by

Milda Nurjanah, S.Pd*: Jejak Kemuliaan Islam Tetap Mewangi Sepanjang Masa 

-Opini-84 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Muslim manapun yang mempelajari sejarah Islam, akan menemukan kebesaran Islam. Di manapun kaki Muslim berpijak, ia hidup dalam konsep “Inna fatahna laka fathan mubiina.” Futuhat adalah membuka sebuah daerah untuk memasukkan dakwah Islam.

Berbeda dengan penjajahan. Kehadiran Islam di suatu daerah dan negara bukan untuk menjajah tetapi untuk membebaskan bangsa dan negara itu dari penghambaan kepada manusia.

Di manapun Muslim hidup akan berada dalam kerangka “Rahmatan lil ‘Aalamiin.” Negeri manapun yang didiami Muslim akan merasakan manisnya iman, indahnya persaudaraan, terangnya cahaya ilmu, dan berkahnya kehidupan.

Apabila Anda seorang pencinta parfum atau kolektor parfum, sudah barang tentu sangat familar dengan sebuah kota di selatan Perancis, yakni kota Grasse. Hanya berjarak 15 kilometer dari kota Cannes. Grasse adalah ibukota distrik Arondisemen di departemen Alpes-Maritimes, Perancis. Dengan penduduk sekitar 44.790 jiwa, terkenal sebagai kota industri parfum semenjak abad ke 17. (https://www.tivona.id/explore/grasse-ibukota-parfum-dunia).

Parfum datang ke Eropa pada abad ke-12 dari Jazirah Arab. Setelah Islam masuk pada abad ke-8, para pedagang Arab leluasa berdagang di Eropa. Syariat Islam memerintahkan memperhatikan penampilan. Memakai wewangian sunah bagi lelaki. Boleh bagi wanita dengan beberapa syarat.

Parfum ini diperkenalkan pada bangsa Eropa yang pada masa itu mandi saja sangat jarang. Sejak mengenal parfum, Perancis menjadi pusat pembuatan parfum dan kosmetik di Eropa. Budi daya bunga untuk esens parfum dimulai pada abad 14.

Budi daya itu sangat berkembang di bagian selatan Prancis. Selama masa renaisans, parfum digunakan oleh orang kaya sebagai cara untuk menutupi bau badan akibat jarang mandi. (https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/ppgdz8313)

Hingga hari ini, Spanyol adalah produsen terbesar minyak zaitun dengan luas kebun 2,3 juta hektar dengan produksi minyak 7 juta ton/tahun. Spanyol mulai menanam zaitun sejak kekhalifahan Umayyah di Andalusia, dan menjadi pusat revolusi pertanian di abad pertengahan. Pohon tersebut juga bukan asli Spanyol tetapi berasal dari Syam, yakni perbatasan Suriah dengan Turki. Pertanian dan perkebunan Andalusia sangat maju pada revolusi pertanian abad pertengahan tersebut yang menjadi rujukan Eropa bahkan dunia saat itu. Pohon ini juga bisa berusia hingga ribuan tahun. Selain itu dari tinjauan ilmiah kualitas minyak zaitun juga lebih baik daripada minyak sawit. (http://inovasibiomasa.blogspot.com/2017/09/ketika-keberkahan-menjadi-lebih-penting.html?m=1)

Budaya kamar mandi, diperkenalkan oleh Muslim. Pada abad pertengahan, jalanan di Inggris bergelatakan tinja dan bau pesing. Kotornya Eropa pada masa itu dibuktikan dengan wabah yang disebut black death. Wabah akibat bakteri bacillus.

Pada kurun yang sama, sanitasi Andalusia terbaik pada masa itu. Jalanan kota dilapisi batu dengan penerangan dan sanitasi di kedua sisinya. Pepohonan di kanan-kiri turut meneduhkan dan mempercantik kota. Eropa kemudian meniru sistem sanitasi ini.

Di Eropa abad pertengahan, sihir menjadi industri layanan yang digunakan orang kaya maupun miskin. Saat Eropa terpuruk dalam wabah, kekerasan, dan buta aksara, kota-kota di Andalusia seperti Granada dan Cordoba, disesaki ribuan cendikiawan serta dipenuhi puluhan pustaka. Ragam konsep dan teori, entah trigonometri atau astronomi, lahir dari diskusi-diskusi cerdas di sela tumpukan buku dan manuskrip di lorong-lorong kota.

Eropa kala itu masih sibuk dengan perang saudara. Sementara di Andalusia, empat kepercayaan utama, Islam, Kristen, Yahudi, dan Paganisme, hidup berdampingan dalam harmoni yang pada masa sekarang mungkin terlalu indah untuk jadi nyata.

Jasa Islam di Nusantara

Indah di Eropa, indah juga jejak Islam di Nusantara. Demikian besar jasa Islam untuk negeri ini. Pada saat Portugis dan Belanda hadir sebagai penjajah, tidak terhitung bantuan Islam demi terbebasnya negeri ini dari penjajahan. Pengganti Khalifah Sulaiman al-Qanuni, yakni Salim II, mengabulkan permohonan Sultan al-Qahhar dan mengirimkan bala bantuan militer ke Aceh.

Dalam surat balasannya kepada Sultan Aceh itu, Khalifah Salim II menulis bahwa melindungi Islam dan negeri-negeri Islam adalah salah satu tugas penting yang diemban oleh Khilafah Utsmaniyah.

Khalifah Salim II pun menunjuk kepala provinsi (sancak) Alexandria di Mesir, Kurdoglu Hizir Reis, untuk menjadi panglima perang dan dikirim ke Aceh demi memerangi kaum kafir Portugis dengan pertolongan Allah dan Rasul-Nya (BOA, A.DVNS.MHM, 7/244).

Dengan bantuan yang didapat dari Khilafah Utsmaniyah ini, Sultan al-Qahhar dari Aceh dapat menyerang Portugis di Malaka pada 20 Januari 1568 dengan kekuatan 15.000 tentara Aceh, 400 Jannisaries Utsmaniyah dan 200 meriam perunggu (Amirul Hadi, 2004: 23).

Jejak indah yang masih lestari hingga kini bisa juga berupa tradisi. Halal bihalal setiap Syawal. Mudik setiap lebaran, lahir dari konsep ingin membersihkan diri dari kesalahan dan dosa. Meski jauh dengan kampung halaman, karena mengejar keberkahan bagi yang menghubungkan, silaturahim tetap ditempuh.

Jejak-jejak indah ini masih banyak yang mempelajari sehingga bisa tetap lestari. Sudah sewajarnya hadir kerinduan untuk menghadirkan kembali kebesaran tersebut. Meski ada pihak yang kurang menyukai, kebesaran Islam tidak bisa dipungkiri. Meski ada yang berusaha mengabur bahkan menguburkan, fakta sejarah akan tetap terungkap dan jejak Kemuliaan Islam tetap mewangi sepanjang masa. Wallahu a’lamu bi Asshowwab.[]

*Praktisi Pendidikan dan Pengelola Quranikids School)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 12 =

Rekomendasi Berita