by

Ai Siti Nuraeni*: Simpul Kebangkitan Generasi Penerus Bangsa

 

RADARIMDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Saat itu tahun kelima setelah Rasulullah saw. serta kaum muhajirin hijrah ke Yatsrib. Kaum muslim tengah mempersiapkan strategi perang dengan membangun parit untuk menghadang musuh.

Terik matahari begitu membakar kulit. Suara palu silih bersahutan karena membentur batu yang amat keras. Rasa lapar dan dahaga tidak bisa terpuaskan karena saat itu tengah paceklik.

Orang munafik mulai enggan membantu pembangunan parit itu, kaum muslim juga hampir saja menyerah jika tidak dikuatkan dengan keimanan.

Di tengah semua kesulitan tersebut seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel ataukah Roma?

Maka Rasulullah saw menjawab bahwa Kota Heraklius (Konstantinopel) terlebih dahulu yang akan ditaklukkan.

Selanjutnya Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang berhasil menaklukkan Konstantinopel itu disematkan sebagai sehebat-hebat Amir (panglima perang) dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya.

Inilah bisyarah (kabar gembira) yang telah membuat kaum muslimin setelahnya berlomba-lomba menempa diri dan pasukan mereka agar bisa meraih predikat tersebut. Banyak sahabat dan generasi setelahnya yang mencoba tapi berbuah kegagalan.

Namun tak disangka Konstantinopel berhasil ditaklukan oleh pasukan yang dipimpin oleh seorang pemuda berumur 21 tahun yang digelari Muhammad al-Fatih lebih dari 500 tahun setelah bisyarah itu disampaikan Rasulullah. Sungguh usaha al-Fatih dalam memfutuhat Konstantinopel itu bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda bangsa saat ini.

Namun kisah heroik tersebut kurang mendapat perhatian oleh masyarakat muslim baik karena pengaruh liberalisme, phobia dan mungkin juga kurang membaca sejarah keberhasilan peradaban islam jauh sebelum peradaban lain.

Phobia terjadap islam yang ditanamkan Barat kepada dunia islam tampaknya telah berhasil membangun pemikiran publik termasuk umat islam itu sendiri.

Buku buku yang memberi inspirasi dan motivasi penting sekalipun, bila ditulis oleh penulis yang dianggap berseberangan secara politis, maka buku itu pun dianggap subversif yang tidak di benarkan anak anak generasi membacanya.

Padahal umat islam dalam hal ini tidak melihat siapa penulis dari sebuah buku untuk mempelajari dan mendalami ilmu.

Bila ilmu itu benar dan tidak bertentangan dengan kaidah atau  aqidah maka siapapun guru, penulis dengan latar belakang agama dan kebangsaan yang berbeda sekalipun tidak menjadi persoalan.

Pembentukan generasi memang menjadi masalah yang penting bagi peradaban manapun, keberhasilan dalam menciptakan generasi yang unggul akan membuat masa depan bangsa menjadi cerah.

Oleh karena itu setiap bangsa senantiasa memikirkan bagaimana pendidikan pada generasi ini dilakukan.

Adapun untuk melakukan tugas pendidikan generasi ini setidaknya ada tiga pihak yang harus berkontribusi di dalamnya yaitu anggota keluarga, masyarakat tempat anak hidup dan negara.

Keluarga adalah tempat pertama pembentukan generasi, di dalamnya anak diajarkan nilai-nilai keagamaan, kasih sayang, sopan santun, tatakrama serta ilmu dasar yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Keluarga juga punya fungsi pengawasan untuk memastikan anak tetap ada dalam koridor yang benar.

Tapi fakta yang terjadi saat ini keluarga tidak berfungsi dengan baik dalam hal dan proses pendidikan anak. Orang tua lebih tersibukkan dengan aktivitas mencari nafkah, tidak hanya ayah tapi ibu pun kini lebih memilih terjun ke dunia kerja karena tuntutan ekonomi yang kian mencekik apalagi di situasi pandemi saat ini. Anak lebih banyak dititipkan pada pengasuh atau pada orang tua.

Akibatnya proses pendidikan anak tidak berjalan dengan baik karena ayah dan ibu sudah kelelahan setelah bekerja.

Selain itu persoalan perceraian orangtua yang meningkat tiap tahunnya menambah deretan panjang anak yang broken home dan menyebabkan masalah turunan lainnya.

Belum lagi kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang terjadi dalam lingkup keluarga telah menimbulkan efek traumatis sendiri pada anak, yang membuat mereka tidak bisa berkembang dengan baik.

Selama masa pandemi ini kita juga sering dikejutkan dengan kasus dalam lingkup keluarga, mulai dari penganiayaan seorang ibu pada anaknya karena enggan belajar daring, pembunuhan akibat cekcok suami istri atau seorang ayah yang tewas gantung diri karena tidak sanggup dengan himpitan ekonomi di kala pandemi yang kian berat.

Jika anak bisa dikondisikan dengan baik di dalam keluarga dengan segala macam masalahnya maka anak sudah siap untuk mendapatkan pendidikan langsung di tengah masyarakat. Supaya mereka mendapatkan pengetahuan yang lebih luas dan keterampilan yang diperlukan dalam menjalankan kehidupan keseharian.

Sayangnya kondisi masyarakat saat ini juga sedang tidak baik-baik saja. Sering muncul di pemberitaan adanya tawuran antar warga, merebaknya tindak pelecehan seksual yang semakin beraneka ragam bentuknya serta pencurian atau perampokan yang semakin merajalela.

Hal ini memberikan gambaran bahwa kondisi masyarakat tengah rusak dan mengkhawatirkan, maka bagaimana mungkin keadaan ini memberikan pengaruh positif terhadap tumbuh kembang anak?

Tidak jauh berbeda dari situasi yang terjadi di masyarakat, di level pemerintahan pun negara sebagai penyelenggara pendidikan sedang dalam kondisi karut marut.

Kurikulum yang silih berganti menyulitkan para guru untuk mengajar, ada ketimpangan sarana dan prasarana antara kota dan desa, kompetensi guru yang kurang ditingkatkan hingga pembelajaran daring saat pandemi menambah masalah pendidikan di negeri ini.

Semua masalah ini diakibatkan oleh penerapan kapitalis liberal (paham bernuansakan materi dalam perilaku sebebebas-bebasnya) yang diadopsi negara hingga masuk dalam jiwa individu rakyat lalu berimbas dalam setiap sendi kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan.

Pendidikan dijadikan komoditas ekonomi kapitalis yang biayanya tinggi, sehingga tidak setiap anak bisa mendapatkannya secara merata dan maksimal.

Selain itu kekayaan alam yang diprivatisasi menyebabkan negara kesulitan dalam melakukan pembangunan sarana pendidikan karena tidak memiliki dana yang cukup, akibatnya negara lebih mengandalkan utang luar negeri atau investasi asing dalam pembangunan.

Kapitalis liberal ini juga telah terbukti menghancurkan tatanan masyarakat hingga ke ranah keluarga sekalipun. Hal tersebut karena keuntungan materi yang menjadi tolok ukur segala perbuatan.

Sehingga anak melihat bahwa kesuksesan itu hanya diukur dari berlimpahnya materi. Maka tidak heran generasi saat ini lebih mengidolakan para konglomerat yang senantiasa mempertontonkan kemewahan di tengah masyarakat.

Generasi kini termotivasi untuk hidup hedon bagaimana pun caranya, entah cara yang mereka lakukan itu benar atau salah. Karenanya tidak heran jika sistem ini gagal dalam mewujudkan generasi gemilang.

Kerusakan yang terstruktur seperti itu tidak akan muncul jika manusia mau menerapkan Islam dalam setiap aspek kehidupannya.

Hal itu karena landasan setiap aktivitasnya bukan sekedar hawa nafsu melainkan akidah dan syaria’t yang dibimbing oleh wahyu. Islam juga telah memberikan sosok manusia terbaik yang setiap tindakan dan ucapannya menjadi teladan bagi setiap manusia termasuk generasi muda yakni Nabi Muhammad saw.

Bahkan keteladanan Rasulullah ini telah menginspirasi lahirnya tokoh hebat setelahnya seperti Khulafaur rasyidin, Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Muhammad al-Fatih, Shalahuddin al-Ayyubi dan tokoh Islam lainnya.

Selanjutnya Islam punya sistem yang sempurna dan menyeluruh yang mengatur kehidupan manusia. Mulai dari sistem politik, ekonomi, keamanan, pendidikan, industri, pergaulan dan sistem lainnya.

Dalam sistem pendidikan Islam memandang bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara. Oleh karena itu, negara akan berusaha keras untuk memenuhi hak tersebut dengan menyelenggarakan pendidikan gratis bagi warga negaranya.

Selain itu negara berkewajiban untuk membuat iklim yang baik dengan mengembalikan fungsi keluarga, masyarakat dan negara sebagai bagian dari pendidik generasi.

Ayah akan difasilitasi dengan pembukaan lapangan kerja yang luas akibat dari pemanfaatan sumber daya alam yang dikelola negara bukan swasta bahkan pihak asing. Ibu jadi bisa kembali ke posisinya sebagai ummu wa rabbatul bait yang fokus pada pendidikan anak di rumah. Maka terciptalah keluarga yang ideal bagi anak.

Masyarakat dalam Islam pun akan terbina dengan syari’at, maka tindak kriminal, asusila dan kejahatan lainnya bisa tertangani dengan penerapan aturan Islam dalam lingkup muamalah dan ‘uqubat.

Maka ketika anak terjun di masyarakat, mereka akan terlindungi dari pergaulan yang tidak Islami.

Penerapan Islam dalam negara juga mampu menciptakan kurikulum terbaik yang didasarkan pada akidah Islam. Guru akan meningkat kualitasnya karena pelatihan dan pemenuhan kebutuhan hidupnya terpenuhi.

Pembangunan akan dilakukan secara merata tidak memandang diperkotaan atau di pedesaan. Semua itu karena pemimpin dalam Islam menyadari bahwa dia adalah orang yang akan Allah Swt. tanya atas kepemimpinannya selama di dunia. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits.

Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw. sesunggguhnya beliau bersabda: “setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya.

Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya.

Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya.” (HR. Muslim).

Selain itu diangkatnya kisah Muhammad al-Fatih yang sering kita dengar selama ini harusnya menjadi contoh bagi generasi agar mereka memiliki mentalitas yang kuat, punya ilmu yang luas, kreativitas tinggi serta tekad yang tidak tergoyahkan dalam mewujudkan visi yang benar.

Karena apa yang dilakukan bukan untuk pencapaian dunia saja melainkan menempa diri agar jadi generasi terbaik menurut Allah SWT.

Maka dari itu untuk mewujudkan generasi terbaik ini perlu sistem kehidupan yang benar, sempurna, menyeluruh dan sesuai fitrah manusia.

Sistem terbaik yang mampu memenuhi syarat tersebut adalah Islam yang komprehensif dan menyeluruh dan merepresentasikan kepentingan manusia.

Jadi, usaha untuk memberbaiki kualitas generasi harus diawali dengan upaya membangun institusi sahih tersebut sehingha tercapai generasi terbaik dalam peradaban gemilang. WalLaahu a’lam bish shawaab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven − nine =

Rekomendasi Berita