by

Yuli Ummu Raihan*: Layakkah K-pop Menjadi Inspirasi?

-Opini-30 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Annyeung haseyo, Kamsahamida, BTS, Blackpink, dan semua yang berbau Korea akhir-akhir ini mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia terutama generasi muda. Mulai dari istilah, gaya bicara, gaya berpakaian, drama, lagu, hingga makanan ala Korea latah diikuti oleh masyarakat Indonesia.

Fenomena Ini ternyata mendapat perhatian dari Wakil Presiden Indonesia Ma’ruf Amin. Dalam acara memperingati 100 tahun kedatangan orang Korea di Indonesia, Ahad (20/9/2020).

Beliau berharap tren Korean Pop atau K-Pop dapat mendorong munculnya kreativitas anak muda untuk lebih giat mempromosikan budaya bangsa ke dunia internasional.

Ma’ruf Amin berharap tren ini dapat meningkatkan kerja sama antar kedua negara, khususnya di bidang ekonomi. Ketertarikan warga Indonesia terhadap Korea juga telah mendorong meningkatnya wisatawan Indonesia ke Korea. Diharapkan wisatawan Korea juga semakin banyak datang ke Indonesia.

Pernyataan Ma’ruf Amin mendapat kritikan dari musisi Ahmad Dhani sekaligus politikus Partai Gerindra.
“Jadi Pak Wapres kita memang tidak paham benar soal industri musik. Harusnya sebelum kasih statement, diskusi dulu sama saya sebagai orang yang sangat paham industri musik, ” kata Ahmad Dhani kepada wartawan Minggu 20/9/2020.

Menurut Dhani, musisi Indonesia jauh lebih berkualitas dan kreatif. Hanya saja mereka tidak mendapat perhatian dari pemerintah.

Industri Kpop maju karena pemerintah Korea serius untuk mengangkat industri musik Korea masuk ke industri musik dunia. Sebelum mengekspor budaya mereka ke luar, pemerintah Korea memastikan setiap warganya mengenal dan cinta akan budaya negerinya. Situs budaya dan sejarah diperbaiki dan dibangun.

Pemerintah Korea sangat serius menanamkan kecintaan warganya pada budaya Korea. Jika mereka melihat dan menyukai sesuatu dari luar, tidak lantas latah mengikuti. Mereka mengamati, belajar, dan melakukan hal yang sama sehingga mampu menyamai bahkan mengungguli budaya asing. Mereka tidak bucin alias menjadi budak cinta pada sesuatu hal.

Mungkin Wapres Ma’ruf Amin bermaksud agar masyarakat Indonesia bisa mengambil inspirasi dari Kpop dalam hal usaha Korea dalam mengembangkan budaya mereka ke dunia luar. Namun, kenapa harus Korea yang harus menjadi inspirasi?

Generasi kita saat ini banyak yang belum tau jati diri bangsanya. Akibatnya, masih labil saat ada budaya asing masuk ke negeri ini, mudah kagum, menganggap hebat dan latah mengikuti budaya tersebut tanpa ada filter.

Karakter bangsa kita harusnya adalah berketuhanan yang Maha Esa sesuai sila pertama dalam Pancasila. Harusnya pemerintah memperkuat nilai-nilai keagamaan rakyat terutama generasi muda. Agar masyarakat kita mengenal dan bangga pada agama dan negara kita sendiri.

Saat agama kuat maka akan mudah mengambil sikap dan menentukan baik dan buruk terhadap sesuatu termasuk budaya asing.
Jika sila pertama ini telah tertanam dalam diri masyarakat maka akan mudah mewujudkan sila berikutnya.
Namun, sayangnya saat ini pemerintah tidak serius mengurusi masalah akidah rakyatnya.

Mirisnya, pelajaran agama semakin dikurangi porsinya. Konten agama kalah pamor dengan konten tidak mendidik bahkan merusak. Mereka yang berusaha mengamalkan Islam dengan kaffah malah dicurigai dan dituduh radikal.

Penceramah diawasi dan dicurigai. Sangat gencar membahas radikal yang tidak jelas standarnya.

Sementara pemerintah terkesan menutup mata dari berbagai kerusakan generasi akibat budaya asing. Pergaulan bebas, budaya hedonis, konsumstif, dan bucin terhadap artis luar, yang merusak generasi bangsa ini.

Akan jadi apa Indonesia dua puluh tahun kedepan jika saat ini generasi kita hanya sibuk mengikuti, dan meniru artis Kpop. Setiap hari menghabiskan waktu untuk hal-hal yang sia-sia seperti joget ala mereka. Menonton film dan menghadiri konser mereka. Berburu tanda tangan atau sekedar foto bersama. Galau dengan dunia percintaan dan termakan propaganda mereka melalui food, fashion, fun, song, seks, sport (3F3S).

Semua ini bertentangan dengan nilai ketimuran negeri ini apalagi nilai agama khususnya Islam.

Kita hanya melihat kesuksesan Korea dari sisi pencapaian materi. Tahukah kita ada cerita kelam di balik semua itu.

Dilansir oleh CNBC Indonesia, 15 (10/2019), ada beberapa fakta kelam industri Kpop.

Pertama, kontrak kerja ala budak. Sebelum menjadi artis terkenal calon artis ini harus menandatangani kontrak kerja yang jangka waktunya 7 sampai 15 tahun. Sayangnya tidak ada jaminan pasti mereka lolos dan bergabung dalam suatu ️grup band.

Padahal mereka telah melakukan banyak hal termasuk operasi plastik yang menjadi salah satu syarat dalam kontrak kerja tersebut.

Kedua, ️skandal seksual. Peluang kesuksesan yang tipis mendorong para calon entertainer menjual dirinya dengan para petinggi yang bisa melancarkan karier mereka. Kadang rela dipaksa agensi agar tetap laku dipakai di pasaran. Mereka membarter seks untuk ketenaran.

Ketiga, maraknya kasus bunuh diri. Sepanjang tahun selalu ada publik figur korea melakukan bunuh diri dengan berbagai motif.

Keempat, melakukan operasi plastik. Standar kecantikan ala kapitalis membuat banyak artis Korea banyak melakukan operasi plastik.

Setelah sukses dan terkenal para artis Korea ini tidak serta merta mereka bahagia. Mereka hidup ️di bawah tekanan dan tuntutan pasar. Selain penggemar, mereka juga memiliki anti-penggemar atau haters.

Penggemar dan haters sangat fanatik cinta dan bencinya. Mereka akan melakukan apa saja bahkan hal ekstrim (sasaeng) sekalipun kepada artis tersebut. Cinta dan benci mereka diekspresikan baik langsung maupun di dunia maya. Semua ini mengakibatkan sang ️idola stres hingga berujung bunuh diri.

Kehidupan masyarakat Korea hanya berfokus pada pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmani. Mereka menganut idiologi komunisme yang tidak mempercayai tuhan. Mereka tidak percaya bahwa semua perbuatan di dunia kelak akan dipertanggungjawabkan.

Dari semua fakta di atas, keuntungan apa yang kita dapat dengan mencontoh Kpop? Kekaguman dan kecintaan pada mereka hanya akan membawa petaka untuk kita.

Bukanlah Baginda Nabi Muhammad saw telah mengatakan bahwa seseorang kelak akan bersama dengan orang yang ia cintai? Bukankah Korea adalah negara yang menafikan agama?

Sudah saatnya kita kembali mengenal dan mempelajari jati diri bangsa kita sendiri. Apalagi sebagai seorang Muslim kita wajib terikat terhadap hukum syara’. Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk dalam mencari inspirasi atau panutan.

Islam tidak mematikan kreativitas, namun mengarahkan kreativitas agar berjalan sesuai syariat. Islam membolehkan kita mengambil madaniyah (bentuk fisik), tetapi melarang mengambil hadharah (pandangan hidup).

Sebagai seorang Muslim cukuplah Nabi kita Muhammad saw yang wajib kita teladani. Wallahu a’lam bishshawab.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + ten =

Rekomendasi Berita