Dunia Sepak Bola Kembali Menelan Korban Nyawa

Opini2647 Views

 

 

Oleh: Waryati, Pemerhati Kebijakan Publik

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pertandingan Arema VS Persebaya Surabaya di Kanjuruhan, Malang Sabtu (1/10/2022) silam menyisakan duka mendalam. Baik bagi keluarga korban yang ditinggalkan maupun bagi dunia sepak bola di Indonesia.

Sedikitnya dilaporkan korban meninggal 125 orang dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.

Kejadian bermula saat pertandingan usai dan suporter Arema FC merangsek masuk ke lapangan karena dipicu kekalahan 3-2 atas Persebaya. Polisi pun mengambil tindakan pencegahan. Namun kondisi semakin tidak terkendali hingga terjadi kerusuhan yang menelan banyak korban.

Inisiden tersebut bukan kali pertama terjadi dalam pertandingan sepak bola yang mengakibatkan hilangnya nyawa. Namun, peristiwa Kanjutuhan ini tercatat menelan korban paling banyak sepanjang sejarah sepak bola di Indonesia. Sehingga banyak kalangan mempertanyakan sejauh mana sistem keamanan sebagai langkah antisipasi dari pihak terkait baik panitia maupun kepolisian untuk mengamankan sebuah pertandingan yang digelar.

Kejadian serupa juga dialami dunia sepak bola luar negeri. Di Kamerun, dilaporkan delapan orang tewas dan puluhan lainnya cedera pada Piala Afrika melawan Komoro (Januari/ 2022). Mesir, 73 orang meninggal dan lebih dari 1.000 terluka (Februari/2012). Pantai Gading, 19 orang tewas di Piala Dunia melawan Malawi (Maret/2019).

Masih banyak lagi negara yang mengalami kejadian nahas dalam pertandingan sepak bola. Di antaranya, Guatemala, Perancis, Afrika Selatan, Inggris, Nepal, Belgia, dan Rusia mendapat peringkat teratas dengan kematian paling banyak, ditaksir mencapai 340 orang meskipun pejabat setempat menutupi dan hanya menyampaikan 66 kematian resmi. (Kompas.com, 2/10/2022).

Kerusuhan yang terjadi di setiap perhelatan sepak bola adalah potret buruk yang diakibatkan dari fanatisme golongan. Ditambah tidak adanya kedewasaan dari para suporter menyikapi kekalahan dari klub yang dijagokan. Hingga memicu emosi serta mengakibatkan kerusuhan tak terelakkan.

Di sisi lain, mekanisme penyelenggaraan pertandingan,  kordinasi dan pengamanan yang tidak maksimal dalam menjaga, mengontrol dan mengantisipasi terjadinya kerusuhan menjadi sebab berulangnya kejadian serupa.

Banyak pihak menyayangkan mengapa harus terjadi hal yang tentunya mencoreng dunia sepak bola serta lembaga kepolisian, karena dianggap tak mampu mencegah kerusuhan hingga jatuhnya korban nyawa.

Publik menyayangkan sikap aparat  menggunakan gas air mata yang dilarang oleh FIFA dalam upaya mengendalikan kondisi rusuh sebuah penyelenggara pertandingan sepak bola.

Selain hal teknis harus diperhatikan demi menjaga keamanan serta nyawa, membangun karakter suporter agar memiliki sifat legowo juga sangat perlu dilakukan. Sejatinya menang dan kalah dalam sebuah pertandingan adalah hal biasa. Sehingga ketika klub yang menjadi jagoan daerah masing-masing kalah dapat diterima dengan baik tanpa harus saling menyerang.

Tragedi tak mungkin terjadi saat fanatisme sebisa mungkin dikikis. Bermain bola dianggap permainan saja, tanpa harus mengelu-elukan daerah. Ketika main di kandang tak mewajibkan untuk menang. Sikap aparat pun dituntut untuk tanggap, cepat dan tepat dalam menangani persoalan.

Semoga ke depan hal serupa tak berulang kembali dan semua pihak dapat memperbaiki semua kesalahan agar nyawa tak melayang dengan sia-sia. Wallahu a’lam bissawwab.[SP]

Comment