by

Chusnatul Jannah: Kezaliman Pasti Tumbang

Chusnatul Jannah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Zalim menjadi kata paling populer sejak rezim Jokowi mendapat mandat kekuasaan. Kata zalim berasal dari bahasa Arab, dengan huruf “dzho’-lam-mim” (ظ ل م ) yang berarti gelap. Di dalam alquran, selain zalim juga digunakan kata baghy, yang artinya sama dengan zalim yaitu melanggar hak orang lain. Kata zalim bisa melambangkan sifat kejam, bengis, tidak manusiawi, senang melihat orang lain menderita dan sengsara, melakukan kemungkaran, ketidakadilan, dan sebagainya.
Zalim bisa diartikan meletakkan sesuatu atau perkara bukan pada tempatnya. Imam Hasan AlBashri membagi kezaliman menjadi tiga. Pertama, kezaliman yang tidak diampuni Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selama pelakunya belum tobat, Allah tak akan mengampuni kezalimannya. Contoh perbuatan zalim kategori pertama adalah syirik. Syirik (menyekutukan Allah) adalah kezaliman terbesar sebagaimana yang termaktub dalam alquran surat Luqman ayat 13 yang berbunyi, “Sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman yang besar.”
Kedua, kezaliman yang tidak dibiarkan begitu saja tanpa ada pembalasan. Yakni, kezaliman yang dilakukan seseorang terhadap orang lain atau seorang muslim kepada saudaranya. Kezaliman jenis kedua ini banyak kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat. Misal korupsi, berbuat curang, berbohong, memfitnah, mencaci, menghina dan sebagainya. Diantara yang paling nampak akibat dari kezaliman seseorang ialah manakala ia menjadi pemimpin di tengah-tengah umat. Seperti penguasa yang kita lihat saat ini. 
Menjadi pemimpin dan penguasa adalah amanah yang begitu berat tanggungannya di hadapan Allah. Jika ia mampu berbuat adil, dialah yang mendapat pahala terbanyak diantara hamba lainnya. Namun, jika ia berbuat zalim, dosanya pun juga terbanyak dibandingkan yang lain. Setiap keputusan yang dibuat pemimpin selalu berimbas pada orang yang dipimpinnya. Jadi, berhati-hatilah dengan sifat zalim. Sebab, kezaliman bisa menjadi penghalang terbesar untk memasuki surga-Nya. Rasulullah saw bersabda, “Takutlah kalian akan kezaliman karena kezaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat.” (HR. Muslim dan Ahmad). 
Ancaman bagi pemimpin zalim pun sangat keras. Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi). 
Surga pun diharamkan bagi pemimpin yang menipu rakyatnya. Mengobral janji kemudian mengingkari. Bahkan berlaku curang demi seonggok kekuasaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (HR. Ahmad)
Ketiga, kezaliman yang diampuni Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu, kezaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri di dalam hubungan dia dengan Allah dengan melakukan dosa atau kemungkaran terhadap hak Allah atas dirinya. Misalnya meninggalkan salat, puasa, membuka aurat, dan perbuatan dosa lainnya. 
Diantara tiga jenis kezaliman, waspadalah terhadap kezaliman jenis kedua. Terkadang kenikmatan dunia melenakan seseorang dari mengingat Allah. Kekuasaan yang dimiliki membuat lupa diri bahwa dia hanyalah abdi. Tak usah tinggi hati. Kekuasaan yang dimiliki hanyalah setitik nikmat yang Allah beri. Mudah bagi Allah jika ingin mengambilnya kembali. Kembalilah pada hakikat diri. Manusia akan kembali. Persiapkan bekal amal solih sejak dini. Jangan zalim lagi. Jangan ingkari pesan Ilahi.
Di bulan suci, hiasi diri dengan taubatan nasuha. Bukan menambah dosa. Kezaliman pasti tumbang. Sebagaimana sejarah dulu berulang. Sebab, tak ada ruang untuk kezaliman. Ia akan selalu menjadi musuh kebaikan. Pahami Islam dengan benar. Beriman dengan penuh ketaatan. Agar sifat zalim tak lagi melekat dalam diri Anda, saya, dan kita semua.[]
*Anggota Creator Nulis 

Comment

Rekomendasi Berita