by

Dinar Khairunissa*: Banjir Bandang Sulawesi Tenggara Ulah Siapa?

Dinar Khairunissa
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam firmanNya Allah subhanahu wata’ala berfirman : 
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) [ar-Rûm/30:41]
Ya, sesungguhnya bencana alam adalah salah satu tanda kasih sayang Allah pada hambaNya yang senantiasa mau berpikir. Agar manusia dapat kembali ke jalan yang benar dengan peringatan yang telah Allah berikan. Namun apakah manusia dapat cepat mengambil pelajaran? 
Dalam ayat tersebut Allah kabarkan bahwa manusia akan terus berbuat kerusakan di muka bumi dengan tangan-tangannya. Dengan kemaksiatan yang terus dilakukan. Seperti bencana yang silih berganti muncul di Indonesia ini. 
Baru-baru ini terjadi banjir besar di Konawe Utara (Konut) hingga menenggelamkan rumah-rumah warga. Banjir bandang ini pun menyebabkan kelumpuhan aktivitas warga yang tentunya membawa kerugian yang tidak sedikit. 
Sebelumnya, akibat banjir bandang yang terjadi di Konut mengakibatkan akses transportasi di delapan titik wilayah Kecamatan Langgikima, Oheo dan Asera lumpuh total, hingga membuat ribuan masyarakat di 5 kecamatan, Asera, Oheo, Landawe, Langgikima dan Wiwirano terisolasi. Untuk menyelamatkan diri dari serangan banjir, warga mengungusi di area pegunungan. 
Mengulas Penyebab Banjir Bandang
Dikutip dari Kendaripos.co.id, aktivitas pertambangan yang masif di Konut merupakan penyebab utama banjir bandang ini bisa terjadi. Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Tenggara (Sultra), Lukman Abunawas menyebut kegiatan pertambangan dan kerusakan lingkungan menjadi penyebab banjir bandang yang melumpuhkan kabupten Konawe Utara (Konut). Menurutnya, sejak menjadi daerah otonomi baru (DOB), banjir yang terjadi kali ini merupakan banjir terparah yang meluas hingga 6 kecamatan.
“Ini memang karena di sana banyak aktivitas penambangan dan juga karena lingkungan hidup yang sudah tidak tertata dengan baik. Sehingga itu menjadi salah satu penyebab banjir di sana,” kata Lukman, Selasa (11/6/2019).
Kurangnya daerah resapan air di tengah gempuran aktivitas tambang yang merusak lingkungan, menjadi salah satu faktor penyebabnya. Terlebih di Konut, banyak drainase yang kurang tertata dengan baik. “Apalagi ketika hujan lebat dan berkepanjangan banjir lebih mudah terjadi, karena air tidak mengalir dengan lancar. Harusnya tiap daerah itu punya tempat resapan airnya,” ujarnya.
Dengan asumsi hujan selalu menurunkan air bukan banjir, fokus masyarakat kini tertuju kepada apa yang menyebabkan banjir dahsyat itu tiba-tiba datang.
Dari Liputan6.com, Sejak 2001 sampai 2017 tercatat Konawe kehilangan 45.600 hektare tutupan pohon. Tak hanya itu, Konawe juga memiliki Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berstatus krisis.
Jika kawasan hutan sudah berubah fungsi tentu dampak lingkungan akan terjadi, dan ujungnya pasti akan menimbulkan bencana alam, yaitu banjir.
Dari sini muncul permasalahan turunan, yang secara umum menunjukan bahwa seharusmya izin dari 80 perusahaan pertambangan ini dicabut. 
Dan penyebab utama yang paling besar selain dari penyebab teknis diatas adalah keserakahan para pengusaha yang berkorporasi dengan penguasa. Dimana mereka dapat semena-mena membuat perusahaan tambang ini berdiri tanpa memikirkan dan mencarikan solusi bagi efek samping yang akan ditimbulkan pada lingkungan.
Seperti dalam film dokumenter Sexy Killer yang viral hingga menjadi trending urutan pertama di Youtube sebelum perhelatan Pemilu Presiden 2019 lalu, mengungkap bahwa aktivitas pertambangan di Indonesia sudah masuk ke tahap kritis, dimana masyarakat dan lingkungan pada faktanya telah menjadi tumbal yang terus menerus dikorbankan hanya demi pengembangan industri dan keuntungan besar bagi korporasi.
Bagaimana Islam Mengatur Pengelolaan SDA?
Islam diturunkan ke muka bumi tentu tidak hanya sebagai agama ritual dan moral belaka. Islam juga merupakan sistem kehidupan yang mampu memecahkan seluruh problem didalamnya, termasuk dalam pengelolaan kekayaan alam.
Allah SWT berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Kami telah menurunkan kepada kamu (Muhammad) al-Quran sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (TQS an-Nahl [16]: 89).
Menurut aturan Islam, kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum. Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara. Hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Sebaliknya, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing.
Di antara pedoman dalam pengelolaan kepemilikan umum antara lain merujuk pada sabda Rasulullah saw.:
الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ
Kaum Muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api (HR Ibnu Majah).
Rasul saw. juga bersabda:
ثَلَاثٌ لَا يُمْنَعْنَ الْمَاءُ وَالْكَلَأُ وَالنَّارُ
Tiga hal yang tak boleh dimonopoli: air, rumput dan api (HR Ibnu Majah).
Terkait kepemilikan umum, Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan hadis dari penuturan Abyadh bin Hammal. Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Abyad pernah meminta kepada Rasul saw. untuk dapat mengelola  sebuah tambang garam. Rasul saw. lalu meluluskan permintaan itu. Namun, beliau segera diingatkan oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, tahukah Anda, apa yang telah Anda berikan kepada dia? Sungguh Anda telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (mâu al-iddu).” Rasul saw. kemudian bersabda, “Ambil kembali tambang tersebut dari dia.” (HR at-Tirmidzi).
Tentu yang menjadi fokus dalam hadis tersebut  bukan “garam”, melainkan tambangnya. Dimana garam yang dihasilkan berlimpah sebagaimana air yang mengalir dan tidak berhenti. Dengan keberlimpahan ini, Rasulullah menarik kembali keputusannya dan mengelola tambang tersebut untuk kemaslahatan ummat saja. 
Alhasil, menurut  aturan Islam, tambang yang jumlahnya sangat besar  baik  garam maupun selain garam seperti batubara, emas, perak, besi, tembaga, timah, minyak bumi, gas dan sebagainya, semuanya adalah tambang yang terkategori milik umum dan wajib dikelola oleh negara.
Indahnya aturan Allah subhanahu wata’ala, yang dengannya Allah Maha Mengetahui yang mana akan menimbulkan kerusakan dan mana yang tidak. Kita sebagai manusia, hendaknya menjadikan aturan Allah sebagai satu-satunya acuan dalam menjalani dan mengatur kehidupan. Karena dengan aturan Allah lah keberkahan dari langit dan bumi akan senantiasa tercurah dengan kehendakNya. Wallohualam bishowab.[]
**Komunitas menulis Muslimh Penulis Ideologis

_____________________________________________________________________
Footnote :
https://almanhaj.or.id/3455-berbuat-kerusakan-di-muka-bumi.html
https://mediaumat.news/buletin-kaffah-islam-mengatur-pengelolaan-sumberdaya-alam/

Comment

Rekomendasi Berita