Penulis: Nabila Maulidina Widyarahmah, Lc. | Akademisi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin pesat. Teknologi ini mampu membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan, mulai dari mencari informasi, mengolah data, hingga mendukung penelitian di bidang kesehatan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran tentang risiko AI yang semakin canggih dan sulit dikendalikan.
Sejumlah peneliti AI, termasuk tokoh yang dikenal sebagai “Bapak AI”, kembali mengingatkan pemerintah agar bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya ledakan kecerdasan buatan.
Kekhawatiran ini muncul seiring kemampuan AI yang terus berkembang, bahkan berpotensi melakukan berbagai tugas dengan campur tangan manusia yang semakin sedikit.
Di bidang medis, AI berpeluang membantu mendeteksi penyakit, menganalisis data pasien, dan mempercepat penelitian. Dalam bidang lain, teknologi ini juga dapat meningkatkan efisiensi pekerjaan dan mempermudah kehidupan manusia.
Namun, kemajuan tersebut juga menyimpan risiko. AI dapat disalahgunakan untuk melakukan serangan siber, membantu mengembangkan ancaman biologis, menyebarkan informasi palsu, hingga mendukung operasi militer. Selain itu, muncul kekhawatiran ketika sistem AI mengambil keputusan penting tanpa pengawasan manusia yang memadai.
Masalahnya bukan semata-mata seberapa cerdas AI dapat berkembang, melainkan bagaimana manusia mengendalikan dan mengarahkannya. Sebab, teknologi yang sama dapat digunakan untuk membantu kehidupan manusia, tetapi juga dapat menjadi alat untuk melakukan kejahatan dan kerusakan.
Kemajuan Teknologi Membutuhkan Batasan
Kemampuan AI pada dasarnya merupakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan manusia. Teknologi ini bekerja dengan mengolah data, pola, dan informasi yang tersedia untuk menghasilkan jawaban atau melakukan tugas tertentu. Karena itu, hasil yang diberikan AI tidak selalu benar, netral, atau bebas dari kepentingan tertentu.
Informasi yang keliru dapat menghasilkan jawaban yang menyesatkan. Data yang bias dapat memengaruhi keputusan. Sementara itu, penggunaan AI oleh pihak yang memiliki kepentingan tertentu dapat membuka peluang manipulasi informasi dan penyalahgunaan teknologi.
Kekhawatiran ini semakin besar ketika perkembangan teknologi berlangsung lebih cepat daripada kemampuan pemerintah dalam menyusun kebijakan dan pengawasan. Sejumlah negara masih berupaya mencari keseimbangan antara mendorong inovasi dan melindungi masyarakat dari risiko AI.
Artinya, kemajuan teknologi tidak cukup hanya diukur dari kecanggihan dan manfaat ekonominya. Keamanan, tanggung jawab, serta dampaknya terhadap kehidupan manusia juga harus menjadi pertimbangan utama.
Islam Memandang Teknologi sebagai Sarana, Bukan Penentu Kebenaran
Dalam Islam, manusia diberikan akal untuk berpikir, memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, dan menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi.
Akal merupakan karunia yang harus digunakan sesuai dengan petunjuk Allah, bukan semata-mata untuk mengejar kemajuan tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’: 70).
Kemuliaan manusia tidak hanya terletak pada kemampuan berpikir dan menciptakan teknologi, tetapi juga pada tanggung jawab moral atas apa yang diperbuatnya. Semakin besar kemampuan yang dimiliki manusia, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya secara benar.
Dalam perspektif Islam, hasil pemikiran dan perkembangan teknologi perlu dilihat berdasarkan sifat, nilai, serta tujuan penggunaannya. Dalam pembahasan peradaban Islam, dikenal pembedaan antara hadarah, yaitu pandangan hidup yang lahir dari suatu ideologi, dan madaniyah, yaitu bentuk benda atau produk material yang dapat dimanfaatkan manusia.
Pembedaan ini membantu kita memahami bahwa tidak semua produk teknologi memiliki kedudukan yang sama. Ada aspek teknologi yang bersifat material dan dapat dimanfaatkan secara luas, tetapi ada pula gagasan, nilai, dan pandangan hidup yang menyertai penggunaannya.
AI memang merupakan produk teknologi buatan manusia. Akan tetapi, pengembangan, data, tujuan, dan keputusan yang dihasilkan melalui penggunaannya dapat dipengaruhi oleh nilai serta kepentingan pihak yang terlibat. Karena itu, AI tidak semestinya diterima begitu saja tanpa pemeriksaan dan pertimbangan yang matang.
Ketika Kecerdasan Tidak Disertai Petunjuk
Kecerdasan yang tinggi tidak selalu menjamin seseorang mampu membedakan kebaikan dan keburukan. Demikian pula, sistem AI yang mampu menghasilkan jawaban canggih tidak otomatis dapat menentukan sesuatu yang benar menurut syariat Islam.
AI dapat membantu mencari ayat, mempelajari kitab, mengolah referensi, dan mendukung penelitian keislaman. Namun, hasilnya tetap harus diperiksa, terutama dalam persoalan akidah, tafsir, fikih, dan penetapan hukum syariat. AI bukan sumber wahyu dan tidak dapat menggantikan tanggung jawab ulama dalam menjelaskan hukum berdasarkan dalil dan kaidah keilmuan.
Di sisi lain, teknologi yang sama dapat digunakan untuk menyebarkan fitnah, memanipulasi gambar dan suara, menipu masyarakat, atau mendukung tindakan yang merugikan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan AI bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut nilai, tujuan, dan aturan yang mengarahkan penggunaannya.
Dalam pandangan Islam, kemajuan teknologi seharusnya diarahkan untuk mewujudkan kemaslahatan dan mencegah kerusakan. Akidah yang kokoh dan ketundukan pada syariat menjadi landasan bagi seorang Muslim dalam menentukan tujuan serta batas penggunaan teknologi. Setiap manfaat perlu dipertimbangkan bersama dampak dan konsekuensinya.
Syariat Islam sebagai Pedoman Kehidupan
Perkembangan AI menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan pedoman yang lebih mendasar daripada sekadar kemampuan teknis. Teknologi dapat membantu manusia melakukan banyak hal, tetapi teknologi tidak dengan sendirinya menentukan tujuan hidup yang benar.
Islam memiliki seperangkat aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan kehidupan. Dengan menjadikan syariat sebagai pedoman, penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diarahkan agar tidak hanya mengejar keuntungan atau kekuasaan, tetapi juga memperhatikan keadilan, tanggung jawab, dan kemaslahatan.
Karena itu, tantangan AI tidak cukup dijawab dengan memperbanyak inovasi atau memperketat pengawasan teknis saja. Manusia juga perlu memiliki landasan nilai yang jelas dalam menentukan teknologi apa yang dikembangkan, untuk tujuan apa teknologi itu digunakan, dan batas apa yang tidak boleh dilanggar.
Pada akhirnya, kecerdasan buatan tetap merupakan hasil karya manusia. Ia dapat menjadi sarana yang bermanfaat, tetapi juga dapat menimbulkan kerusakan apabila digunakan tanpa tanggung jawab. Kemajuan teknologi semestinya tidak membuat manusia melupakan kedudukannya sebagai hamba Allah dan pemegang amanah di bumi.
Pertanyaan terpenting bukan hanya seberapa cerdas AI akan menjadi, tetapi siapa yang menentukan arah penggunaannya dan nilai apa yang menjadi pedomannya.
Dalam perspektif Islam, kemajuan yang sesungguhnya bukan sekadar kemampuan menciptakan teknologi yang semakin canggih, melainkan kemampuan menempatkan ilmu dan teknologi di bawah petunjuk Allah SWT.[]
Sumber:
* CNN Indonesia — Bapak AI Dunia Wanti-wanti Ledakan Kecerdasan.
* Metro TV — Perkembangan AI Makin Pesat, Pemerintah di Dunia Semakin Tertinggal.
* Metro TV — Waspada, Teknologi AI Bisa Jadi Senjata Manipulasi Informasi.
* Kompas — AI Membentuk Masa Depan Medis dan Keuangan.











Comment