by

Deslina Zahra Nauli, S.Pi*: Tolak RUU HIP, Umat Butuh Haluan Hidup Yang Benar

-Opini-32 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Ibarat orang jatuh tertimpa tangga pula, begitulah gambaran kondisi umat saat ini. Di tengah pandemi, luka rakyat makin bertambah. Penguasa yang seharusnya optimal mengurus rakyat untuk mengatasi wabah justru membahas RUU yang tak penting. Sontak saja Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) menjadi sorotan publik yang banyak menuai kritik dan penolakan.

RUU HIP ini diprotes sejumlah elemen masyarakat dan tokoh agama, termasuk di Kota Cirebon. Sejumlah tokoh lintas agama, masyarakat, veteran, ormas dan OKP Kota Cirebon sepakat menandatangani Piagam Cirebon di Sekertariat Forum Lingkungan Hidup dan Budaya Cirebon (FLHBC) Jalan Alun-alun Timur Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon (radarcirebon.com, 16/06/2020).
Lantas apa isi RUU HIP yang memicu banyak penolakan keras dari masyarakat?

Terdapat beberapa isi RUU HIP yang kontroversi. Dalam Pasal 7 yang terdiri dari 3 ayat menyebutkan tentang konsep trisila, ekasila, dan Ketuhanan yang berkebudayaan. Dalam ayat 2 pasal itu menyebut ciri pokok Pancasila berupa trisila, yaitu sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi serta Ketuhanan yang berkebudayaan. Lalu dibutir selanjutnya disebutkan trisila dengan terkristaliasi dalam ekasila, yaitu gotong royong (radarcirebon.com, 22/06/20).

Nasionalisme bukanlah ide baru di negeri ini. Ajaran sosio-nasionalisme mulai muncul tahun 1930-an, dipelopori oleh Ir.Soekarno. Bung Karno banyak mempelajari ajaran nasionalisme yang saat itu banyak berkembang di Tiongkok dan India. Pemikiran ini berasal dari nasionalis progressif dataran Tiongkok, Sun Yat Sen. Ajarannya sangat terkenal: San-min Chu-i (tiga prinsip Rakyat), yaitu nasionalisme, demokrasi dan sosialisme.

Menurut Bung Karno, sosio-nasionalisme adalah nasionalisme kaum marhaen. Dengan demikian, sosio-nasionalisme menentang borjuisme dan keningratan. Inilah tipe nasionalisme yang menghendaki “masyarakat tanpa kelas”. Sebagai konsekuensinya, sosio-nasionalisme menganggap kemerdekaan nasional bukan sebagai tujuan akhir. Bung Karno berulang kali menyatakan kemerdekaan hanya sebagai “jembatan emas” menuju cita-cita yang lebih tinggi.

Beliau juga menegaskan bahwa tujuan pergerakan nasional kita mestilah mengarah pada pencapaian masyarakat adil dan sempurna, yang di dalamnya tidak ada lagi penghisapan. Berarti, tidak boleh ada imperialisme dan kapitalisme. Supaya kemerdekaan politik itu tidak disabotase oleh imperialisme, ataupun oleh kaum borjuis dan feodal di dalam negeri, maka kekuasaan politik Indonesia pasca merdeka haruslah dipegang oleh kaum marhaen atau massa-rakyat Indonesia. Inilah esensi dari sosio-demokrasi (berdikarionline.com, 13/10/12).

Berikutnya mengenai ide ketuhanan yang berkebudayaan. Ide ini pun ternyata berasal dari pemikiran Soekarno. Dalam pidatonya pada 1 Juni 1945, beliau menyatakan ketuhanan berkebudayaan artinya kehidupan spiritual yang berkembang maju seirama dengan perkembangan kebudayaan. Setiap pemeluk agama dapat memperjuangkan aspirasi keagamaannya, tapi dengan cara berbudaya, yakni dengan cara permufakatan melalui badan perwakilan.

Pengamalan prinsip negara berketuhanan dan ketuhanan berkebudayaan, tentu hanya bisa terwujud jika sungguh-sungguh mengamalkan sila-sila lain dari Pancasila (gmnifisipui.weebly.com).

Nampak jelas bahwa isi RUU diilhami oleh pemikiran lama yang tak kunjung membawa perbaikan bagi negeri ini. Haluan pemikiran sosialis komunis yang berlindung atas nama Pancasila. Di tengah penerapan sistem kapitalis-sekuler yang terus menyengsarakan rakyat, apakah ide merubah haluan yang cenderung ke arah sosialis-marhaen ini menjadi solusi?

Sejarah membuktikan tumbangnya Uni Soviet sebagai adidaya sosialis komunis adalah bukti nyata kegagalan sitem ini. Sistem yang bersumber dari akal manusia tak akan mampu mengatur kehidupan manusia.

Islam, Haluan Hidup Yang Benar

Kini umat membutuhkan haluan hidup yang benar. Pedoman hidup dapat yang menuntut manusia dalam berpikir dan berperilaku. Pedoman yang akan membawa pada kebaikan hidup baik di dunia maupun akhirat. Tiada lain yaitu Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Kucukupkan Nikmat-Ku bagi kalian, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama kalian.” (al-Maidah: 3)

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah nikmat Allah terbesar bagi umat ini. Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak butuh kepada agama dan Nabi lain. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada jin dan manusia. Tiada yang halal kecuali apa yang ia halalkan, tiada yang haram kecuali yang ia haramkan dan tiada agama kecuali yang ia syariatkan. Segala sesuatu yang ia kabarkan adalah benar, jujur tiada kedustaan dan tiada penyelewengan padanya…”

Dengan kesempurnaannya, Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Meliputi aqidah, ibadah, makanan, pakaian, akhlak, muamalah (ekonomi, pendidikan, pemerintahan, sosial pergaulan) dan uqubat (sanksi). Islam pun memiliki jaminan penjagaan harta dan nyawa pada non muslim jika nanti diterapkan secara sempurna oleh negara. Sistem ini telah terbukti kejayaannya selama 13 abad. Sejak Rasulullah menerapkan Islam sebagai haluan hidup secara kafah di Madinah hingga kekhilafahan terakhir Turki Utsmani. Saatnya umat memperjuangkan haluan hidup yang benar. Haluan hidup dari Sang Pencipta dengan menerapkan Islam secara kafah dalam naungan Khilafah. [Wallahu a’lam]

*Pemerhati Sosial, Member Akademi Menulis Kreatif

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − two =

Rekomendasi Berita