RADARINDONESIANEWS.COM, SLEMAN – Kehidupan merupakan perjalanan yang berkesinambungan, dari satu tahapan menuju tahapan berikutnya. Setiap perubahan dalam kehidupan menjadi proses yang perlu dihadapi dengan keberanian dan kesiapan.
Hal tersebut disampaikan Prof. (Emr.) Dr. M. Noor Rochman Hadjam, S.U., Psikolog, dalam kuliah perdana Aisyiyah Senior School Tingkat III #2 bertema “Mewujudkan Kehidupan yang Lebih Indah dan Bermakna di Usia Senja”. Kegiatan berlangsung di Kampus Day Care Lansia, Jalan Gempol Raya, Condongcatur, Depok, Sleman, Selasa (4/8/2026).
Prof. Noor Rochman menjelaskan, setiap manusia sesungguhnya telah dibekali Tuhan Yang Maha Kuasa dengan modal yang senantiasa melekat dalam dirinya. Modal tersebut mencakup aspek intelektual, kesehatan, moral dan etika, emosional, sosial, serta spiritual.
“Untuk memudahkan setiap insan dalam menghadapi perubahan dari satu tahapan ke tahapan lainnya, setiap insan diberi modal oleh Tuhan Yang Maha Kuasa yang disebut modal manusia yang bersifat maya, karena selalu ada pada diri manusia.”
Menurut Prof. Noor Rochman, tidak semua orang menyadari besarnya potensi yang dimiliki dalam dirinya. Padahal, modal tersebut dapat menjadi kekuatan untuk menghadapi berbagai perubahan dan tantangan kehidupan, termasuk ketika memasuki usia lanjut.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pola pikir dan perilaku karena keduanya saling berkaitan dalam membentuk karakter seseorang.
“Hati-hatilah dengan pikiran Anda karena pikiran Anda akan menentukan perkataan Anda. Hati-hatilah dengan perkataan Anda karena perkataan Anda akan menentukan perbuatan Anda. Hati-hatilah dengan perbuatan Anda karena perbuatan Anda akan menentukan watak Anda. Hati-hatilah dengan watak Anda karena watak Anda akan menentukan nasib Anda.”
Prof. Noor Rochman yang juga mengajar di Universitas Gunadarma itu kemudian menjelaskan sejumlah perubahan yang terjadi seiring bertambahnya usia. Perubahan tersebut meliputi aspek fisik, psikologis, mental, dan sosial.
Pada aspek fisik, lanjut dia, proses penuaan antara lain ditandai dengan berkurangnya kemampuan tubuh dalam memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan atau keausan.
Perubahan tersebut dapat terlihat pada rambut, kulit, gigi, mata, pendengaran, otak, cairan tubuh, fungsi organ reproduksi, hingga perubahan tinggi dan berat badan.
Memasuki usia 50 tahun ke atas, pertumbuhan dan regenerasi sel serta jaringan tubuh juga mengalami penurunan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan daya tahan tubuh semakin melemah sehingga seseorang lebih mudah merasa lelah.
Fungsi sistem kekebalan tubuh atau imunitas juga mengalami penurunan yang berpengaruh terhadap meningkatnya kerentanan terhadap penyakit.
Prof. Noor Rochman juga menyinggung perubahan hormonal yang terjadi pada perempuan, khususnya menopause. Kondisi tersebut terjadi ketika produksi hormon dari ovarium atau indung telur berkurang sehingga siklus menstruasi menjadi tidak teratur dan pada akhirnya berhenti.
Selain itu, perubahan juga dapat terjadi pada kemampuan motorik. Gerakan yang sebelumnya kompleks dapat menjadi lebih sederhana dan seseorang dapat mengalami kesulitan ketika melakukan gerakan-gerakan yang rumit.
Dari sisi penampilan, proses penuaan dapat ditandai dengan perubahan komposisi tubuh, seperti berkurangnya berat badan pada kondisi tertentu, penimbunan lemak, serta perubahan pada kulit yang menjadi lebih keriput.
Sementara itu, fungsi ingatan juga dapat mengalami perubahan. Ingatan jangka pendek cenderung menurun, sedangkan ingatan jangka panjang yang berkaitan dengan pengalaman dan muatan emosional tertentu terkadang masih tetap terjaga.
Kuliah perdana tersebut mendapat perhatian peserta. Hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan selama sesi berlangsung. Peserta tampak antusias menggali lebih jauh berbagai persoalan yang berkaitan dengan perubahan psikologis dan kehidupan pada masa lanjut usia.
Dalam paparannya, Prof. Noor Rochman juga membahas pentingnya mental switching atau kemampuan melakukan perubahan pola pikir dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.
Menurutnya, keberhasilan mental switching antara lain ditentukan oleh ketabahan dan kemampuan seseorang untuk tetap bertahan dalam menghadapi kesulitan. Ketabahan menjadi modal penting agar seseorang mampu menjalani setiap proses kehidupan dengan lebih baik.
Ia mengajak peserta untuk melakukan refleksi terhadap kemampuan diri dalam menghadapi berbagai perubahan.
“Apakah kita sudah cukup sabar dan tabah dengan proses yang akan kita jalani?” ujarnya.
Prof. Noor Rochman menambahkan, keberhasilan mental switching juga membutuhkan kemampuan untuk menentukan skala prioritas dalam kehidupan. Seseorang perlu memahami hal-hal yang benar-benar penting dan menempatkannya dalam urutan yang tepat.
“Apakah yang kita prioritaskan? Sudahkah kita meletakkannya dalam urutan yang sesuai?” pungkasnya.[]









Comment