Belajar dari Kisah Mushab bin UmairTentang Harta dan Dunia

Opini316 Views

 

Oleh: Arsy Novianty, Aktivis Remaja

_________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Aku, kamu, kita, dan mereka di luar sana banyak yang merasa begitu berat dengan beban hidup. Namun jika dicermati, mengapa banyak mengeluh tentang dunia? Apa yang dapat dibanggakan dari dunia ini?

Wahai saudaraku! Harta, tahta, jabatan, kaya, miskin, semua itu hanya sekedar titipan-Nya. Jangan sampai titipan yang sudah diamanahkan kepada kita Allah ambil dengan seketika. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya, sebab segala sesuatu itu selalu ada dalam genggaman-Nya.

Kaum muslim pasti mengenal pada sosok pemuda yang tangguh, berwibawa, terpelajar, dan terlahir sebagai orang yang kaya raya, beliau adalah Mushab bin Umair.

Ya, Mushab bin Umair. Walaupun kita tak sempat berkenalan dengan beliau,  kita bisa mencontoh apa yang beliau lakukan ketika jatuh cinta pada Islam dan Rasul-Nya.

Bukan saja meninggalkan kekayaannya, beliau juga menjadi seorang delegasi. Bagaimana retorikanya, susunan kata lewat balutan deretan diksi yang indah. Begitu luar biasa, setiap kata yang keluar dari ucapannya mampu membius semua yang datang atau menghampiri.

Inilah kisah salah satu sahabat yang meninggalkan gemerlap dunia demi cintanya pada Islam dan Rasul-Nya. Rasululllah SAW berkata. “Aku telah mengenal Mushab ini sebelumnya. Aku tak mengenal pemuda Mekah yang lebih bergelimang harta di sisi kedua orang tuanya seperti dirinya. Selanjutnya, ia tinggalkan semua kemewahan itu karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Ya, Mushab bin Umair adalah salah seorang sahabat nabi yang berasal dari keluarga berada namun, ia rela meninggalkan kemewahan dunia demi Islam. Seorang pemuda Quraisy cemerlang paling tampan, cerdas, dan penuh semangat jiwa kemudaan.

Hari ini, siapa yang tidak kenal dengan  founder pendiri  Mualaf Center Indonesia, almarhum Steven Indra Wibowo atau yang akrab disapa Koh Steven? Kepergiannya begitu banyak dibekali kebaikan. Hartanya yang berlimpah beliau sumbangankan habis-habisan saat pandemi COVID-19 melanda. Itu semua karena kecintaannya kepada Islam dan Rasul-Nya sebagai teladannya.

Begitulah hidup di atas akidah yang mantap, apapun masalah berat bagi seorang muslim insyaAllah akan menjadi anugerah. Karena dunia hanya tempat untuk beribadah. Rasulullah Saw selalu mengingatkan umatnya, manakala ada masalah yang menimpa. Cukup dengan diberi peringatan bahwa Allah telah membeli jiwa dan harta mereka dengan surga.

Maka tak seimbang jika ada masalah, lebih memilih untuk tidak berdakwah dengan berbagai alasan. Karena begitu sulitnya mengorbankan kehidupan dunia di jalan Islam dan dakwah.

Lantas apa sih kebahagiaan hakiki yang sebenarnya?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ طُوْبٰى لَهُمْ وَحُسْنُ مَاٰ بٍ
allaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati thuubaa lahum wa husnu ma-aab

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 29)

Kebahagiaan hakiki adalah ketika mendapatkan rida Allah. Tidak ada kebahagiaan yang paling tinggi selain itu. MasyaAllah, membuat hidup tenang dan bahagia. Bukan dengan banyaknya harta kita bahagia, karena itu hanyalah sementara. Hhidup di dunia ini fana, kita harus lebih peduli pada kehidupan yang kekal yakni akhirat. Maka raihlah rida Allah dengan cara terus mendekatkan diri pada Allah, ikut kajian Islam yang di dalamnya memahamkan pada kita tentang Islam kafah, Islam yang menyeluruh.

Jangan terlalu mengejar dunia. Carilah duniamu sewajarnya saja dan jangan  terlalu memikirkan dunia hingga melupakan akhirat, naudzubillah. Semoga kita semua mendapatkan rida-Nya.Wallahualam bishshawab.[]

Comment