Peradaban Pemburu Dopamin: Ketika Hasrat Menggeser Akal dan Wahyu

Opini9 Views

Penulis: Eva Herlina | Dosen dan Pegiat Literasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pernahkah kita bertanya, mengapa manusia modern semakin sulit berhenti dari berbagai bentuk kenikmatan yang terus ditawarkan zaman?

Anak-anak menangis ketika telepon genggamnya disita. Remaja menghabiskan waktu berjam-jam dalam dunia pornografi dan permainan daring. Judi online menjalar hingga ke berbagai lapisan masyarakat dan menggerus ekonomi keluarga.

Penyalahgunaan narkotika terus mengancam masa depan generasi muda. Di sisi lain, sebagian pejabat dan politikus yang telah bergelimang harta masih tergoda menggerogoti uang rakyat.

Beragam fenomena tersebut tampak seperti persoalan yang berdiri sendiri. Namun, jika dicermati lebih dalam, semuanya mungkin berakar pada satu persoalan yang sama: manusia semakin kehilangan kemampuan untuk berkata, “cukup.”

Kita hidup dalam sebuah peradaban yang memuja kecepatan, sensasi, dan kepuasan instan. Hampir seluruh sistem kehidupan modern dirancang agar manusia terus kembali mengejar sesuatu.

Satu video memancing video berikutnya. Satu permainan mendorong pemain untuk terus melanjutkan. Satu kemenangan kecil dalam perjudian melahirkan harapan akan kemenangan yang lebih besar.

Bahkan sebuah jabatan sering kali tidak berhenti pada amanah, tetapi berubah menjadi ambisi untuk meraih kekuasaan yang lebih tinggi.

Tanpa disadari, manusia sedang dibentuk menjadi makhluk yang terus mengejar, tetapi semakin sulit merasa cukup.

Lebih jauh, persoalan ini bukan hanya berkaitan dengan gaya hidup, tetapi juga perubahan cara berpikir. Pertanyaan “apakah ini benar?” perlahan bergeser menjadi “apakah ini membuat saya bahagia?”

Ukuran moral yang sebelumnya berpijak pada nilai benar dan salah mulai digantikan oleh ukuran suka dan tidak suka. Kepuasan pribadi perlahan menjadi standar utama dalam menentukan arah kehidupan.

Di sinilah sesungguhnya krisis peradaban mulai terlihat.

Ilmu neurosains menjelaskan bahwa manusia memiliki sistem penghargaan (reward system) yang berperan dalam membentuk motivasi dan mendorong seseorang mengulangi perilaku tertentu. Salah satu unsur yang terlibat dalam sistem tersebut adalah dopamin.

Namun, dopamin bukan sekadar zat kebahagiaan sebagaimana sering dipahami masyarakat. Dopamin lebih berkaitan dengan motivasi, dorongan, serta antisipasi terhadap sebuah penghargaan.

Dalam kadar yang tepat, mekanisme tersebut merupakan karunia Allah kepada manusia. Melalui dorongan itu, manusia mampu belajar, bekerja, membangun keluarga, dan menghasilkan karya.

Persoalannya bukan terletak pada dopamin, melainkan ketika mekanisme alami manusia tersebut dieksploitasi oleh berbagai industri untuk menciptakan ketergantungan.

Media sosial dirancang agar pengguna terus menggulir layar. Industri pornografi menawarkan rangsangan tanpa batas. Permainan daring menggunakan sistem penghargaan yang membuat pemain sulit berhenti.

Judi online menjual harapan kemenangan yang membuat seseorang terus kembali meski mengalami kerugian berulang.

Budaya konsumtif pun terus membisikkan bahwa kebahagiaan selalu berada pada barang berikutnya, pengalaman berikutnya, atau pencapaian berikutnya.

Akibatnya, manusia perlahan terbiasa mengejar sensasi, bukan makna. Mengejar kepuasan sesaat, bukan tujuan hidup yang lebih besar.

Fenomena serupa juga dapat ditemukan dalam kasus korupsi. Mengapa seseorang yang telah memiliki rumah mewah, kendaraan mahal, jabatan tinggi, bahkan kekayaan melimpah masih tega mengambil hak masyarakat?

Barangkali persoalannya bukan karena kekurangan materi. Namun, karena hilangnya kemampuan untuk merasa cukup.

Rasulullah ﷺ telah menggambarkan sifat manusia tersebut lebih dari empat belas abad lalu:

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah penuh emas, niscaya ia menginginkan lembah yang kedua. Tidak ada yang dapat memenuhi mulut anak Adam selain tanah, dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits tersebut menggambarkan kecenderungan manusia ketika hawa nafsu dibiarkan menjadi pengendali kehidupan. Bentuknya bisa berbeda-beda.

Ada yang mengejar kenikmatan seksual, ada yang mengejar sensasi, ada yang mengejar harta, dan ada pula yang mengejar kekuasaan.

Namun, akar persoalannya sama: keinginan yang tidak lagi mengenal batas. Al-Qur’an mengingatkan: “Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23).

Ayat tersebut tidak bermakna bahwa manusia harus mematikan nalurinya. Islam mengakui bahwa naluri merupakan bagian dari fitrah manusia.

Yang menjadi persoalan adalah ketika hawa nafsu berubah menjadi standar tertinggi dalam menentukan benar dan salah. Ketika keinginan menjadi hakim utama, sementara akal hanya digunakan untuk membenarkan apa yang diinginkan dan wahyu mulai dijauhkan dari kehidupan.

Inilah salah satu krisis terbesar manusia modern. Kita tidak kekurangan teknologi. Kita tidak kekurangan informasi. Kita juga tidak kekurangan aturan.

Namun, yang semakin langka adalah kemampuan mengendalikan diri dan keberanian menundukkan keinginan kepada petunjuk Allah.

Karena itu, penyelesaian krisis ini tidak cukup hanya dengan memperketat pengawasan orang tua, memblokir situs pornografi, memberantas judi online, atau memperberat hukuman bagi pelaku korupsi.

Langkah-langkah tersebut penting, tetapi masih berada pada level penanganan gejala. Akar persoalannya berada pada cara pandang manusia terhadap kehidupan.

Selama manusia diyakinkan bahwa kebahagiaan hanya terletak pada terpenuhinya seluruh keinginan, maka bentuk kecanduan akan terus berganti. Hari ini pornografi, esok judi online, kemudian narkotika, kerakusan terhadap harta, jabatan, dan kekuasaan.

Objeknya berubah, tetapi sumber masalahnya tetap sama: hawa nafsu yang tidak pernah merasa cukup.

Islam menawarkan paradigma kehidupan yang berbeda. Islam tidak memusuhi naluri manusia karena naluri merupakan bagian dari penciptaan Allah. Islam juga tidak menghilangkan keinginan manusia, sebab keinginan merupakan bagian dari fitrah.

Namun, Islam mengarahkan seluruh naluri dan hasrat agar tetap berada dalam kendali akal yang sehat dan bimbingan wahyu.

Manusia diciptakan bukan untuk menjadi budak hawa nafsu, melainkan menjadi hamba Allah yang mampu mengendalikan dirinya.

Karena itu, penyelesaian krisis peradaban membutuhkan perubahan yang menyeluruh. Tidak hanya melalui aturan hukum, tetapi juga melalui pembentukan karakter, pendidikan, sistem sosial, ekonomi, dan tata kelola kehidupan yang berlandaskan nilai ketakwaan.

Ketika akal dipandu wahyu, naluri diarahkan oleh syariat, dan negara menjalankan perannya sebagai ra’in (pengurus) yang menjaga kemaslahatan umat, manusia tidak lagi menjadi pemburu kepuasan tanpa batas.

Sebaliknya, manusia akan kembali memahami makna “cukup”, mampu mengendalikan hawa nafsu, serta menjadikan ridha Allah sebagai tujuan tertinggi dalam kehidupan.

Sebab pada akhirnya, krisis terbesar manusia bukanlah kemajuan teknologi atau derasnya godaan zaman. Krisis terbesar manusia adalah ketika ia kehilangan petunjuk yang membimbing akal, mengendalikan naluri, dan mengarahkan hidup menuju kebenaran.

Petunjuk itu hanya akan hadir secara utuh ketika nilai-nilai Islam dijalankan sebagai pedoman kehidupan yang membimbing manusia menuju kemuliaan di dunia dan kebahagiaan hakiki di akhirat.[]

Comment