RADARINDONESIANEWS.COM, INSTANBUL – Ratusan aktivis yang berpartisipasi dalam Sumud Flotilla internasional, yang diselenggarakan untuk memecahkan blokade Gaza, tiba di Bandara Istanbul setelah ditahan dan dideportasi dari lsrael.
422 aktivis Sumud Flotilla dibawa ke Istanbul dari selatan lsrael dengan tiga pesawat terpisah yang disewa oleh kementerian.
Zionis lsrael menghajar dan menyiksa aktivis kemanusiaan. Satu aktivis, yang telah meninggalkan terminal, bereaksi terhadap perlakuan yang di alaminya.
“Kami telah disiksa, kami telah dipukuli, kami telah ditahan di perairan internasional, tetapi kami tidak akan menyerah. Kami akan kembali. Palestina akan bebas dari sungai hingga laut!”
Kekejaman yang dialami oleh armada Global Sumud Flotilla ini diperkuat oleh data lapangan yang dihimpun dari kelompok hak asasi manusia independen, Adalah. Tim hukum Adalah berhasil mendokumentasikan kesaksian yang konsisten mengenai penggunaan sengatan listrik berulang terhadap para aktivis yang ditahan di Pelabuhan Ashdod.
Otoritas Israel juga menerapkan tindakan yang merendahkan martabat manusia, memaksa relawan berjalan membungkuk penuh ke depan, berlutut dalam waktu lama di bawah terik matahari, hingga mencopot jilbab para aktivis perempuan secara paksa.
Aksi keji ini dikonfirmasi secara luas setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video di media sosial X miliknya. Video tersebut memamerkan para aktivis kemanusiaan berlutut dengan tangan diborgol ke belakang dan wajah menghadap lantai, sementara lagu kebangsaan Israel diputar sebagai bentuk intimidasi psikologis.
Aktivis Sumud, Thiago Avila yang sebelumnya juga mengalami penahanan dalam penjara Israel menyerukan kepada dunia untuk tidak diam melihat kekejaman, penyiksaan dan pelecehan seksual oleh Israel kepada relawan.
“Kita perlu menghentikan monster-monster ini! Kita perlu menghentikan pasukan pendudukan ini yang tidak menghormati hukum internasional dan kemanusiaan. Bukan hanya Itamar Ben Gvir, tetapi seluruh rezim kolonial dengan Benjamin Netanyahu, Bezalel Smotrich, Gedeon Sa’ar, lsrael Katz dan semua penjahat perang lainnya di dalam dan di luar Israel,” ungkapnya di akun media sosial Instagramnya, Kamis (21/5/2026).
“Kita perlu menghentikan mereka. Kita perlu bangkit! Bahkan hal-hal mengerikan yang mereka lakukan hanyalah sebagian kecil dari apa yang mereka lakukan secara sistematis terhadap Palestina di dalam penjara mereka! Peserta kami keluar dari neraka ini, tetapi lebih dari 9000 Palestina masih berada di dalam penjara mereka, hampir 400 di antaranya adalah anak-anak!,” tegas Thiago.
Merespons pembajakan di perairan internasional ini, Kantor Kejaksaan Umum Istanbul di Turkiye telah resmi meluncurkan penyelidikan pidana atas dakwaan perampasan kemerdekaan, pembajakan alat angkut, perampasan dengan kekerasan, serta penyiksaan sistematis terhadap warga sipil.[]










Comment