Zaitun Rasmin Kecam Ben-Gvir dan Pemukim Yahudi yang Serbu Masjid Al-Aqsa

Nasional463 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kompleks Masjid Al-Aqsa kembali memanas setelah ratusan pemukim Yahudi memasuki kawasan suci tersebut dengan pengawalan ketat aparat Israel pada Kamis (14 Mei 2026).

Laporan Kantor Kegubernuran Al-Quds menyebutkan, akses warga Palestina ke Masjid Al-Aqsa dibatasi sejak pagi hari.

Di saat bersamaan, aparat keamanan Israel membuka jalur masuk bagi rombongan pemukim Yahudi yang datang melalui Gerbang Al-Maghariba.

Aksi tersebut disebut dipimpin sejumlah tokoh garis keras Israel, di antaranya Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir, anggota Knesset Ariel Kellner, dan rabi ekstremis Yehuda Glick.

Seorang saksi mata di lokasi mengatakan para pemukim melakukan ritual keagamaan di area pelataran Al-Aqsa, sementara warga Palestina dilarang memasuki kawasan tersebut.

“Mereka melakukan ritual Talmud di tengah pelataran, sementara kami dilarang masuk,” ujar saksi tersebut.

Rombongan pemukim tampak bernyanyi dan bertepuk tangan saat memasuki area masjid. Jumlah mereka dilaporkan mencapai ratusan orang.

Menanggapi peristiwa itu, Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah, Ustadz Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin, mengecam keras tindakan yang dinilainya sebagai bentuk provokasi terhadap umat Islam dan rakyat Palestina.

“Kesombongan dan keangkuhan Ben-Gvir yang mendapat legitimasi dari Netanyahu serta dukungan penuh tentara Israel menunjukkan bagaimana Zionis terus mengangkangi wilayah Palestina,” kata Zaitun Rasmin dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).

Ia menilai tindakan tersebut justru akan mempercepat kehancuran Israel apabila terus melakukan penindasan terhadap rakyat Palestina dan penodaan terhadap tempat suci umat Islam.

“Yang penting umat Islam dan masyarakat dunia yang masih memiliki hati nurani tidak berhenti bersuara dan membela Masjid Al-Aqsa,” ujarnya.

Sebelumnya, tokoh yang juga menjabat Ketua MUI Bidang Ukhuwah itu mengajak masyarakat internasional untuk bersatu mengecam tindakan Israel yang dinilai terus memicu kekerasan dan ketegangan di Palestina.

Pawai bendera tahunan Israel di Yerusalem selama ini kerap memicu ketegangan karena melintasi wilayah Palestina di Yerusalem Timur yang diduduki Israel.

Pemerintah Palestina serta sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk provokasi yang memperburuk situasi keamanan di kota suci itu.[]

Comment