Merampas Palestina demi Ambisi Israel Raya

Opini8 Views

 

Penulis: Della Amelia Pasha | Aktivis Remaja

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Dari tahun ke tahun, umat Islam di seluruh penjuru dunia terus menyaksikan berbagai serangan yang dilakukan Zionis Israel terhadap Palestina. Peristiwa Taufan Al-Aqsa yang dilancarkan Hamas pada 7 Oktober 2023 menjadi titik yang membuka mata dunia terhadap penderitaan rakyat Palestina yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Hingga hari ini, Palestina masih berada dalam kondisi yang memprihatinkan akibat konflik yang berkepanjangan dan berbagai kebijakan yang dinilai merugikan rakyat Palestina.

Perampasan Wilayah Palestina

Sebagaimana dilansir Metrotvnews.com, entitas Zionis Israel terus melakukan operasi militer di Gaza meskipun sempat terjadi gencatan senjata. Rencana perluasan wilayah yang dilakukan Israel di Gaza memunculkan kekhawatiran besar di kalangan rakyat Palestina.

Perluasan permukiman di Tepi Barat juga terus berlangsung dan dinilai semakin mempersempit ruang hidup masyarakat Palestina. Kondisi memprihatinkan tampak di wilayah timur Khan Younis, tempat warga melaporkan kehadiran tank, buldoser, serta intensitas tembakan harian militer Israel yang membuat kehidupan mereka menjadi perjuangan tanpa henti untuk bertahan hidup.

Di sisi lain, aksi pengibaran bendera Israel di kawasan Masjid Al-Aqsa turut memicu reaksi keras dari berbagai negara Muslim.

Sebagaimana diberitakan Detik.com (3/6/2026), sedikitnya tujuh negara, yaitu Indonesia, Turki, Pakistan, Arab Saudi, Qatar, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Yordania, mengecam tindakan tersebut. Namun, berbagai kecaman itu dinilai belum mampu menghentikan berbagai tindakan yang terjadi di Palestina.

Ambisi Israel Raya

Menurut pandangan sebagian kalangan, berbagai operasi militer dan perluasan wilayah yang dilakukan Israel tidak terlepas dari ambisi untuk mewujudkan konsep Israel Raya.

Ambisi tersebut dianggap tercermin dari terus bertambahnya permukiman di wilayah Palestina serta berbagai kebijakan yang dinilai memperkuat penguasaan Israel atas kawasan tersebut.

Berbagai tindakan yang mengakibatkan jatuhnya korban sipil dan kerusakan besar di Palestina dipandang sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan. Karena itu, banyak pihak menilai bahwa rakyat Palestina berhak memperoleh perlindungan dan dukungan dari masyarakat internasional.

Dukungan Amerika Serikat terhadap Israel turut memperkuat posisi negara tersebut dalam menjalankan berbagai kebijakannya. Selain itu, dorongan terhadap solusi dua negara dinilai belum mampu menyelesaikan akar persoalan yang selama ini terjadi.

Penderitaan Palestina terus berlanjut karena lemahnya persatuan umat Islam serta sikap sebagian penguasa Muslim yang dianggap tidak menunjukkan keberpihakan yang kuat terhadap perjuangan rakyat Palestina. Kondisi ini membuat umat Islam sulit membangun kekuatan bersama untuk menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan yang terjadi.

Solusi Islam

Ambisi untuk mewujudkan Israel Raya harus dilawan dan umat Islam tidak boleh tinggal diam melihat penderitaan rakyat Palestina serta ancaman terhadap Masjid Al-Aqsa. Untuk mewujudkan perlawanan yang efektif, dibutuhkan persatuan dan kekuatan umat Islam dalam satu kepemimpinan yang menyatukan seluruh kaum Muslim.

Institusi Pemerintahan Islam global di bawah satu bendera merupakan bentuk persatuan umat Islam yang paling ideal. Dengan adanya institusi tersebut, umat Islam diyakini dapat menyatukan kekuatan politik, ekonomi, dan militer dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap negeri-negeri Muslim.

Dalam konsep tersebut, sekat-sekat nasionalisme antarnegara Muslim akan dihilangkan sehingga umat dapat bergerak dalam satu barisan dan satu tujuan.

Keberadaan seorang khalifah sebagai pemimpin umat akan memungkinkan mobilisasi kekuatan negara untuk membela Palestina dan menghentikan berbagai bentuk penjajahan yang terjadi di negeri-negeri Muslim. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment