Penulis: Zahra Tenia | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Maulid Nabi Muhammad SAW kembali diperingati umat Islam dengan beragam tradisi dan kegiatan keagamaan. Di Indonesia, momentum tersebut dirayakan dengan lantunan selawat, pengajian, ceramah agama, kegiatan sosial, hingga berbagai tradisi masyarakat yang telah berlangsung turun-temurun.
Di Yogyakarta, misalnya, terdapat tradisi Garebeg Mulud yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi. Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta menjelaskan, Garebeg Mulud merupakan puncak peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang ditandai dengan prosesi gunungan dan berbagai rangkaian adat Keraton. Tradisi tersebut juga telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Yogyakarta.
Tradisi serupa juga berkembang di berbagai daerah dengan karakteristik masing-masing. Keragaman tersebut menunjukkan bahwa Maulid tidak hanya hadir sebagai momentum keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Muslim Indonesia.
Momentum Maulid juga menjadi bahan pembahasan dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026. Dalam program tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Tanah Abang, Muhammad Iqbal Akmaludin, menekankan bahwa kecintaan kepada Rasulullah tidak semestinya berhenti pada peringatan atau kegiatan seremonial, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut penting untuk direnungkan. Sebab, di tengah semaraknya berbagai kegiatan Maulid, umat Islam perlu kembali bertanya: apa sesungguhnya makna mencintai Rasulullah SAW? Dan sejauh mana kecintaan tersebut telah membentuk kehidupan kita?
Maulid seyogianya tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Peringatan kelahiran Rasulullah SAW dapat menjadi momentum untuk mengenal kembali perjalanan hidup, perjuangan, keteladanan, serta risalah yang beliau bawa.
Sering kali, perhatian umat lebih banyak tertuju pada kemeriahan acara, lantunan selawat, ceramah, pawai, maupun berbagai kegiatan sosial. Semua itu tentu dapat menjadi sarana menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah.
Namun, menurut pandangan penulis, ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yakni bagaimana kecintaan tersebut diterjemahkan menjadi perubahan dalam kehidupan.
Rasulullah SAW bukan hanya dikenal sebagai sosok yang memiliki akhlak mulia. Beliau juga merupakan pembawa risalah yang membimbing manusia dalam berbagai aspek kehidupan.
Karena itu, keteladanan terhadap Rasulullah semestinya tidak hanya ditempatkan pada wilayah personal, seperti kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, dan ibadah, tetapi juga pada kesungguhan beliau dalam menyampaikan risalah Islam.
Pandangan bahwa Maulid harus menjadi momentum perubahan juga sejalan dengan pesan yang disampaikan dalam program Mutiara Pagi RRI. RRI mencatat, kecintaan kepada Rasulullah perlu dibuktikan melalui perilaku dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Maulid tidak berhenti pada seremonial tahunan.
Dengan demikian, pertanyaan pentingnya bukan sekadar bagaimana Maulid dirayakan, melainkan apa yang berubah dalam diri umat setelah Maulid berlalu?
Dalam Islam, kecintaan kepada Rasulullah memiliki konsekuensi berupa ittiba, yakni mengikuti dan meneladani beliau.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 31: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ayat tersebut memberikan pesan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya bukan sekadar pengakuan, tetapi harus diwujudkan melalui sikap mengikuti petunjuk yang dibawa Rasulullah SAW.
Bagi penulis, ittiba berarti berusaha menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam seluruh kehidupan yang mampu dijangkau manusia. Keteladanan itu dapat dimulai dari perkara yang paling dekat: kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, kepedulian kepada sesama, menjaga lisan, hingga kesungguhan dalam menjalankan ajaran agama.
Hal tersebut juga sejalan dengan pesan Kementerian Agama dalam rangkaian Blissful Mawlid 1448 H. Kemenag menegaskan bahwa gerakan selawat diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat yang meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Menjadikan Rasulullah sebagai qudwah juga berarti mempelajari perjalanan dakwah beliau secara utuh. Rasulullah SAW menghadapi masyarakat dengan pendekatan dakwah, pembinaan keimanan, penyampaian risalah, serta keteladanan akhlak.
Sirah Nabi menunjukkan bahwa dakwah Rasulullah berlangsung melalui proses yang panjang. Beliau membina para sahabat, menyampaikan Islam kepada masyarakat, menghadapi berbagai tekanan, membangun kekuatan umat, kemudian membentuk masyarakat Madinah setelah memperoleh dukungan dari kaum Anshar melalui Baiat Aqabah.
Proses tersebut menunjukkan bahwa perubahan masyarakat tidak berlangsung seketika. Ada pembinaan individu, interaksi dengan masyarakat, penguatan persaudaraan, serta pembangunan kehidupan bersama berdasarkan nilai-nilai yang diyakini.
Karena itu, menurut pandangan penulis, umat Islam perlu mempelajari sirah Rasulullah secara lebih mendalam, bukan hanya untuk mengetahui kronologi kehidupan beliau, tetapi juga memahami bagaimana beliau menghadapi persoalan umat, membangun solidaritas, menyelesaikan konflik, memperkuat persaudaraan, serta menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.
Pada titik inilah Maulid dapat memiliki makna yang lebih luas. Peringatan kelahiran Rasulullah tidak berhenti pada mengenang masa lalu, tetapi menjadi sarana melakukan evaluasi terhadap kehidupan umat hari ini.
Perubahan yang dicontohkan Rasulullah tidak dapat dilepaskan dari perubahan manusia. Para sahabat terlebih dahulu dibina menjadi pribadi yang memiliki keimanan, kesadaran, keberanian, kesabaran, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Al-Qur’an juga memerintahkan adanya sekelompok umat yang mengajak kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan dalam Surat Ali Imran ayat 104.
Dalam konteks kehidupan saat ini, pesan tersebut dapat dimaknai sebagai dorongan agar umat tidak bersikap individualistis. Persoalan sosial, kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan moral, konflik, serta berbagai persoalan kemasyarakatan membutuhkan kepedulian bersama.
Dakwah pun tidak semestinya dipahami sebatas aktivitas menyampaikan ceramah. Dakwah juga membutuhkan keteladanan, pendidikan, kepedulian sosial, penguatan keluarga, serta upaya membangun masyarakat yang berakhlak dan berkeadaban.
Di sinilah Maulid dapat menjadi momentum untuk memperluas makna kecintaan kepada Rasulullah. Selawat yang dilantunkan hendaknya melahirkan kesadaran. Ceramah yang disampaikan hendaknya melahirkan perubahan. Dan kecintaan kepada Rasulullah hendaknya tercermin dalam perilaku nyata.
Menjadikan Rasulullah sebagai qudwah berarti menjadikan kehidupan beliau sebagai sumber keteladanan.
Dalam keluarga, Rasulullah dikenal sebagai sosok yang penuh kasih sayang. Dalam kehidupan sosial, beliau mengajarkan persaudaraan, kejujuran, amanah, dan kepedulian. Dalam menghadapi perbedaan dan konflik, beliau menunjukkan pentingnya kebijaksanaan dan keadilan.
Keteladanan tersebut tetap relevan di tengah kehidupan masyarakat modern. Terlebih ketika ruang digital semakin memengaruhi cara manusia berkomunikasi. RRI dalam pembahasan Maulid pada 21 Agustus 2026 juga menekankan bahwa akhlak Rasulullah relevan diterapkan dalam cara berbicara, bersikap, menggunakan media sosial, dan memperlakukan sesama.
Karena itu, mencintai Rasulullah bukan hanya tentang seberapa sering kita berselawat, tetapi juga tentang seberapa jauh akhlak dan nilai-nilai yang beliau ajarkan hadir dalam kehidupan.
Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak berhenti sebagai perayaan tahunan. Ia dapat menjadi momentum untuk memperbarui kecintaan kepada Rasulullah, mempelajari sirah beliau, memperbaiki akhlak, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama.
Semarak Maulid akan menjadi lebih bermakna apabila melahirkan perubahan nyata: keluarga yang lebih harmonis, masyarakat yang lebih peduli, generasi yang lebih berakhlak, serta umat yang semakin memahami dan menjalankan ajaran Islam.
Menjadikan Rasulullah sebagai qudwah berarti berusaha mengikuti keteladanan beliau dalam kehidupan. Bukan hanya mengenang kelahirannya, tetapi juga memahami risalahnya, mempelajari perjuangannya, dan menghadirkan nilai-nilai yang beliau ajarkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, Maulid tidak sekadar menjadi momentum untuk mengenang Rasulullah SAW, tetapi menjadi titik tolak untuk memperbaiki diri dan kehidupan umat. Wallahu a’lam bish-shawab.[]









Comment