Dari Becak ke Birmingham: Jejak Panjang Raeni Menembus Batas Kemiskinan

Motivasi, Profile33 Views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA — Nama Raeni kembali menjadi sorotan publik setelah perempuan yang pernah viral karena diantar ayahnya yang berprofesi sebagai tukang becak saat wisuda S1 itu kini berkarier sebagai Asisten Profesor di University of Birmingham, Inggris.

Perjalanan hidupnya dari keluarga sederhana hingga menjadi akademisi di salah satu universitas ternama dunia menjadi bukti bahwa pendidikan, kerja keras, dan ketekunan mampu mengubah nasib seseorang.

Narasi tentang Raeni kembali ramai diperbincangkan di media sosial, salah satunya melalui unggahan akun Threads yang mengangkat kembali perjalanan inspiratif perempuan asal Kendal, Jawa Tengah tersebut.

Namun di balik viralnya kisah itu, terdapat perjalanan panjang yang layak dicatat sebagai refleksi tentang pentingnya akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.

Publik pertama kali mengenal Raeni pada 2014. Saat itu, ia menjadi wisudawati terbaik Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang (UNNES) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96.

Perhatian masyarakat tertuju pada sosok ayahnya, Mugiyono, seorang tukang becak yang mengantar putrinya menghadiri wisuda menggunakan becak yang sehari-hari menjadi sumber nafkah keluarga.

Foto tersebut menyebar luas dan menjadi simbol perjuangan keluarga sederhana dalam memperjuangkan pendidikan anaknya.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Raeni mampu menyelesaikan pendidikan sarjana melalui program Bidikmisi, yang kini dikenal sebagai KIP Kuliah.

Program tersebut menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.

Kesuksesan di tingkat sarjana menjadi awal dari perjalanan akademiknya. Setelah lulus dari UNNES, Raeni memperoleh Beasiswa Presiden untuk melanjutkan studi Magister (S2) di University of Birmingham, Inggris.

Ia menyelesaikan pendidikan tersebut pada 2016 dan sempat kembali ke Indonesia untuk mengajar di almamaternya sebagai dosen. Namun semangat belajarnya tidak berhenti sampai di sana.

Pada 2018, melalui beasiswa LPDP, ia kembali ke University of Birmingham untuk menempuh pendidikan doktoral (S3).

Pada 2023, Raeni resmi menyandang gelar Doctor of Philosophy (PhD) di bidang akuntansi dengan fokus penelitian pada isu perubahan iklim dan pembiayaan berkelanjutan.

Bidang ini semakin penting seiring meningkatnya perhatian dunia terhadap transisi energi, pembangunan berkelanjutan, dan tata kelola keuangan hijau.

Kini, berdasarkan profil resmi University of Birmingham, Dr. Raeni menjabat sebagai Assistant Professor of Accounting pada Birmingham Business School.

Penelitiannya berfokus pada pengembangan kerangka akuntabilitas untuk perubahan iklim, khususnya terkait pembiayaan iklim (climate finance), tata kelola lingkungan, serta pembangunan berkelanjutan.

Selain mengajar mahasiswa sarjana dan pascasarjana, ia juga aktif dalam berbagai proyek penelitian internasional dan kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Perjalanan Raeni sesungguhnya bukan hanya kisah tentang seorang anak tukang becak yang berhasil kuliah ke luar negeri. Lebih dari itu, kisah ini menunjukkan bahwa kemiskinan tidak selalu menjadi penghalang ketika kesempatan pendidikan tersedia dan didukung oleh kerja keras serta lingkungan yang mendorong prestasi.

Dalam berbagai kesempatan, Raeni kerap mengajak siswa dari keluarga kurang mampu untuk tidak mengubur mimpi melanjutkan pendidikan tinggi.

Menurutnya, banyak program beasiswa yang dapat menjadi jalan keluar bagi keterbatasan ekonomi, selama siswa memiliki kemauan belajar dan keberanian untuk mencoba.

Di tengah berbagai tantangan pendidikan di Indonesia, kisah Raeni menjadi pengingat bahwa investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya pada pembangunan fisik, melainkan juga pada pembangunan manusia.

Ketika akses pendidikan dibuka seluas-luasnya, anak seorang tukang becak pun dapat berdiri sejajar dengan akademisi dunia.

Perjalanan Raeni mungkin bermula dari sebuah becak di sudut Kota Kendal. Namun dengan pendidikan dan ketekunan, jalan hidupnya membawanya hingga ke ruang-ruang akademik internasional di Inggris.

Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa mimpi besar tidak ditentukan oleh latar belakang keluarga, melainkan oleh keberanian untuk terus melangkah.[]

 

Sumber: Profil resmi University of Birmingham; DetikEdu (17/8/2023); Kompas.com (23/2/2023); Liputan6.com (29/7/2023); Melintas.id (14/6/2026). 

Comment