by

Arum Mujahidah: Bentrokan Antar Simpatisan Itu Buah dari Politik Sekuler

Arum Mujahidah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Aksi kekerasan antar simpatisan partai kembali terjadi. Bentrok kali ini terjadi antara simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan kelompok massa di area markas Front Pembela Islam (FPI) yang berada di Jalan Yogya-Wates km 8 Padukuhan Ngaran Bercatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta, Minggu 7 April 2019. 
Sebenarnya, konflik antar partai bukanlah hal baru. Pada tahun 2014, konflik juga pernah terjadi antar simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan Partai Persatuan Pembangunan (P3). Bahkan tak jarang konflik juga terjadi dalam internal tubuh partai itu sendiri. Seperti beberapa tokoh elit dari partai Golkar banyak yang keluar. Kemudian mendirikan partai sendiri dikarenakan konflik internal. 
Ironinya, konflik yang terjadi kali ini dilakoni oleh simpatisan partai yang mengakui paling pancasilais, PDIP. Slogan-slogan cinta NKRI, kami Pancasila dan seterusnya ternyata tak tercermin dalam perbuatan mereka. Buktinya, melakukan bentrok dengan anak bangsa. Lalu, di mana unsur Pancasila yang mereka gembar-gemborkan selama ini? 
Dari konflik ini menunjukkan dangkalnya nalar politik diantara para simpatisan partai. Nalar politik merupakan logika akal yang digunakan untuk memainkan politik. Ketidakjernihan nalar politik ini menimbulkan berbagai upaya keliru untuk memenangkan tujuan politik yang dimaksudkan. Termasuk mudah terprovokasi dengan isu-isu yang belum tentu jelas kebenarannya. Sehingga, tak jarang berbuah tindakan yang memalukan.
Ambisi untuk memperoleh kekuasaan juga turut menjadi alasan. PDIP sebagai partai penguaung caprel 01 jelas ingin menjadikan partainya yang akhirnya mendapat kekuasaan. Hal ini mendorong beragamnya pencitraan. Bahkan aksi bentrokan juga tak segan dilakukan. Akibatnya rasa persaudaraan ditepikan. Tujuan kekuasaan telah menjelma menjadi dasar pergerakan para simpatisan, meski harus bertentangan dengan aturan. 
Selain itu, politik sekulerlah yang menjadi dasar terjadinya aksi kekerasan. Politik sekuler merupakan aktivitas politik yang dipisahkan dari norma agama. Politik ini jelas membuahkan perselisihan. Karena dalam memainkan politik, para simpatisan tidak lagi menjadikan agama sebagai landasan. Akan tetapi lebih kepada tujuan kekuasaan dan keeksisan partai. 
Memainkan politik sekuler ini sangat berbahaya. Hal ini dikarenakan akan banyak yang terluka, bahkan sesama saudara. Karena asas dari politik ini hanyalah manfaat dan kekuasaan. Sehingga, apapun cara akan dilakukan meski harus bertindak kriminal, asal menang. Sayangnya, negeri ini terlanjur tenggelam dalam perpolitikan sekuler yang memisahkan urusan agama dari pemerintahan. 
Dengan demikian, aksi bentrokan ini semakin membuat kita tersadar siapa sebenarnya lawan. Kemudian sudah saatnya bangsa ini memahami bahwa politik sekuler hanya berbuah kerusakan. Selanjutnya, beralih kepada politik Islam yang akan membawa perdamaian. Wallahu ‘A’lam.[]

Penulis adalah seorang guru dan anggota Forum Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban, Tuban

Comment

Rekomendasi Berita