by

Diskusi Pancasila Sukarno Way dan Halal Bihalal

Pancasila Sukarno Way diselingi Halal Bi Halal Persaudaraan Sukarno di Yayasan Bung Karn.[Nicholas]

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Revrisond Baswir MBA, Dosen UGM menyatakan bahwa sistem ekonomi Indonesia berdasarkan asas kekeluargaan, Koperasi. Ditambahkannya, sistem ekonomi Indonesia paling tepat hingga disebarluaskan pengaruhnya. Demikian ucapnya saat menjadi narasumber diskusi Pancasila Sukarno Way diselingi Halal Bi Halal Persaudaraan Sukarno di Yayasan Bung Karno Gedung Pola, Jakarta Pusat, Senin (24/7/2017).

Selain Revrisond Baswir, Dosen UGM yang merupakan pendiri Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), hadir Dr. Imam Mukhlis, SE., M.Si, Dosen UNM, Peneliti Senior, Anggota Litbang YBK, dengan moderator diskusi Dr. Timbul Hamonangan S, SE., MA, Peneliti Senior Pascasarjana Universitas Maranatha Bandung, Koordinator Litbang YBK.

Sistem ekonomi kekeluargaan, ujar Revrisond lebih penting dibanding sosialisme, soalnya sistem Ekonomi Sosialisme itu dasarnya materi di mana materi itu dibagi maka itulah nilainya secara kumulatif berkurang atau habis. “Kampus kampus sekarang menjadi pusat agen kapitalis. Bung Karno selaku tokoh Proklamator, Pahlawan Nasional, bahkan Guru Bangsa, sempat lakukan nasionalisasi, selanjutnya ‘ngemplang’ pengaruh kolonial,” imbuhnya.

“Semua kegiatan ekonomi harus untuk mewujudkan keadilan sosial dan  pasal 33 wajib dilaksanakan. Kesabaran Revolusioner diperlukan, artinya harus bekerja sungguh sungguh dengan komitmen tinggi, namun tidak kemrusung (tergesa), cerdas, berorientasi dan berjangka panjang,” jelasnya.

Disamping itu, Imam Mukhlis menjelaskan, membangun ekonomi mestinya dibarengi kearifan lokal. Kearifan lokal, gotong royong, dan persaudaraan. Pembangunan ekonomi berbasis kearifan lokal daripada memaksakan diri menggunakan ekonomi berbasis kearifan global.

“Indonesia dengan segenap ragam budaya dan entitas kesukuan tersebar secara geografis pada belahan bumi nusantara memiliki kearifan lokal beraneka ragam,” jelasnya.

“Kearifan lokal tersebut merupakan salah satu khasanah yang memiliki potensi kuat untuk menjadi modal dasar utama dalam pembangunan nasional di berbagai daerah,” katanya.

Secara Geopolitik Internasional, Mukhlis menambahkan, Indonesia yang letak geografisnya menarik, digunakan negara maju dan perkembangan politik ‘stagnan’.

Bahkan, Globalisasi ekonomi kemukanya, tak kan menambah rakyat menjadi sejahtera, malah akan menimbulkan kekecawaan, baik kemiskinan, pengangguran, ketidakpastian hidup, dan kerusakan.“Ekonomi rakyat Indonesia bisa sejahtera apabila bangsa ini kembali berdasar pada azas kekeluargaan gotong royong,” paparnya.

Membangun ekonomi, harapnya, tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD45. “Keadilan sosial, dibangun sesuai ranah yang akan dibangun. Seperti kata kata Soekarno, sosialisme ada unsur keduanya, seperti unsur sosial, persaudaraan, dan gotong royong,” tandasnya.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 5 =

Rekomendasi Berita