by

Cerita Dari Pyramid, Ketika Sungai Bukan Penghalang Untuk Sampai Ke Sekolah

Anak-anak di SD YPPGI Pyramid, Distrik Pyramid, Kabupaten Jayawijaya (foto: Reri Saputra)
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pada awal kedatangannya kesana, Reri melihat sebuah pemandangan yang
tak biasa. Pemandangan yang (mungkin) belum pernah ia temui sebelumnya.
Bendera negara yang harusnya berkibar gagah di atas tiang, justru
terlihat lusuh bahkan robek.
Bingung dan sedih segera bercampur
aduk di hatinya. Juga muncul pertanyaan apakah bendera Merah Putih ini
mewakili perasaan anak-anak dan kondisi pendidikan disana? Yang juga tak
sebaik benderanya.
Reri merupakan satu dari sekian banyak
pengajar yang terpilih mengikuti program Sarjana Mendidik di daerah
Terdepan, Terluar, dan Terbelakang (SM3T) dari Direktoral Jenderal
Pendidikan Tinggi (Dikti).
Kesempatan untuk mengabdi pada
anak-anak Papua di SD YPPGI Pyramid, Distrik Pyramid, Kabupaten
Jayawijaya pun diambilnya dan tepat di akhir tahun 2014 Reri untuk
pertama kali dalam hidupnya menginjakan kaki di Tanah Papua.
“Pertama
kali tiba di sana (Pyramid) kondisi yang ada adalah anak-anak baik dari
kelas 1, 2, 3 tidak lancar dalam membaca, menulis dan menghitung.
Begitu juga dengan yang di kelas tinggi 4, 5, dan 6,” cerita Reri.
Situasi ini bisa dimakluminya
jika melihat fasilitas di sekolah yang tak ‘seberuntung’ sekolah pada
umumnya di daerah perkotaan. Jangankan memiliki laboratorium komputer
seperti impian anak-anak lain, melihat guru hadir di dalam kelas saja
bersyukurnya bukan main.
Ada standar kebahagiaan berbeda dari
anak-anak di Pyramid dan juga mungkin dialami ribuan anak-anak lain di
pedalaman Papua. Sejak lahir mereka sudah terbiasa hidup tanpa listrik
dan tontonan televisi. Masalah yang turut membatasi pengetahuan mereka
terhadap dunia luar.
“Yang membuat saya makin prihatin anak-anak
ini tak mengenal Indonesia. Tidak ada lagu kebangsaan disana, mereka
tidak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya juga tidak mengetahui siapa
Bung Karno dan Bung Hatta,” lanjut Reri.
Kondisi geografis Pyramid
memang masih ‘lumayan’ terisolir. Akses jalan kesana harus menempuh
jarak yang jauh dengan perjalanan paling cepat delapan jam dari Wamena.
Faktor lain yang membuat anak-anak ini tak hanya jasmaninya, namun
pikirannya juga ikut-ikutan terisolir.
“Saya pernah menanyakan
kepada mereka ‘Apa negara kita?’ Mereka pun dengan semangat menjawab
‘Papua Bapak Guru’ ” katanya sambil menirukan jawaban anak-anak itu.
Mengherankan,
namun itulah potret lain betapa pendidikan di Papua yang masih sangat
tertinggal dan perlu diberi perhatian serta aksi nyata.
Untuk
aktifitas di sekolah sendiri, Reri tak selalu memaksa anak-anak SD YPPGI
Pyramid untuk sepenuhnya belajar mata pelajaran umum. Beberapa kegiatan
di luar kelas juga diberikan sebagai selingan agar anak-anak ini tak
cepat bosan.
Seperti halnya kertas kosong, keseharian anak-anak
ini memang harus diisi bahkan dengan hal-hal dasar sekalipun. Ini
lantaran mereka tidak pernah mendapatkan hal itu sebelumnya.
“Selain
belajar mata pelajaran di kelas, kami juga belajar di luar kelas
seperti membuat kerajinan tangan dari tanah liat, menggambar, dan
membuat kalung taring babi yang dipasang bersama manik-manik,” katanya.
Ini Di Pyramid, Bukan Jakarta!
Masalah
lain anak-anak di Pyramid adalah ketika pagi hari mereka pergi ke
sekolah dengan lebih dahulu berjalan kaki beberapa kilometer. Meski di
antara mereka ada yang rumahnya tak jauh dari sekolah, namun tak sedikit
pula yang tinggalnya agak jauh.
Jalanan yang dilalui anak-anak
Pyramid juga tak seperti sebut saja di Jakarta, yang memiliki jalanan
datar dan beraspal. Juga dengan fasilitas transportasi yang sangat maju.
“Di
Pyramid ada yang rumahnya di atas gunung dan di dasar lembah. Kalau ke
sekolah mereka harus melewati aliran sungai baliem. Ini belum ditambah
berjalan jauh lagi ke sekolah,” katanya.
“Kalau sampai di sekolah,
kaki mereka kadang sudah kotor dengan lumpur. Kalau ada yang pakai
sepatu pasti sepatunya basah,” sambung Reri.
Meski hal tersebut
sudah seperti santapan sehari-hari, anak-anak ini sebut Reri tak pernah
mengeluh dan terlihat ceria. Kebahagian mereka sesederhana sampai di
sekolah, bertemu teman-temannya, belajar dan bermain hingga waktunya
untuk pulang ke rumah. Sudah tentu dengan melewati rute yang sama saat
mereka hendak ke sekolah.
Ada rasa sedih, ironi, namun juga
berbalut bangga ketika melihat semangat anak-anak ini sanggup
mengalahkan kekurangan yang (ditakdirkan) mereka miliki. Semangat yang
sama belum tentu dimiliki anak-anak di perkotaan.
Saat tulisan ini
diturunkan, Reri menceritakan sudah mulai banyak bantuan yang mampir
kepada anak-anak di SD YPPGI Pyramid seperti seragam sekolah, peralatan
belajar-mengajar seperti buku dan alat tulis, hingga bendera baru untuk
menggantikan bendera yang sudah lusuh tadi.[sumber]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × five =

Rekomendasi Berita