Bunuh Diri, Antara Negara dan Bonus Demografi

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Laman cnbcindonesia.com (22/2/2023) menulis, Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai 280 juta jiwa, ternyata 66,3 juta didominasi oleh pemuda/pemudi dengan rentang usia 15-30 tahun.

Kabar gembira berupa bonus demografi ini harusnya disikapi dengan memfasilitasi dan mempersiapkan generasi menuju peradaban gemilang. Memblokir segala bentuk yang membawa dampak negatif terhadap generasi. Membuka peluang sebesar-besarnya untuk mengembangkan bakat generasi untuk kemajuan negeri.

Namun sayang, kompas.id ( /28/09/2023) menulis bahwa generasi negeri ini dibelenggu oleh sifat hedonisme, seks bebas, individualisme, bermental health matters, dan mudah putus asa. Terbukti untuk kasus bunuh diri anak pada tahun 2023 mencapai 10 kejadian, atau 10 persen lebih tinggi dari pada tahun 2022 dan 60 persen penyebab bunuh diri adalah perundungan diantara sesama pelajar.

Berdasarkan data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Kepolisian RI seperti ditulis laman databoks.katadata.co.id (18/10/2023), terdapat 971 kasus bunuh diri sepanjang periode Januari hingga 18 Oktober 2023. Angka tersebut melebihi kasus bunuh diri di tahun 2022 yaitu sebanyak 900 kasus. Adapun pelaku kasus bunuh diri terbanyak adalah pemuda/pemudi yang tentunya masih dalam usia produktif.

Bagaimana dengan kesehatan mental remaja? Laman kemkes.go.id (12/10/2023) mengatakan, data di Indonesia menunjukkan sebanyak 6,1 % penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental. Bahkan menurut Dr. Khamelia Malik dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menyebutkan angka kesakitan dan kematian di kalangan pelajar meningkat hingga 200%.

Ada apa dengan generasi negeri ini?. Tidak bisa dipungkiri bahwa lahirnya generasi bermental kerupuk disebabkan oleh sistem sekulerisme yang “Mengtuhankan” seks bebas dan berprilaku berdasarkan hawa nafsu.

Sekulerisme melahirkan demokrasi liberal dengan konstruksi 4 dasar kebebasan, salah satunya adalah kebebasan bertingkah laku.

Dalam konteks demokrasi liberal inilah setiap orang bebas mengekspresikan sikapnya tanpa harus mempertimbangkan syariat. Bebas bunuh diri, bebas menjual diri, bebas melakukan hubungan haram asalkan sama-sama suka, bebas mengganti kelamin, bebas zina baik dengan sesama perempuan maupun sesama lelaki.

Kebebasan yang dijunjung tinggi ini justru kebablasan. Generasi semakin jauh dari norma agama, adat-istiadat ketimuran, bahkan condong kebarat-baratan dan liar.

Miris, dalam balutan kehidupan demokrasi liberal ini lahir seorang siswa yang tega membunuh teman. Masih duduk dibangku SD sudah berani memperkosa temannya sekolahnya bahkan anak TK. Baru-baru ini kejadian anak umur 10 tahun bunuh diri karena tidak tahan dengan pembulian. Sungguh mental para generasi ini berada di fase sakit kronis?

Sistem pemerintah yang dianut dunia dan negeri muslim sekarang ini adalah sistem yang menjauhkan manusia dari fitrahnya. Sistem yang membentuk generasi yang tidak berakhlak dan hanya mementingkan hawa nafsunya.

Sistem sekulerisme tidak layak digunakan manusia, pasalnya sistem ini berasal dari akal manusia yang lemah dan terbatas. Bagaimana mungkin dalam urusan hidup manusia diatur oleh manusia itu sendiri? Sedangkan manusia tidak mampu mengetahui masa depannya.

Sebuah analogi, bila dalam mengoperasikan laptop tanpa mengikuti petunjuk pabrikan, otomatis laptop akan rusak. Begitupula dengan hidup manusia ini, harus mengikuti aturan dari sang Pencipta, agar tidak terjadi kerusakan dan akan turun keberkahan baik dari langit maupun bumi.

Manusia memiliki fitrah dan naluri kasih sayang, amarah, rasa ingin memiliki, bahkan naluri yang mensucikan Rabb yang menciptakan manusia. Semua potensi atau fitrah ini murni datangnya dari sang Pencipta manusia, artinya manusi tidak bisa keluar dari fitrah tersebut. Oleh karena itu hanya sang Pencipta saja yang mampu memberikan aturan hidup bagi ciptaanNya.

Namun sayang, dengan jumlah penduduk muslim terbesar justru kehidupan di negeri ini jauh dari aturan sang Pencipta. Bahkan dengan bangga kita mengambil aturan dan pemikiran sekuler yang jelas-jelas melanggar fitrah manusia itu sendiri. Maka lihatlah betapa umat manusia di dunia ini dalam kehancuran dan kebinasaan akibat tidak terikatnya manusia dengan aturan yang telah Allah berikan.

Maka tidak heran kita menyaksikan bahwa bonus demografi ini bukan menjadi berkah, akan tetapi menjadi rapor merah akan rusaknya peradaban akibat generasi kita yang semakin tergerus dengan perilaku yang negatif dan serangan pemikiran barat yang tiada hentinya. Ditambah dengan lemahnya hukum buatan manusia sehingga pintu kemaksiatan baik jalur dunia nyata dan maya berselancar dengan bebas.

Inilah fakta yang tidak bisa kita abaikan, bahwa seperangkat hukum yang berasal dari akal manusia tidak akan menuntaskan segala persoalan yang ada. Justru akan menimbulkan masalah baru lainnya.

Hanya dengan aturan Islam kaffah, semua problematika kehidupan akan diselesaikan sesuai fitrah manusia, adil, memuaskan akal dan menentramkan jiwa. Wallahu’alam bishawab.[]

Comment