pemuda nekat mencabut paksa nyawanya lewat jalur keharaman. Netizen pun memberinya gelar “mawar hitam”, seakan tragedi bundir pemuda itu dikarenakan sedang patah hati.

Satu per satu komentar bermunculan, “mungkin aku selanjutnya”; “sepertinya aku selanjutnya, nantikan berita ku ya”; “kayaknya selanjutnya, aku”; “kamu tidak sendiri, aku bakalan nyusul tunggu aja”; dll. Na’udzubillah…

Segila ini hidup di bawah naungan sistem sekuler liberal? Bundir itu seakan  trend velocity yang mesti diviralkan. Na’udzu billah sekali lagi.

Tanpa mengurangi rasa empati, juga tidak menafikan bahwa manusia itu memang lemah. Namun, tulisan ini bukan untuk mengadu siapa lemah dan siapa kuat menghadapi masalah. Sebab kita tahu bahwa mental setiap orang itu beda-beda, tapi segala bentuk keburukan apapun tidaklah patut dinormalisasi.

Semoga tulisan ini bisa kembali menguatkan yang lemah, membangkitkan yang telah jatuh, meluruskan yang patah, dan menghibur air mata yang sudah terlanjur basah.

Adalah suatu kesyukuran ikut ngaji Islam. Segala masalah dalam hidup ternyata bisa teratasi dan menemukan solusi. Meski solusi tidak ideal, ilmu Islam telah menyadarkan bahwa kita tengah berada dalam sistem hidup yang tidak ideal.

Maka ketika mengharapkan solusi yang ideal, tidak akan ada kecuali menerapkan hukum Islam. Sebab hanya menerapkan Islam adalah satu-satunya solusi ideal atas segala masalah.

Ngaji Islam Kaffah kita diajarkan menyelesaikan masalah sendiri, keluar dari masalah pribadi. Sebab sejatinya masalah utama diri kita adalah ketika tidak berhukum pada hukum Islam, terlebih ketika tidak ikut memperjuangkannya. Ini adalah kegalauan terbesar umat manusia.

Menjadi pengemban dakwah, sejatinya merekalah golongan orang-orang yang berpotensi depresi, stress karena memikirkan umat sebelum memikirkan dirinya sendiri. Hati dan pikirannya terfokus pada problematika umat, sampai lupa dengan masalahnya sendiri.

Inilah level tertinggi pengemban dakwah dalam mengamalkan intanshurullaaha yanshurkum (QS. Muhammad: 7). Rahmat ALLAH yang begitu luas diberikan pada tiap-tiap hati mereka sehingga mereka bisa mengendalikan masalahnya, bisa mengendalikan dirinya bahwa sesungguhnya benteng terkuat mereka adalah bersandar pada pemahaman Islam yang telah mentajassad dalam diri.

Maka segala hal bisikan, halusinasi, serta pengaruh untuk melakukan tindakan yang buruk-buruk tak akan mampu menembus benteng tersebut. Kita kuat karena dikuatkan oleh ALLAH. Namun, bukan berarti pengemban dakwah tidak boleh merasakan kesedihan. Tentu saja boleh. Itu manusiawi, dan pengemban dakwah adalah manusia bukan malaikat.

Rasulullah Saw. saja pernah berada di fase tahun-tahun kesedihan. Dalam sejarah Islam dikenal dengan peristiwa Amul Huzni atau Year of Sorrow. Beliau kehilangan 2 sosok ahlul quwwah dakwahnya, Sayyidah Khadijah r.a sumber cinta Beliau dalam mendukung dakwahnya, dan paman Beliau Abu Thalib sebagai pelindung dari gangguan Quraisy.

Sebagaimana kita, lagi militan-militannya dakwah kita mendapat dukungan dari orang terdekat yakni pasangan dan keluarga, lalu tiba-tiba tiada. Kitapun akan sangat merasa kehilangan. Seakan tak ada lagi yang bisa bantu kita melanjutkan dakwah ini.

Ini pertanda sekelas Rasul pun pernah di fase sedih, galau, kehilangan, bahkan patah hati yang sangat mendalam. Namun, ALLAH hibur Beliau dengan mengajaknya jalan-jalan ke langit ketujuh lewat peristiwa Isra’ Mi’raj.

Dari perjalanan Isra’ Mi’raj inilah Rasulullah Saw. membawa oleh-oleh dari langit, salah satunya adalah QS. Al-Baqarah: 45 yang artinya “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu.”

Beratnya ujian bagi jiwa yang sabar, akan ringan bagi ALLAH untuk mengangkat derajatnya. Tak lupa ALLAH Maha Mendengar, maka ceritakan saja semuanya pada ALLAH dalam shalat. Karena sabar saja tak cukup, kita butuh shalat untuk berdo’a dan berserah pada-Nya.

Dari sini Allah dan Rasul-Nya ingin mengajarkan kepada kita ilmu Islam bahwa sesungguhnya kesedihan atau kegalauan seorang hamba itu bisa hilang dengan sabar dan shalat. Adanya kesedihan yang dibarengi dengan ujian itu sejatinya adalah tutorial Allah memeluk hamba-Nya agar semakin dekat dengan-Nya.

Sesedih apapun kita, kesedihan tidak menghalangi perjuangan mengembalikan kehidupan Islam. Imam Al-Gazali berkata, “Jangan biarkan kesedihan merusak hatimu. Tapi jadikanlah itu titik balik untuk menjadi lebih kuat”. Allah seakan berkata pada Rasul, “Wahai jiwa yang sedang bersedih, jika bumi terasa sempit bagimu, masih ada langit yang luas. Jika bumi sudah tertutup bagimu, pintu langit akan selalu terbuka lebar untukmu”.

Langit yang terbuka bukan untuk jiwa yang putus asa. Langit tertutup pada hati yang tertutup dari rahmat Allah. Langit tidak menerima kematian yang dipaksa (a.k.a. bundir).

Maka siapapun di luar sana yang sedang galau, sedih, patah hati, kalau Allah mengajak Rasulullah jalan-jalan ke langit, maka kita pun bisa “jalan-jalan ke langit”. Tapi saat ini “jalan-jalan ke langit” nya kita dalam bentuk yang berbeda.

Jalan-jalan ke langit artinya mendekat ke Allah. Kalau Rasul langsung diajak Allah melihat surga, kita lewat taman-taman surganya aja dulu yaitu rajin menghadiri majelis ilmu, ikut pengajian, berkumpul dengan orang-orang shalih/shalihah, sibukkan diri jadi aktivis dakwah melanjutkan perjuangan Rasulullah dalam mengembalikan kehidupan Islam.[]

Comment