by

AMTI Sebut Cina Pasang Sistem Persenjataan di Pulau Reklamasi

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Berbagai foto citra satelit baru mengindikasikan Cina sudah memasang sistem persenjataan di tujuh pulau buatan (reklamasi) di wilayah sengketa perairan Laut Cina Selatan. Langkah ini berpotensi memicu kekhawatiran negara-negara yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan.

Seperti dilansir CNN, Kamis (15/12/2016), citra-citra satelit yang dirilis Inisiatif Transparansi Maritim Asia (AMTI) menunjukkan senjata antipesawat dan sejumlah sistem persenjataan lainnya telah dipasang pada struktur segi enam yang ada di Fiery Cross Reef, Mischief Reef, dan Subi Reef.

AMTI mulai melacak keberadaan sistem persenjataan itu sejak Juni 2016. AMTI merupakan bagian dari Pusat Kajian Strategis dan Internasional (CSIS) yang berbasis di Washington, Amerika Serikat (AS). Analisis AMTI sebelumnya menunjukkan, Cina telah membangun landasan untuk pesawat militer di pulau-pulau buatan ini.

AMTI menyebut, penempatan senjata-senjata itu menunjukkan keseriusan Cina membangun pertahanan di Laut Cina Selatan yang menjadi sengketa. “Beijing serius soal pertahanan di pulau-pulau buatan, dengan keberadaan persenjataan di Laut Cina Selatan. Di antara hal-hal lainnya, persenjataan ini akan menjadi garis pertahanan terakhir melawan rudal jelajah yang diluncurkan AS atau negara lain terhadap calon pangkalan udara ini,” katanya.

Disebutkan, sistem persenjataan di tiga pulau buatan terbesar yang dibangun Cina di gugusan terumbu karang Spratlys, terlihat lebih besar dibandingkan ‘benteng’ yang lebih kecil di empat pulau buatan lainnya. Empat pulau buatan lainnya dibangun di atas terumbu karang Gaven, Hughes, Johnson, dan Cuarteron yang ada di perairan Laut Cina Selatan.

Temuan AMTI ini diumumkan setelah Presiden Xi Jinping menyatakan, Cina tidak memiliki niat untuk memiliterisasi pulau-pulau buatan itu. Kementerian Luar Negeri Cina belum mengomentari laporan AMTI ini.

Menurut AS, Cina telah mengklaim area seluas 1.214 hektar di gugusan Kepulauan Spratly sejak awal 2014. Beberapa negara lainnya, seperti Vietnam, Malaysia, Filipina dan Taiwan juga mengklaim wilayah di Laut Cina Selatan. Namun, AS menyebut negara-negara itu hanya mengklaim area 40 hektare dalam 45 tahun terakhir.[tb]

Comment