Di Tengah Keramaian Digital, Mengapa Manusia Modern Makin Kesepian?

Opini166 Views

 

Penulis: Eva Arlini, S.E | Pemerhati Masyarakat

 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Kita hidup pada zaman ketika manusia nyaris tidak pernah benar-benar sendiri secara digital. Grup WhatsApp ramai, Instagram dipenuhi aktivitas, dan TikTok terus menyajikan wajah-wajah baru. Kita dapat mengetahui apa yang dilakukan orang lain hanya dalam hitungan detik.

Namun, di tengah koneksi yang semakin padat itu, kesepian justru menjadi pengalaman banyak orang. Ada yang tampak bahagia di depan kamera, tetapi menyimpan kesedihan ketika sendirian.

Ada yang terlihat sukses, tetapi merasa hidupnya kehilangan makna. Ada pula yang dikelilingi banyak teman, tetapi tidak memiliki seseorang yang benar-benar menjadi tempat bercerita.

Fenomena itu kembali menjadi perhatian publik pada September 2026. Sejumlah pemberitaan menyoroti kasus dugaan percobaan bunuh diri yang melibatkan mahasiswa Universitas Brawijaya serta kematian seorang pria di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat.

Laman Okezone 10 September 2026 memberitakan seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas berinisial RR mengalami insiden di gedung kampus dan kemudian mendapat perawatan.

Sementara itu, detiknews pada 9 September 2026 melaporkan seorang pria ditemukan meninggal di kawasan GBK setelah sebelumnya mengirim sinyal SOS kepada rekannya. Sejumlah media kemudian memberitakan adanya pesan perpisahan dan donasi yang ditinggalkan sebelum kematiannya.

tvOneNews pada 10 September 2026 melaporkan total donasi yang tercatat mencapai Rp40 juta dan disalurkan kepada sejumlah organisasi sosial, termasuk yang bergerak di bidang kesehatan mental. Kasus-kasus tersebut tidak semestinya dilihat sebagai persoalan individu semta.

Kementerian Kesehatan, seperti dijelaskan melalui laman Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, menyebut kesepian, tekanan hidup, kekerasan, gangguan jiwa, serta keterbatasan akses layanan kesehatan mental sebagai sejumlah faktor yang dapat berkaitan dengan munculnya krisis kesehatan jiwa.

Kemenkes juga menegaskan bahwa persoalan kesehatan jiwa dapat dicegah dan ditangani melalui pendekatan yang komprehensif.

Karena itu, persoalan kesehatan jiwa bukan sekadar soal seseorang kurang kuat atau kurang bersyukur. Ada persoalan yang lebih luas yakni bagaimana manusia menghadapi tekanan, bagaimana keluarga dan masyarakat memberikan dukungan, serta bagaimana negara menciptakan lingkungan yang memungkinkan manusia tumbuh secara sehat, baik secara fisik, sosial, mental, maupun spiritual.

Ketika Sukses Menjadi Ukuran Kehidupan

Sejak kecil, banyak anak didorong untuk menjadi yang terbaik – masuk sekolah terbaik, kuliah di kampus terbaik, mendapatkan pekerjaan terbaik, berpenghasilan tinggi, memiliki rumah dan kendaraan, meraih berbagai pencapaian, membangun personal branding, hingga mengumpulkan pengikut di media sosial.
Seolah-olah nilai seseorang ditentukan oleh seberapa tinggi ia menaiki tangga kehidupan.

Media sosial memperkuat kecenderungan tersebut. Kita kerap membandingkan kehidupan nyata dengan potongan kehidupan orang lain yang sudah dipilih untuk ditampilkan. Akibatnya, seseorang dapat merasa gagal hanya karena melihat keberhasilan orang lain.

Inilah salah satu wajah masyarakat yang semakin individualistik. Keberhasilan dan kegagalan sering dipandang sebagai urusan pribadi: berhasil karena kerja keras sendiri, gagal karena kurang berusaha, miskin karena kurang produktif, sedangkan ketika tertekan atau kesepian seseorang diminta mencari pertolongan sendiri.

Padahal, manusia bukan makhluk yang dirancang untuk hidup sendirian.
Di sinilah akidah memiliki ruang penting sebagai benteng kehidupan. Islam mengajarkan bahwa dunia bukan tujuan akhir. Manusia hidup untuk beribadah kepada Allah. Kehidupan memiliki tujuan, kesulitan memiliki makna, dan ujian bukan berarti Allah membenci seseorang.

Nilai manusia pun tidak ditentukan oleh kekayaan, jabatan, penampilan, jumlah pengikut, ataupun pencapaian duniawi.

Islam Tidak Membiarkan Manusia Sendirian

Islam tidak membangun kehidupan sosial dengan prinsip “urus saja dirimu sendiri. Di dalamnya terdapat kewajiban berbakti kepada orang tua, menjaga silaturahmi, memperhatikan tetangga, menolong sesama, serta memperkuat ukhuwah di antara umat Muslim.

Seseorang tidak semestinya dibiarkan menghadapi persoalannya sendirian. Keluarga menjadi tempat berlindung, lingkungan menjadi ruang untuk mendapatkan dukungan, sementara negara memiliki tanggung jawab lebih luas untuk memastikan kehidupan masyarakat terurus.

Di sinilah salah satu persoalan masyarakat modern terlihat: ikatan sosial dapat melemah ketika hubungan manusia semakin banyak berlangsung melalui layar.

Kita mungkin memiliki ribuan teman di media sosial, tetapi belum tentu memiliki seseorang yang datang ketika berada di titik terendah. Kita bisa mendapatkan ribuan tanda suka, tetapi belum tentu ada yang bertanya secara sungguh-sungguh, “Kamu sebenarnya baik-baik saja?”

Tidak Cukup Hanya Menangani Akibat

Persoalan kesehatan mental tidak cukup ditangani hanya dengan hotline, psikolog, atau layanan konseling. Semua itu penting, tetapi penanganan tidak berhenti pada saat seseorang berada dalam krisis.

Kementerian Kesehatan menyediakan Healing119 sebagai layanan dukungan psikologis awal bagi masyarakat yang mengalami tekanan psikologis, keputusasaan, pikiran untuk mengakhiri hidup, atau kondisi krisis. Layanan tersebut menyediakan dukungan emosional serta rujukan ke layanan profesional apabila diperlukan.

Namun, negara juga perlu melihat faktor yang membentuk kehidupan manusia sejak awal – bagaimana sistem pendidikan membentuk cara pandang generasi, bagaimana kebijakan ekonomi menjamin pemenuhan kebutuhan dasar, bagaimana keluarga diperkuat, bagaimana lingkungan sosial dibangun agar manusia tidak semakin terisolasi, serta bagaimana nilai agama memperoleh ruang dalam kehidupan masyarakat.

Jika negara hanya sibuk menangani manusia setelah mereka mengalami krisis, sementara berbagai faktor sosial yang dapat memperberat tekanan kehidupan tidak diperhatikan, penanganan berisiko berhenti pada gejala.

Islam menawarkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Bukan hanya berbicara tentang bagaimana individu menyelamatkan dirinya, tetapi juga mengatur keluarga, masyarakat, ekonomi, pendidikan, dan negara.

Tujuannya bukan semata-mata menciptakan manusia yang produktif, melainkan manusia yang memiliki akidah, memahami tujuan hidup, memiliki ikatan sosial, sekaligus terpenuhi kebutuhan dasarnya.

Dalam perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab riayah, yakni mengurus dan melindungi rakyat. Negara tidak semestinya hanya hadir setelah seseorang jatuh ke dalam krisis, tetapi juga berperan membangun kondisi kehidupan yang layak, aman, sehat, dan terjaga.

Sebab, di tengah dunia yang semakin terkoneksi secara digital, manusia tetap membutuhkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh jumlah pengikut, tanda suka, atau notifikasi: kehadiran manusia lain yang benar-benar peduli.

Mungkin, di situlah pertanyaan tentang kesepian manusia modern menemukan jawabannya: bukan pada seberapa banyak orang yang terhubung dengan kita, melainkan seberapa kuat ikatan yang membuat kita merasa tidak sendirian.[]

Comment