Bendera Putih: Simbol Kesabaran dan Harapan

Opini1502 Views

Penulis: Anna Ummu Maryam | Pegiat literasi Peduli Negeri Dan Generasi

Tiga pekan pascabanjir bandang dan tanah longsor, masyarakat di aceh mengibarkan bendera putih di sepanjang jalan lintas Sumatera. Bendera itu dipasang di kayu yang ditancapkan di jalan penghubung Kabupaten Aceh Tamiang dengan Kota Langsa.

Bagi masyarakat Aceh, bendera putih itu adalah simbol bahwa mereka telah menyerah untuk menghadapi penanganan banjir Sumatera. “Bendera putih adalah pertunjukan banyak hal, sekaligus rasa marah, frustasi, harapan dan tuntutan untuk diperhatikan selayaknya warga negara,” kata Muhammad Alkaf, warga asal Kota Langsa, Aceh, seperti ditulis tempo.co (16/12/2025).

Bahkan pemasangan bendera putih ini kian meluas karena memang dampak yang dirasakan amat luas sehingga tentu nya memiliki perhatian dan perbaikan yang juga meluas. Terutama di wilayah paling berdampak yang hingga kini masih sangat sulit untuk mendapatkan akses makanan, air bersih, tempat penampungan yang layak serta kesehatan.

Hal ini tentu membutuhkan perhatian semua pihak sebagai bentuk dukungan dan perbaikan lebih baik dimasa depan. Namun hingga kini keseriusan tersebut belumlah sepenuhnya ditangani dengan cepat. Butuh penanganan segera karena fasilitas dan kebutuhan masih dapat dilakukan secara cepat apabila negara mengambil langkah cepat dan tepat.

Bencana banjir yang melanda Aceh dan Sumatra telah menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi masyarakat. Dalam situasi ini, bendera putih menjadi simbol kesabaran dan harapan bagi warga yang terdampak. Namun, di balik simbol ini, terdapat kebusukan sistem kapitalis yang memperburuk keadaan.

Pasti Ada Penyebab di Balik Bencana Ini

Sistem kapitalis yang mengutamakan keuntungan ekonomi di atas kepentingan masyarakat telah menyebabkan kerusakan lingkungan dan memperburuk risiko bencana. Deforestasi, penebangan liar, dan ekspansi lahan untuk perkebunan sawit telah menghancurkan ekosistem hutan, menghilangkan fungsi resapan air, dan memperburuk risiko banjir.

Dalam menghadapi bencana ini, pemerintah harus cepat merespons dan memberikan bantuan kepada warga terdampak. Penetapan status bencana nasional dianggap krusial agar distribusi bantuan, penggunaan anggaran, dan koordinasi lintas lembaga dapat berjalan lebih cepat dan efektif.

Namun, di tengah situasi sulit ini, warga Aceh dan Sumatra menunjukkan kesabaran dan harapan. Bendera putih yang dikibarkan bukan sekadar simbol keputusasaan, melainkan panggilan kemanusiaan kepada dunia internasional agar Aceh tidak dibiarkan menghadapi bencana sendirian.

Makna Bendera Putih Dalam Islam

Dalam Islam, bendera putih memiliki makna yang lebih dalam. Bendera putih adalah simbol kesabaran, harapan, dan kepasrahan kepada Allah. Dalam situasi sulit, umat Islam dianjurkan untuk bersabar, berdoa, dan mengharapkan pertolongan Allah.

Solusi Islam untuk mengatasi bencana adalah dengan mengutamakan kepentingan masyarakat dan lingkungan. Islam menekankan pentingnya menjaga lingkungan, mengelola sumber daya alam dengan amanah, dan memastikan bahwa pembangunan dilakukan untuk kemaslahatan umat.

Dalam Islam juga kita difahamkan bahwa yang paling bertanggung jawab akan perbaikan segala fasilitas dan kondisi yang hancur menjadi tugas penting negara. Islam mengharuskan negara ada ditengah masyarakat yang sedang terkena bencana dengan melibatkan seluruh komponen guna perbaikan terjadi kian cepat.

Islam melarang negara mengikat kerja sama dengan pihak asing karena ditakutkan akan memberikan dampak yang buruk setelahnya apalagi kerugian bagi masyarakat. Islam menghendaki semua pihak turut mengambil bagian dan merekonstruksi fasilitas yang rusak dan bersama sama bangkit dan bisa melaluinya bersama.

Dalam menghadapi bencana, kita harus meninggalkan sistem kapitalis yang gagal dan mengadopsi solusi Islam yang lebih adil dan berkelanjutan. Kita harus menjaga lingkungan, mengelola sumber daya alam dengan amanah, dan memastikan bahwa pembangunan dilakukan untuk kemaslahatan umat.

Jika Islam telah menawarkan solusi dan telah berhasil menerapkannya dimulai dimasa Rasulullah Saw hingga Khalifa setelahnya, lalu mengapa kita tidak kembali pada masa kegemilangan Islam tersebut. Karena puncak dari kerusakan dunia hari ini adalah saat kita meninggalkan syariat terbaik manusia yaitu Al-Qur’an dan Sunnah nabi Muhammad SAW.[]

Comment