by

Arini Faaiza*: Pesantren Pencetak Generasi Unggul

-Opini-51 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakan akan pentinganya ilmu agama, ditambah gaya hidup milenials yang semakin memprihatinkan, menjadikan lembaga pendidikan pesantren kian populer dan menjadi pilihan banyak orang tua sebagai tempat untuk menimba ilmu bagi putra-putrinya. Lulusan pesantren diharapkan memiliki ilmu agama yang mumpuni serta kecintaan yang tinggi terhadap tanah air.

Dilansir pojokbandung.com (30/8/2020), guna meningkatkan kecintaan terhadap Indonesia yang memiliki masyarakat yang beragam, maka sosialisasi tentang empat pilar bangsa yaitu Pancasila UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, harus dilakukan secara masif.

Bahkan hingga ke lingkungan pesantren. Anggota DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal usai menghadiri Konfercab PC Muslimat NU Kabupaten Bandung di Pondok Pesantren Danul Falah Pangalengan, Sabtu (29/8), mengatakan sosialisasi empat pilar dilakukan guna menguatkan Pancasila sebagai ideologi bangsa yang final, meningkatkan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan agar lebih memahami substansi dari pada perundang-undangan serta Bhineka Tunggal Ika merupakan suatu keniscayaan yang harus disosialisasikan.

Pihaknya menegaskan Pancasila sudah final maka tidak boleh diobrak-abrik lagi. Oleh karena itu, DPR RI akan memperkuat sosialisasi empat pilar. Hal tersebut dilakukan agar tidak ada penurunan jumlah masyarakat yang pro Pancasila. Ia mengkhawatirkan adanya ancaman eksternal yang dapat memecah-belah NKRI. Cucun memiliki keyakinan pesantren bisa menjadi sarana dan fasilitas yang pas untuk menyosialisasikan empat pilar, jangan sampai ada dugaan bahwa pesantren adalah sarang teroris.

Sejatinya pesantren merupakan tempat untuk mendidik generasi yang mumpuni, mencetak generasi unggul, mandiri, memiliki tsaqofah Islam dan piawai dalam sains dan teknologi.

Semenjak dahulu hingga kini, pesantren secara berkesinambungan menyebarkan dakwah Islam, beramar makruf nahi munkar di tengah umat. Sejarah pun mencatat kemerdekaan negeri ini tak lepas dari peran serta pesantren dan para santrinya dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Namun, keberadaan pesantren seolah dianaktirikan oleh pemerintah. Jika sekolah umum berada di bawah Kementerian Pendidikan Nasional yang memiliki anggaran cukup besar, pesantren berada di bawah kewenangan Kementerian Agama yang memiliki anggaran jauh lebih kecil. Minimnya bantuan dari pemerintah membuat lembaga pendidikan yang menghantarkan santri menjadi generasi yang berkepribadian Islam ini, harus memutar otak untuk memenuhi biaya pendidikan.

Sarana dan prasarana pesantren seperti gedung sekolah, asrama, buku, gaji guru dan lain sebagainya hanya mengandalkan pembiayaan dari bayaran santri, serta infak, sedekah dan wakaf. Maka tak heran, untuk menyekolahkan putra-putri ke pesantren orang tua mengeluarkan dana yang tak sedikit.

Padahal jika dibandingkan dengan sekolah umum yang didanai penuh oleh pemerintah, lulusan pesantren jauh lebih unggul karena mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang agamanya. Di sekolah umum mata pelajaran agama mendapatkan porsi yang lebih sedikit karena hanya dianggap sebagai pelengkap, bahkan beberapa waktu yang lalu ada wacana untuk menghapuskan materi pelajaran agama.

Begitulah kurikulum pendidikan sekuler, menganggap agama hanya sebagai pelengkap. Sangat berbeda dengan Islam. Dalam Islam pendidikan merupakan kebutuhan pokok, yang harus diberikan oleh negara sebagai bentuk pelayanan terhadap rakyat. Pendidikan dengan kualitas yang terbaik dan berbiaya murah bahkan gratis.

Sumber pendanaannya diambil dari baytul maal dan dari sumber daya alam yang dikelola oleh negara. Kurikulum pendidikan Islam mengutamakan pendidikan yang berbasis pada akidah Islam, mengutamakan adab, berpegang pada syariat Islam yang bersumber dari al-Quran dan as Sunnah. Rasulullah saw. bersabda:

“Telah aku tinggalkan kepada kalian semua dua perkara yang jika kalian berpegang teguh padanya maka tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Hakim)

Antusiasme umat terhadap pesantren saat ini, sayangnya diwarnai oleh kecurigaan beberapa pihak terkait radikalisme di dalam pesantren.

Lembaga pendidikan yang seharusnya mendapatkan dukungan dan perhatian pemerintah, justru mendapat tudingan miring terkait radikalisme yang dianggap bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Apabila berkaca pada sejarah bangsa ini, perjuangan para santri dalam mengusir penjajah merupakan bukti nyata kecintaan mereka terhadap tanah air. Selama kurikulum pesantren tetap berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah, kecil kemungkinan para kyai, ustaz/ustazah, dan santri tak memahami dan mengamalkan Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika atau bahkan tak mencintai NKRI.

Keberagaman dan toleransi telah sangat jelas menjadi budaya turun temurun di negeri ini, bahkan sebagai seorang muslim kita kerap diingatkan untuk senantiasa bertoleransi terhadap siapapun tanpa memandang agama, ras, dan warna kulit, selama tidak melanggar hukum syariat.

Allah Swt pun mengabadikan perintah untuk bertoleransi dalam al-Quran yaitu surat al-Kafirun. Maka, adanya segelintir oknum pesantren dan santri yang dicurigai terpapar radikalisme tak bisa dijadikan tolak ukur untuk menjatuhkan stigma negatif kepada seluruh pesantren dan para santrinya. Wallahu a’lam bi ash shawab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × two =

Rekomendasi Berita