by

Delusi Bahagia Keluarga Cemara

-Opini-118 views

 

 

 

Oleh; Ummi Cahaya, S.Pd, Enterpreneur

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Sebuah serial lawas bertajuk “Keluarga Cemara” begitu membekas bagi pemirsa Indonesia. Kisah Emak dan Abah yang tegar, dan anak-anak yang bersedia hidup susah menghadapi kehidupan pailit di ujung desa.

Bahkan kalimat “Harta yang paling berharga adalah keluarga” hingga kini tak mau beranjak dari dunia literasi maupun perbincangan ringan saat membahasakan keluarga bahagia.

Namun seiring waktu berganti, standar bahagia memang berubah. Tentu ini dipengaruhi oleh perkembangan zaman, pola pikir seseorang, pengalamannya, dan banyak faktor yang membuat defenisi bahagia masing-masing individu berbeda.

Berbicara tentang keluarga, tentu kita akan membahas soal rumah tangga. Sumber bahagia atau justru darinya awal semua derita.

Banyak studi yang mengangkat tema keluarga khususnya tentang konflik dan perceraian. Berikut dampak sesudahnya, seperti tumbuh kembang anak hingga membahas kesehatan mental seseorang pasca perpisahan. Salah satunya jurnal yang diterbitkan oleh garuda.ristekdikti.go.id pada SDN di kota Banyuwangi.

Diungkap bahwa terdapat masalah psikologis dan moral pada anak-anak korban ‘broken home’. Belum lagi jika dilakukan studi nasional dan menyatukan data terbarukan. Pada masa pandemi ini misalnya, kasus perceraian malah antre di pengadilan agama.

Bahkan provinsi dimana penulis tinggal, Sumut, juga termasuk wilayah penyumbang angka perceraian yang cukup tinggi setiap tahunnya. Menurut Panitera Pengadilan Agama Kelas I Medan, Muhammad Yasir Nasution, terdapat peningkatan jumlah perceraian pasca pandemi sebanyak 10 persen selama pandemi. Alasannya beragam, mulai dari masalah ekonomi, salah paham, derajat laki-laki dan perempuan, hingga masalah pendidikan.

Namun beliau mengakui permasalahan ekonomi masih menjadi isu langganan. Sungguh miris, bahkan Sumut pernah menjadi sorotan nasional saat tahun lalu ada seorang ibu yang membunuh tiga anaknya karena tekanan ekonomi.

Masalah Serius Ekonomi Keluarga

Benar adanya, ekonomi bukanlah satu-satunya alasan kisruh rumah tangga. Tapi apa daya, hajat hidup tak pernah absen menuntut pemenuhan. Di sisi lain kepala keluarga tak mampu menanggung segala beban. Demi menghentas kemiskinan, tak jarang seorang istri yang selain berperan sebagai ibu juga ikut pula dalam mencari nafkah. Peran ganda yang tak jarang membuat kaum ibu lelah fisik juga lelah batinnya.

Pada Maret 2020, jumlah penduduk miskin di Indonesia 26,42 juta orang. Pada Maret 2021, jumlah penduduk miskin naik menjadi 27,54 juta orang. Artinya, jumlah orang miskin bertambah sebanyak 1,12 juta orang. Jumlah itu membuat tingkat kemiskinan nasional mencapai 10,14 persen dari total populasi. (cnnindonesia.com, 15/7/2021)

Dana Bansos pun dipertanyakan eksistensi dan sasarannya. Selain aduan tidak merata, oknum yang diberi amanah dalam mengurus rakyat malah menjadikannya bahan bancakan. ini ironi berlipat ganda.

Jika masyarakat kelas atas tidak merasakan goyahnya perekonomian keluarga, tentu berbeda dengan kelas menengah yang berjuang keras bertahan selama 2 tahun pandemi membatasi geraknya. Tagihan bulanan menanti pelunasan. Kesehatan pun tentu tidak gratis bukan?

Terlebih pendidikan anak yang tidak murah, pembelajaran daring yang minim capaian namun boros kuota, semuanya begitu potensial mengganggu kestabilan ekonomi rumah tangga. Bukan tak mungkin warga kelas menengah pun akan ‘terjun payung’ masuk dalam kategori miskin seiring langgengnya masalah perekonomian.

Tidak pandemipun sudah terancam TKA dan sempitnya lapangan kerja, apalagi di masa sekarang dengan kondisi negeri yang semakin melemah penuh masalah.

Ini belum lagi jika rakyat mayoritas terpapar. Bukan lagi goyah, mungkin malah porak poranda. Recovery pasca sakit dan kebutuhannya akan bertambah.

Terlebih para pencari nafkah itu terpaksa keluar rumah demi menghidupi keluarga. Risiko tinggi tertular dari luar lalu menularkan pada keluarga tidak menjadi bahan kerisauan. Tak mengapa terpapar, asal tak mati lapar. Begitulah nada pasrah mereka.

Tak Sekadar Cemara, Islam Bisa Wujudkan Keluarga Samara

Keutuhan keluarga dan ketahanannyan menghadapi berbagai kondisi sangat berpengaruh dari diri kedua individu. Suami dan istri memahami peran masing-masing dan sangat menjaga relasi. Saling menyayangi dan berkontribusi menjaga keutuhan rumah tangga.

Pernikahan dibangun atas suasana keimanan dan memandang pernikahan sebagai ibadah yang menggenapkan separuh agama. Darinya lahir anak-anak yang berbakti sekaligus paham kondisi. Kita sebut hal ini dengan faktor internal keluarga itu sendiri.

Tak cukup sampai di situ, ada faktor eksternal juga. Yaitu negara yang memiliki suprasistem penghentas berbagai problema.

Negara lah yang mampu mengedukasi masyarakat secara massal agar tidak memisahkan agama dari kehidupan. Menciptakan pendidikan yang menghasilkan generasi bertakwa, sadar peran, dan bertanggung jawab.

Anak lelaki tumbuh menjadi pemimpin keluarga yang bijaksana dengan berbagai fungsinya sebagai ‘qawwam’, sedang para perempuan dipersiapkan untuk mampu menjadi ibu berperan hebat dalam mengatur rumah tangga dan membimbing anak-anaknya menjadi generasi terbaik.

Negara alias penguasa yg mendapatkan amanah sebagai pemimpin ummat juga mampu menciptakan perekonomian yang stabil dengan kebijakan yang dikeluarkannya.

Kesadaran bahwa segala pengelolaan negara dan seisinya (termasuk SDA) adalah hal yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT dengan hisab yang tidak ringan nantinya.

Maka rakyat adalah prioritas utama, kekayaan alam wajib diperuntukkan kepada rakyat dan kesejahteraannya.

Fokus negara harus mampu melihat urgensitas. Bukan hanya fokus pada gedung-gedung bagus, tol-tol baru dan perairan yang dibendung. Tentu tidak lucu, di balik bangunan indah itu para tunawisma bermalam di emperan ruko. Ambisi ibukota baru mengesampingkan hal lain yang lebih perlu. Tak kalah melukai,

Rumah Sakit khusus pejabat pun berani dilayangkan sebagai opini. Wajar, pesawat presiden berganti warna pun kini jadi hal yang dikritisi. Wajah kapitalisme sungguh berbeda dengan Islam yang memandang kepemimpinan sebagai amanah.

Tingginya angka perceraian karena alasan ekonomi di tanah kaya ini harusnya menjadi teguran keras untuk pemimpin negeri.

Sudah saatnya kembali kepada aturan Islam, sekulerisme tak boleh merusak aqidah ummat yang seharusnya menjadikan Islam sebagai asas dalam berpikir dan bersikap.

Sebab pernikahan adalah tempat terhimpunnya kebahagiaan, ketenangan, dan kasih sayang. Bukan muara prahara yang melahirkan generasi kering jiwa atau psikisnya tersebab korban perpisahan orangtua.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.“ (QS : Ar-Ruum:21). wallahua’lam.[]

Comment

Rekomendasi Berita