![]() |
| Witri Osman |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – 2019 adalah tahun politik di Indonesia. Seperti biasa, tiap perhelatan politik di gelar banyak pihak akan mendatangi umat. Mencoba merebut hati umat, menjanjikan berbagai solusi untuk umat. Karena tidak bisa dipungkiri umat saat ini sangat merindukan terjadinya perubahan mengingat kondisi kehidupan yang semakin ironis jika dilihat dari sudut kamera mana saja.
Melihat kecenderungan politik di Indonesia saat ini. Ada tiga kubu yang sedang bertanding.
Satu kubu dari incumbent. Yang kedua dari kubu oposisi. Dan yang ketiga adalah kubu masyarakat medsos ideologis yang memperjuangkan opini Islam kaaffah sebagai solusi tuntas persoalan bangsa.
Kubu incumbent yang masih sangat bernafsu menduduki tampuk kekuasaan. Terbukti dengan model kampanye yang menyerang pribadi lawannya, bukan pada hal yang subtantif. Menjadikan orang gila mempunyai hak pilih. Berharap mendulang suara dari segmen ini. Banyaknya ditemukan KTP yang tercecer dibeberapa daerah wilayah tanah air. Seiring dengan membanjirnya arus tenaga kerja dari Cina. Media- media mainstream yang sudah dijinakkan oleh rezim.
Kubu oposisi. Munculnya cawapres dari kalangan pengusaha, pendatang baru di dunia politik, langsung eksis. Masyarakat berharap banyak kepada paslon tersebut. Masyarakat terutama kaum emak-emak “tersihir” dengan gaya milenialnya, ketampanan, kekayaan, dan sikap humble-nya, bertolak belakang dengan petahana.
Masyarakat medsos, yang selalu mengikuti perkembangan sepak terjang dari kedua kubu tersebut, umumnya sudah muak dan bosan menyaksikan perlakuan sewenang- wenang rezim. Mempersekusi ulama, penangkapan aktivis Islam. Pembiaran terhadap para penista agama, pembakar Bendera Tauhid. Perlakuan yang tidak adil bagi orang yang dekat dengan penguasa dan yang tidak. Hukum yang berat sebelah, hukum yang mandul. Ketidakadilan yang nyata dan kasat mata.
Belum lagi jurang persoalan ekonomi yang semakin dalam. Kalau dilihat, sekarang kekhawatiran masyarakat itu lebih kepada, ketiadaan lapangan pekerjaan. Kebutuhan hidup semakin mahal. Terpuruknya perekonomian. Itu semua berimbas kepada standar halal haram yang kian kabur, akhirnya rimba ekonomi menjadi lingkungan “asal untung” yang tak manusiawi.
Dari situ, kriminalitas meningkat. Bermunculan kasus-kasus yang idenya bahkan tak pernah terpikir dalam benak manusia. Semakin variatif beragam, bahkan canggih dan sadis. Na’udzubillaah. Inilah syurga bagi setan-setan keji yang menyerupai manusia dan melakukan berbagai tindakan yang mengancam peradaban manusia.
Itu semua buah dari penerapan sistem rusak yang tak berasal dari Pencipta manusia. Bukan sistem Islam, sehingga kehancuran tak bisa dielak dan kemalangan beruntun akan terus terjadi. Tetapi masyarakat tidak semuanya merasa khawatir, Islam tidak diterapkan dalam kehidupan.
Sehingga ketika paslon tertentu menyatakan bahwa jika Ia menang, maka tidak akan menerapkan Islam. Reaksi masyarakat, biasa- biasa saja. Bahkan sikap ulama juga demikian. Otomatis jika kelak kubu oposisi menang, masyarakat tetap akan kecewa. Ulama juga akan menjadi sasaran kekecewaan masyarakat, karena telah merekomendasikan masyarakat untuk mendukung paslon tertentu yang pada akhirnya tak juga menerapkan hukum Allah, sehingga persoalan keumatan dapat solusi tuntas.
Alhasil kita harus pahami. Islam tak mungkin diterapkan dalam negara yang menganut sistem Demokrasi. Sama halnya jika ikan hidup di darat, pasti akan mati. Benarlah apa yang diucapkan oleh calon dari oposisi bahwa jika ia terpilih ia tidak akan menerapkan Islam. Selain karena bukan itu yang menjadi tujuannya utuk bertanding pada Pilpres ini, demokrasi dan Islam memang bertentangan secara diametral.
Syariat Islam itu rumahnya adalah Khilafah, satu-satunya institusi yang akan secara holistik menerapkan sistem Islam. Namun Khilafah tidak akan tegak tanpa dukungan umat, sehingga seluruh umat harus memahami urgensi kembali kepada sistem Islam, pun kesejahteraan hanya akan dicapai di dalam naungannya.
Di sinilah urgensi dakwah politis yang tidak hanya sekadar tausiah, tapi harus benar-benar mampu menyadarkan umat bahwa keterpurukan yang kita alami ini akibat dari tidak diterapkannya aturan Islam dalam kehidupan. Memahamkan Islam politik ke tengah masyarakat. Mengajak umat untuk melaksanakan Islam secara Kaffah.
Keberpihakkan kaum Muslimin harus diletakkan semata-mata untuk Islam. Siapapun calon pemimpinnya, selama dia enggan bersyariat maka selama itu pula musibah dan kezaliman akan merebak, pun segala upayanya akan gagal total.[]
Penulis adalah ibu rumah tangga dan aktivis dakwah
Penulis adalah ibu rumah tangga dan aktivis dakwah










Comment