Day Care Lansia dalam Perspektif Kapitalisme dan Konsep Birrul-Wālidain

Opini9 Views

Penulis: Ummu Firly | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA- Belakangan ini, layanan day care lansia atau pusat penitipan dan pendampingan lanjut usia semakin banyak bermunculan di berbagai kota besar. Layanan ini menawarkan berbagai fasilitas, mulai dari pendampingan harian, aktivitas sosial, terapi kesehatan, hingga pengawasan medis bagi lansia selama anggota keluarga bekerja.

Fenomena ini muncul seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia telah memasuki era aging population, yaitu ketika proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai lebih dari 10 persen dari total populasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan layanan bagi lansia akan terus meningkat pada masa mendatang.

Di tengah masyarakat perkotaan yang sibuk, keberadaan day care lansia dipandang sebagai solusi praktis agar orang tua tetap memperoleh perawatan dan pengawasan yang memadai.

Namun, di balik manfaat yang ditawarkan, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: mengapa semakin banyak keluarga yang tidak mampu mendampingi orang tuanya sendiri? Apakah ini sekadar konsekuensi perubahan zaman atau ada persoalan yang lebih mendasar?

Kapitalisme dan Pergeseran Fungsi Keluarga

Dalam sistem kapitalisme, manusia didorong untuk mengejar produktivitas ekonomi setinggi mungkin. Ukuran keberhasilan sering kali ditentukan oleh capaian materi, karier, dan kemampuan menghasilkan keuntungan.

Akibatnya, sebagian besar waktu masyarakat tersita untuk bekerja. Tidak sedikit keluarga yang mengharuskan suami dan istri sama-sama bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat. Biaya pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, dan kebutuhan pokok lainnya semakin membebani rumah tangga.

Kondisi ini membuat fungsi keluarga perlahan mengalami pergeseran. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pengasuhan, pendidikan, dan perhatian antargenerasi berubah menjadi sekadar tempat beristirahat setelah beraktivitas.

Hubungan keluarga pun semakin minim interaksi karena masing-masing anggota disibukkan oleh tuntutan ekonomi.

Dalam situasi seperti ini, kebutuhan merawat anak maupun orang tua kemudian dialihkan kepada pihak ketiga melalui berbagai layanan profesional. Muncullah penitipan anak, pengasuh profesional, panti jompo modern, hingga day care lansia yang berkembang menjadi sektor bisnis baru.

Komersialisasi Perawatan Lansia dalam Sistem Kapitalisme

Kapitalisme tidak hanya menciptakan tekanan ekonomi yang membuat keluarga kehilangan waktu bersama, tetapi juga mengubah berbagai kebutuhan manusia menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan.

Perawatan lansia yang sejatinya merupakan bagian dari tanggung jawab keluarga akhirnya menjadi layanan yang memiliki tarif, paket, dan target pasar tertentu. Selama seseorang memiliki kemampuan finansial, ia dapat memperoleh layanan terbaik. Sebaliknya, keluarga dengan keterbatasan ekonomi sering kali kesulitan mendapatkan fasilitas yang memadai.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana sistem kapitalisme cenderung menyelesaikan persoalan sosial melalui mekanisme pasar. Masalah yang muncul akibat tekanan ekonomi justru dijawab dengan produk dan jasa baru yang juga membutuhkan biaya.

Pada akhirnya, yang terjadi bukan penyelesaian akar masalah, melainkan pengelolaan dampak dari sistem itu sendiri.

Orang Tua: Beban atau Amanah?

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian keluarga menggunakan layanan day care lansia karena alasan yang sangat mendesak. Ada orang tua yang membutuhkan pengawasan medis khusus, ada pula anak yang harus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup.

Namun demikian, maraknya fenomena ini tetap perlu menjadi bahan refleksi. Jangan sampai orang tua dipandang sebagai beban yang cukup diselesaikan dengan membayar sejumlah biaya perawatan.

Padahal merekalah yang dahulu mengorbankan tenaga, waktu, pikiran, bahkan seluruh hidupnya untuk membesarkan anak-anaknya. Ketika memasuki usia senja, mereka bukan hanya membutuhkan makanan, obat-obatan, atau fasilitas kesehatan, tetapi juga perhatian, kasih sayang, dan kehadiran anak-anak yang mereka cintai.

Tidak semua kebutuhan emosional tersebut dapat digantikan oleh layanan profesional, betapapun baiknya fasilitas yang tersedia.

Konsep Birrul-Wālidain dalam Islam

Islam menempatkan kedudukan orang tua pada posisi yang sangat mulia. Bahkan setelah perintah tauhid, Allah Swt. langsung memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

Allah Swt. berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra’: 23).

Konsep birrul-wālidain tidak berhenti pada pemberian nafkah atau pemenuhan kebutuhan fisik semata. Islam mengajarkan penghormatan, kelembutan tutur kata, pelayanan, perhatian, pendampingan, dan kasih sayang kepada orang tua sepanjang hayat mereka.

Dalam pandangan Islam, keberadaan anak di sisi orang tua merupakan bentuk ibadah yang memiliki nilai besar di hadapan Allah Swt. Oleh karena itu, hubungan anak dan orang tua tidak boleh direduksi menjadi hubungan administratif atau finansial semata.

Ketika Bantuan Profesional Dibutuhkan

Islam adalah agama yang realistis. Dalam kondisi tertentu, bantuan tenaga profesional dapat menjadi kebutuhan yang tidak terhindarkan, misalnya ketika orang tua mengalami penyakit berat, membutuhkan terapi khusus, atau memerlukan pengawasan medis intensif.

Namun bantuan tersebut tidak boleh menghilangkan tanggung jawab utama anak terhadap orang tuanya.

Kehadiran perawat atau lembaga pendamping hanyalah sarana pendukung, bukan pengganti kewajiban birrul-wālidain.

Anak tetap wajib memberikan perhatian, kunjungan, kasih sayang, dan keterlibatan langsung dalam kehidupan orang tuanya.

Dengan demikian, solusi teknis tidak boleh menghapus dimensi moral dan spiritual yang menjadi inti hubungan keluarga dalam Islam.

Solusi Sistemis Islam dalam Merawat Lansia

Persoalan lansia sejatinya tidak dapat dilepaskan dari sistem kehidupan yang menaunginya. Islam menawarkan solusi yang tidak hanya menyentuh individu, tetapi juga keluarga dan negara.

Pertama, Islam membangun budaya penghormatan kepada orang tua sejak dini melalui pendidikan berbasis akidah. Anak-anak dibentuk agar memahami bahwa merawat orang tua adalah kehormatan, bukan beban.

Kedua, Islam mewajibkan negara memenuhi kebutuhan dasar rakyat sehingga keluarga tidak terhimpit tekanan ekonomi yang berlebihan. Ketika kebutuhan pokok mudah diakses dan lapangan kerja tersedia, keluarga memiliki kesempatan lebih besar untuk menjalankan fungsi pengasuhan dan perawatan secara optimal.

Ketiga, Islam menjadikan keluarga sebagai pilar utama masyarakat. Kebijakan negara tidak boleh merusak ketahanan keluarga, melainkan harus mendukung terwujudnya hubungan yang harmonis antaranggota keluarga.

Keempat, negara berkewajiban menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi lansia tanpa menjadikan kondisi mereka sebagai objek bisnis.

Dengan mekanisme ini, perawatan lansia tidak diserahkan sepenuhnya kepada pasar, tetapi menjadi tanggung jawab bersama yang diatur oleh syariat.

Menata Ulang Cara Pandang terhadap Lansia

Maraknya day care lansia memang dapat membantu mengatasi kebutuhan praktis masyarakat modern. Namun fenomena ini juga menjadi cermin bahwa ada fungsi keluarga yang mulai terkikis akibat tekanan sistem ekonomi kapitalistik.

Oleh karena itu, persoalan lansia tidak cukup diselesaikan dengan memperbanyak layanan penitipan atau perawatan berbayar. Yang lebih penting adalah membangun sistem kehidupan yang memungkinkan keluarga tetap menjalankan perannya secara optimal.

Islam mengajarkan bahwa orang tua bukan sekadar individu yang harus dipelihara kebutuhan fisiknya, melainkan amanah yang harus dimuliakan. Mereka adalah sebab keberadaan kita di dunia dan pintu besar menuju ridha Allah Swt.

Karena itu, hakikat solusi bagi lansia bukan hanya menyediakan fasilitas yang nyaman, tetapi juga mengembalikan budaya birrul-wālidain dalam kehidupan umat.

Sebab ketika bakti kepada orang tua menjadi bagian dari keimanan, maka mereka tidak akan dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber keberkahan yang harus dijaga hingga akhir hayatnya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Comment