![]() |
| Dhelta Wilis, S.ST |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]
Begitulah Rasullullah Shalallahu alaihi wassalam mengajarkan tentang berkasih sayang terhadap sesama muslim. Tak pandang dari mana asal sukunya, ras, warna kulit, dan negaranya. Selama memeluk Islam maka hadist tersebut diatas berlaku.
Kisah kaum Muhajirin dan Anshor menjadi bukti ukhuwah. Muhajirin adalah orang-orang Mekkah yang berhijrah ke Madinah. Mereka tidak banyak membawa harta benda bahkan ada yang membawa diri dan yang melekat dibadannya saja.
Anshor menerima dengan lapang dada. Tidak membiarkan Muhajirin kesusahan saat berada di Madinah. Begitulah ukhuwah.
Pada Masa Kekhalifahan Ustmani juga yang mengajari Kesultanan Aceh bagaimana cara membuat meriam, yang pada akhirnya banyak diproduksi. Saat itu Indonesia sedang dijajah oleh portugis. Hal ini dilakukan atas dasar ukhuwah padahal saat itu Indonesia belum termasuk wilayah Daulah Islam.
Kondisi kaum muslimin diberbagai belahan dunia saat ini berbeda, beberapa saat yang lalu terekam jelas baik di media online, cetak, maupun elektronik bagaimana mesranya hubungan Arab Saudi dengan Cina. Tapi sebaliknya begitu arogannya Arab saudi dengan saudara seakidahnya yaitu Muslim Uighur.
Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman mendukung pembangunan kamp konsentrasi untuk Muslim Uighur. Dia mengatakan bahwa tindakan Cina itu dapat dibenarkan.
“Cina memiliki hak untuk melakukan pekerjaan anti-terorisme dan ekstremisme untuk keamanan nasionalnya,” kata Bin Salman, yang telah berada di China menandatangani banyak kesepakatan dagang pada Jumat (22/02/2019) dilansir dari m.kiblat.net.
Uighur hanyalah kelompok kecil yang ingin mempraktikkan Islam dan tinggal di Cina Barat dan sebagian Asia Tengah. Tetapi tuduhan sebagai kelompok ekstrimis melekat dalam diri muslim Uighur sehingga keberadaan mereka kini diawasi ketat oleh Cina.
Kondisi ini tentu dilatarbelakangi oleh kebencian terhadap Islam. Secara sepihak, menganggap Islam adalah biang dari gerakan ekstrimis yang harus diberantas.
Parahnya, Arab Saudi yang notabenenya menjadi kiblat Kaum Muslimin secara halus mendukung gerakan tersebut. Berdiam diri saat jutaan muslim Uighur dicuci otaknya dan disiksa hanya karena pandangan sepihak pemerintahan Cina.
Hadist yang tersebut di atas sudah tidak berlaku lagi karena sekat-sekat nasionalisme. Menganggap bukan wilayah negaranya, maka dengan mudah Arab Saudi mengatakan bahwa tindakan tersebut adalah hak untuk mempertahankan wilayah negara Cina.
Dukungan Arab saudi tersebut ternyata diiringi dengan eratnya hubungan kerjasama dengan Cina. Arab Saudi sepakat untuk memasukkan bahasa Mandarin ke dalam kurikulum pendidikan dari tingkat sekolah sampai universitas. Hal ini terlihat ada kepentingan dibalik diamnya Arab Saudi terhadap kondisi Muslim Uighur.
Begitulah Ukhuwah jika tidak dilandasi dengan Akidah. Tersekat dengan batas-batas wilayah bahkan terpisah karena adanya kepentingan. Sehingga munculah batas-batas rasa persaudaraan diantara kaum muslimin.
Islam mengajarkan persatuan dan ukhuwah yang dinaungi dalam sistem kenegaraan. Dari berbagai fakta diskriminasi terhadap kaum muslim inilah yang menguatkan bahwa hanya ada satu solusi untuk membebaskan kaum muslimin dari penindasan yaitu dengan diterapkannya Islam dalam institusi negara. Yaitu kepemimpinan yang akan menjaga, melindungi, dan memelihara urusan umat.
Islam tidak memandang sekat-sekat negara sehingga Ukhuwah akan bisa terwujud tanpa ada batasan-batasan.
Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman :
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya agar kamu mendapat petunjuk” (Q.S. Ali Imron ayat 103). Waallohu a’lam bishowab.[]
Penulis adalah Islamic Social Worker















Comment