Ammylia Rostikasari, S.S: Sepenggal Puisi dan Gejolak Kebangkitan Hakiki

Berita1393 Views

Ammylia Rostikasari, S.S
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bait-bait puisi yang
dibacakan seniman sekaligus pendukung Paslon 02, Neno Warisman, saat munajat
212 dibuat kontroversi (detiknews.com/22/02/2019).
Begitu banyak bibir
mencibir, menyemai  hujatan. Bagi mereka
yang tunasastra, pastilah dengan mudah menafsirkan bait demi bait puisi dengan
makna denotasi. Makna yang melekat langsung pada kata-katanya, tanpa menelaah
sangkut paut dengan unsur lainnya.
Namun, ini bukanlah
sebuah kearifan. Karena menafsirkan puisi tidaklah sama dengan memahami prosa
juga editorial sebuah warta negara. Ada kiasan bahasa yang begitu beragam dalam
puisi, yang tak lain sebagai konotasi.
Puisi panjang yang digaungkan
pada 21 Februari sebagai perekatan ukhuwah alumni 212, tak lain adalah jeritan
hati. Gejolak akal sehat yang menuntut untuk direalisasi calon pemangku kuasa
negeri ini.

Namun kami mohon jangan serahkan kami pada mereka

Yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak cucu kami
Dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami
Karena jika Engkau tidak menangkan
Kami khawatir ya Allah
Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu
Ya Allah
Izinkan kami memiliki generasi yang dipimpin
Oleh pemimpin terbaik
Dengan pasukan terbaik



Saat harap telah
meluap, mengingat negeri dan rakyat yang masih saja dalam situasi ngeri. Ngeri
dalam ekonomi yang masih saja belum sejahtera. Politik yang masih saja penuh
trik dan konflik. Interaksi sosial yang kian liberal. Begitu juga dengan agama
yang masih dipandang sebelah mata. Di sanalah geram begitu tajam dirasa.
Mereka yang merasa
peka, terasah logika, menginginkan sebuah perubahan yang berarti. Berharap ada
situasi yang lebih harmoni di bumi pertiwi. Mendamba seorang pemimpin yang
membawa rakyatnya pada pencerahan.
Namun, begitu
disayangkan. Pencerahan tak bisa didapat dalam sistem demokrasi yang
mencengkeram negeri ini. Perubahan pun tak hanya didapat dari seorang pemimpin
yang berpihak pada rakyat. Perubahan dan kebangkitan hakiki hanya diraih dengan
ketaataan negeri dan penghuninya pada rambu-rambu Robbul Izzati.
Saat Perang Badar
berkecamuk, semua terlaksana karena titah Allah
Subhanahu wata’ala. Para fisabilillaah bergerak gagah agar mampu menegakkan kalimat Allah,
tak hirau jumlah lawan yang berkali lipat banyaknya. Mereka memperjuangkan
Islam sebagai agama juga pandangan hidup yang mulia.
Gejolak kebangkitan
hakiki, tentu mesti sesuai dengan contoh Nabi Saw. Adanya tak bisa dipisahkan
dengan wahyu Ilahi. Inilah yang seharusnya ditapaki umat yang menghendaki
perubahan dan kebangkitan. Kembali pada Allah dan Rasul-Nya, melalui penerapan syariat Islam kaffah dalam institusi Daulah
Khilafah Islamiyah, bukan berlama-lama pada sistem ala logika manusia, yaitu
demokrasi.
Sudah saatnya umat
memaksimalkan akal sehat. Bukan sekadar berpikir mendalam, tapi mesti sampai
pada berpikir cemerlang (
mustanir) yang senantiasa
melibatkan bahwa ada peran Allah di sana. Allah Swt. Sebagai Sang Pencipta juga
Sang Pengatur kehidupan manusia.
Wallahu’alam bishowab.[]

Penulis adalah anggota Komunitas Penulis Bela Islam

Comment